38. Tangisan Hiara

421 25 3
                                        

rembowruby

—don't copy paste anything from here —

kencengin vote & like dong ya

tembus 3800 kata 💋

Apakah kalian rindu? tapi part ini agak-agak ya...so jangan terlalu bersedih hati

saranku sebelum baca ini putar memangnya deh playlist andalan :)

Aku ya playlist moon lovers 😖😖

***

Hanya 9 hari.

9 hari yang Hiara gunakan untuk menghabiskan waktu dengan kakek. Hingga embusan nafas terakhir, hiara memandang orang-orang yang kini meletakkan jenazah kakeknya di ruang tengah rumah Sadam.

Duduk memeluk lututnya sambil menatap jenazah yang telah terbungkus kain kafan itu, di tengah-tengah lautan manusia, yang silih berganti datang melihat dan membacakan doa.

Wanita itu bersetelan hitam, dengan jepitan pita putih yang menempel di rambutnya. Terlihat matanya yang sembab begitu pula dengan bibirnya yang kian memucat. Matanya bergerak pelan melihat sosok yang baru duduk berlutut di hadapannya.

Sadam. Pria berkemeja hitam itu tengah berlutut di hadapan hiara, tangannya bergerak mengelus kepala, menatap wanita itu kemudian tangannya turun mengelus pipi. Begitu lama Sadam terlarut-larut menatap wajah Hiara, tenggelam dalam kebungkaman. Hingga ia akhirnya berdiri, menjauh meninggalkan Hiara, yang masih tetap pada posisi semula.

Marka sudah hadir sedari tadi, pria yang hendak memiliki dua anak itu memeluk Hiara seerat mungkin. Banyak berceloteh, menyemangati Hiara namun, sang sahabat sama sekali tidak menanggapi. Tatapan itu masih saja kosong.

Zian yang datang dengan karangan bunganya, yang membuat Hiara menatap karangan bunga itu lamat-lamat. Banyak sekali karangan bunga dari luar, begitu banyak. Rasa sesak sedari tadi memenuhi dada hiara kian bertambah.

air matanya jatuh dan ia segera menghapusnya. 

Alasan ia tidak menyukai warna biru adalah karena Asara. Hiara benci miliknya direbut.

Sekarang ia tidak suka bunga, bunga itu merayakan duka Hiara. Alasan apapun itu, arti bunga dan enyalah... Hiara harap bunga-bunga itu segerah menghilang dari pandangannya.

Tuhan telah mengambil kakeknya. Pandangan tertutup ketika matanya memejam, bising ia dengar, mulai dari bisik-bisik, tangisan, dan celotehan mereka hingga mendengar suara tawa yang samar. 

Lalu saat matanya terbuka, Hiara di tampar kenyataan lagi. Matanya langsung melihat jenazah kakek yang sebentar lagi akan dikuburkan.

Seseorang duduk di samping Hiara, memberikan satu buah permen berbungkus pink. Karena Hiara tidak kunjung menerimanya, sang pemberi menarik telapak tangan hiara dan membuka telapak tangan itu.

Tunggala ialah si pemberi, tidak langsung beranjak dan memilih bertahan duduk disana namun tidak mengeluarkan suara. Lalu Hiara  mengangkat satu tangannya yang memegang permen, melihat permen yang ada di telapak tangan.

"Istilah pria akan diambil ani-ani dan tuhan itu ternyata benar... Satunya diambil ani-ani dan satunya lagi diambil tuhan" Gumam hiara.

Tunggala menoleh pada wanita yang masih memeluk lututnya.

"Kehidupan apa yang kau inginkan?" Tanya Tunggala.

Hiara sontak menatap Tunggala, beberapa detik kemudian ia kembali memejam. Mencoba mencerna perkataan Pria berkacamata itu.

Don't Say [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang