12. Jeritan yang tidak berguna

1.6K 68 6
                                        

Rembowruby

— Don't copy paste anything from here—

kiss from here untuk 3800 kata 😚🔥

"diambang keputusasaan mencari hal-hal manis yang menjadi sumber penyesalan"

***

Ponsel di tangan Kaisar terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai. Suara itu seperti tenggelam di tengah kepanikannya setelah mendengar kabar dari seberang telepon.

"Tidak mungkin..." bisiknya nyaris tak terdengar.

Tanpa berpikir panjang, Kaisar segera berlari keluar dari kamar rawat inap Fiera, meninggalkan suasana yang penuh tanda tanya. Fiera yang kini sudah sadar kemudian Bahar, dan Siska hanya bisa saling pandang, tak mampu menahan kepergian Kaisar yang begitu mendadak dan penuh kegelisahan.

Di koridor rumah sakit, tubuh Kaisar nyaris bertabrakan dengan sebuah brankar yang didorong terburu-buru.

"Lebih cepat! Kita hampir kehilangan dia!" seru seorang dokter sambil terus menekan perut seorang perempuan di atas brankar yang berlumuran darah.

"Napasnya semakin lemah! Ayo cepat!" tambahnya, nadanya penuh ketegangan.

"Vici... kumohon bertahanlah!" suara Fara terdengar memelas, ia berlari di sisi brankar, menggenggam tangan Vici yang terkulai.

"Hati-hati, bodoh! Jangan halangi jalan kami!" bentak Jagar kasar kepada seseorang yang menghalangi koridor.

Kaisar terpaku sejenak, tetapi segera tersadar dan ikut membantu mendorong brankar itu. Matanya tak bisa lepas dari sosok Vici yang tergeletak tak berdaya. Wajahnya pucat pasi, pakaiannya basah oleh darah. Melihat kondisi Vici, dada Kaisar serasa dihantam keras. Tangannya mencengkeram kuat pinggiran brankar, menahan gemetar yang mulai menjalar hingga bahunya.

"Kenapa... kenapa aku tak bisa melindunginya?" gumam Kaisar penuh penyesalan, nyaris tanpa suara.

Saat Vici akhirnya dibawa masuk ke ruang operasi, Kaisar berdiri mematung di depan pintu. Kepalanya tertunduk, pandangannya kosong. Seluruh tubuhnya terasa berat, seakan beban dunia menekan pundaknya.

Buk!

Buk!

Buk!

Tinju Kaisar menghantam dinding berkali-kali, suaranya menggema di lorong yang lengang. Kulit di buku jarinya mulai memerah, beberapa bahkan mengeluarkan darah, tapi itu tak sebanding dengan rasa sakit yang menghantam hatinya. Pikirannya terus dipenuhi bayangan Vici yang terbaring tak berdaya di atas brankar, wajahnya pucat dan penuh luka. Kaisar mengerang pelan, amarah dan penyesalan berbaur dalam dadanya.

"Kenapa aku selalu gagal?" gumamnya pelan, tapi terdengar penuh rasa perih.

Dia menunduk, menempelkan dahinya pada dinding dingin. Tubuhnya berguncang, bukan karena lelah, tetapi karena gemuruh emosi yang tak bisa dia kendalikan.

"Harusnya aku melindungi... bukan malah menyakiti," ucapnya dengan suara serak, seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Maaf, Vici... maaf..."

Di sudut lain lorong, Fara yang sedari tadi berdiri memperhatikan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak berkata apa-apa, hanya menatap Kaisar dengan sorot mata yang tak bisa disembunyikan—benci sekali. menangis seperti orang gila, berlagak seperti takut kehilangan, seoalah-olah menyesal. Bisaka Fara meludah saat ini? kaisar terlihat sangat menjijikan, muak sekali Fara melihatnya.

Don't Say [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang