gas ditekan dalam-dalam, mesin meraung, dan Elbert melesat. di depannya, mobil sang penculik juga tak kalah cepat. kejar-kejaran tak terhindarkan, sepasang lampu depan menembus kegelapan malam.
mobil Elbert dipaksa melambat, beradaptasi dengan belokan-belokan tajam. kegelapan semakin pekat, penerangan di jalan menghilang seiring waktu.
mobilnya nyaris berdekatan dengan mobil si penculik. sedikit lagi. namun, semuanya buyar ketika mobil penculik itu tiba-tiba membanting setir dan berbelok tajam ke gang kecil. Elbert, yang terlanjur lurus, menginjak pedal rem sekuat tenaga. ban mobil berdecit, menghasilkan aroma karet terbakar yang menusuk hidung.
ia keluar dari mobil. pintu dibanting kasar. "sialan!" teriaknya, meraup wajah dengan frustrasi.
ia terdiam sejenak, lalu meraih ponsel. satu notifikasi muncul. ia membukanya, dan seulas senyum puas terukir di wajahnya. cepat-cepat ia masuk kembali dan melesat pergi.
di sebuah rumah tua yang sunyi, Zidan terbangun. debu dan sarang laba-laba memenuhi ruangan. bau tidak sedap memenuhi ruangan, ia melihat sekeliling. di depannya berdiri seorang wanita berbalut pakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajah aslinya, ditemani dua bodyguard berbadan tegap.
"heh... akhirnya kamu bangun juga." suara wanita itu terdengar dingin dan tanpa emosi.
"siapa kamu?! apa maumu?!" Zidan berteriak lantang, mencoba menutupi rasa takutnya. 'untung dulu sering nonton film action, jadi lumayan tau triknya..' pikirnya sambil menyeringai dalam hati.
Zidan mengamati keadaan. 'akhirnya ngerasain diculik, hahaha! waktunya jadi sedikit jahat' pikirnya, merasakan adrenalinnya memompa jantungnya lebih cepat.
wanita itu memberi isyarat kepada para bodyguard untuk keluar. "kamu nggak perlu tahu aku siapa. aku nggak akan basa-basi," katanya, menjeda sejenak, lalu menunjuk Zidan. "kamu menjauhlah dari Elbert."
"kalau aku tidak mau?" tantang Zidan.
"aku tinggal membunuhmu saja," jawab wanita itu santai, seolah nyawa seseorang tidak berarti apa-apa.
"yakin kamu bisa?" cibir Zidan.
wanita itu murka. "sialan! sudah kuberi kesempatan hidup, tapi kamu malah gak mau!" ia berbalik, hendak mengambil tongkat bisbol yang tersandar di dekat pintu.
namun, saat wanita itu membelakangi, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lehernya. sebuah pisau kecil mengarah tajam ke lehernya.
"hei, siapa bilang aku minta belas kasihan darimu?" bisik Zidan, menekan sedikit ujung pisau.
"sialan! kalian masuk sekarang juga!" teriak wanita itu panik.
para bodyguard yang mendengar teriakan dari luar segera menerjang pintu. pintu terkunci, mereka terpaksa mendobraknya. suara dentuman keras memecah keheningan, membuat debu berjatuhan dari langit-langit.
Zidan, yang awalnya senang, kini merasa bosan. "cih... nggak asik..." ia memutar bola mata. "hmm, sepertinya lebih baik kamu pingsan saja."
buk!
ia memukul kepala wanita itu dengan gagang pisau. benturan keras membuat wanita itu langsung terkulai pingsan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERAN
Roman pour AdolescentsDALAM TAHAP REVISI bab yang sudah di revisi: ✔️ Andrea Zidan Prasmana, seorang remaja SMA yang hidupnya berubah drastis setelah membaca sebuah novel. Novel berjudul With My Star Sela itu membuatnya kesal karena tokoh antagonisnya memiliki nama yang...
