26. permain Vici

330 24 0
                                        

Rembowruby

— don't copy paste anything from here —

massage here honey 💋💌

ciuman untuk 3000 kata 💋

malam-malam begini memang enaknya ketemu Vici dan Kaisar sih.. apalagi kalo ribut, Vici suka ngereog soalnya. Sabarnya kaisar ada batasan tidak ya?

Sayang kalian biasa loh komen di setiap paragraf atau paragraf favorite yang emang butuh bangat komenan dari kalian.

Lapak aku tuh butuh bangat komen, kasian loh mereka. kelaparan 😔

ayo isi beri makan chapter ini, sekalian deh ego vici di kasi makan juga 😵

sudah ya. Mari ketemu Ratu drama🙉

***

Kaisar baru saja tiba di Galeri Tayaska, tempat yang terkenal akan karya seni kontemporer yang mewah dan bernilai tinggi. Dia datang dengan tujuan sederhana, yaitu mencari vici. Ia tau kekasihnya itu pasti akan hadir disini mengingat setiap event tahunan Tayaska tidak pernah ia tinggalkan. Meski tempat ini sangat buruk, bukan pda karya seni namu pada jenis orang yang menampakkan kaki disini.Niatnya untuk mencari vici tertunda, langkahnya terhenti ketika Silanta Barata, pemilik utama Galeri Tayaska menyambutnya dengan penuh antusiasme.

Sebagai salah satu investor di Galeri Tayaska, Kaisar memang mendapat perhatian khusus. Silanta, seperti biasa menyambut kedatangan kaisar dengan senang hati, langsung mengajaknya berbincang. Percakapan ini tak bisa ia hindari, karena selain hubungan bisnis, ia menghormati Silanta. Mengingat pria tua itu sudah menggeluti seni dalam jangka yang panjang. Tentu dedikasinya baik sekali.

“Kaisar, selamat datang. Rasanya selalu tersanjung setiap kali pebisnis muda sepertimu berkunjung ke pameran kami. Mari ku perkenalkan salah satu hal terbaik yang kami tunjukkan hari ini,  Kita baru saja mendapatkan koleksi baru dari seniman muda yang menjanjikan. Bagaimana kalau kita berkeliling sambil berbincang?” kata Silanta sambil mengarahkan Kaisar ke salah satu sudut galeri.

“Tentu, saja. Jika tuan silanta menawarkan mana bisa saya tolak"

Kaisar tak punya pilihan selain mengikuti Silanta. Mereka berhenti di depan sebuah lukisan besar dengan warna-warna kontras yang mencolok. Lukisan itu menggambarkan perpaduan abstrak antara kehidupan modern dan tradisional, penuh dengan simbol-simbol yang mengundang interpretasi.

“Bagaimana menurutmu? Ini karya seorang seniman muda bernama Aksara. Usianya baru dua puluh tiga tahun, tapi idenya luar biasa matang,” jelas Silanta.

Kaisar mengamati lukisan itu sejenak. “Penuh energi.” ucap Kaisar setelah meneliti lukisan yang tergantung di hadapannya.

“Dia ingin menyampaikan keresahan generasi muda terhadap perubahan zaman. Aku yakin karya ini akan menjadi salah satu yang paling diminati dalam pameran mendatang,” jawab Silanta dengan penuh semangat. meskipun nama Aksara masih belum terkenal mengingat guru Aksara adalah seorang pelukis terkenal. Ia bisa menyimpulkan bahwa memang Akasara adalah next generation. 

Percakapan itu berlangsung lebih lama dari yang Kaisar harapkan. Waktu terus berjalan, sementara ia masih terjebak dalam diskusi tentang seni, investasi, dan masa depan Galeri Tayaska.

Don't Say [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang