15. Hidup terlalu berat

1.6K 56 4
                                        

Rembowruby

— Don't copy paste anything from here —

kiss from here for 3676 kata 💋

"Sebelum berpisah mari berhenti jatuh cinta"

📌 pengumuman

don't say harus di baca ulang!

kemudian mengenai jadwal update aku bakal bayar utang kemarin yang enggak up :) habis liburan jadi capek bangat 🧚🏼‍♀️

selamat membaca!

***

Saat ia datang, Kaisar berpikir ia dengan mudah akan mengatasi masalah ini. sama seperti sebelum-sebelumnya. Namun dugaannya salah sebab nyatanya ia justru terpukul saat mengetahui fakta. Hal-hal yang biasa ia atasi semakin rumit. Dalam sepuluh tahun mengenalnya, Kaisar belum pernah melihat Vici sekacau ini.

Di mana perginya matahari perempuan itu? Perempuan yang selama ini selalu percaya diri kini hanya meringkuk di atas kasur, tubuhnya terbalut selimut tebal. sejak insiden terakhir di lobi apartemen. Setelah itu, Vici memohon untuk kembali ke unitnya tanpa ingin diganggu oleh siapa pun.

Kaisar akhirnya mengerti alasan mengapa Fara begitu memaksa Vici untuk keluar rumah. Ternyata, Fara sudah membuat janji dengan seorang dokter ahli jiwa. Awalnya, Kaisar merasa marah ketika mendengar Fara menyebut kesehatan jiwa sebagai alasan, namun kini semuanya  masuk akal. Dengan mata sendiri, ia melihat kondisi Vici yang semakin mengkhawatirkan. Vici ditemukan pingsan di depan kamar mandi, dan Kaisar segera membawanya ke rumah sakit. Setelah sadar, dokter menyarankan untuk memindahkannya ke poli kesehatan jiwa.

Di kamar rumah sakit itu, Kaisar jongkok di hadapan Vici. Tangannya yang hangat menggenggam tangan Vici, mengusapnya pelan seolah ingin memberikan rasa aman.

“Semua orang bisa mengalami masa sulit seperti ini,” ucap Kaisar dengan suara lembut. “Tapi kamu harus tahu, setiap kali kamu merasa senang, sedih, atau berada dalam kesulitan, aku akan selalu ada di sini untuk menemani langkahmu. Aku bangga bisa melakukan itu untukmu. Jadi... bolehkah aku menemanimu?”

Vici menunduk, menatap tangan mereka yang saling menggenggam. senjata kaisar keluar lagi, Vici bertanya-tanya: siapa yang peduli dengan semua itu? Setelah bertahun-tahun berjuang sendirian, usahanya seolah tak pernah dihargai. kerja kerasnya hanya dipandang sebagai cara untuk menutupi kekurangannya.

Seandainya kalimat itu lebih dahulu ia dengar. Seandainya rasa itu tetap ada dan tidak pernah hilang. Seandainya dia tidak diabaikan ketika Kaisar mendapatkan pasangan sementara. Seandainya dia tidak ditinggalkan di altar pernikahan. Ya, seandainya semua itu tidak Kaisar lakukan, Vici tidak akan seperti ini. Tidak akan merasa seperti dirinya tak mampu melakukan apa pun, seolah tubuhnya terkunci. Bahkan, ia merasa muak hanya untuk mencium aroma udara.

“Aku ingin pulang,” kalimat itu terlontar lirih dari mulut Vici. Kaisar hanya bisa mengangguk, mengusap tangan Vici lebih lembut, lalu menatap perempuan itu yang kini mengenakan baju rumah sakit.

“Setelah kita berobat, ya?” ucap Kaisar dengan nada menenangkan. Namun, Vici menggeleng dengan keras, berulang kali. Ia menghentikan tangan Kaisar yang menggenggamnya.

“Bahkan saat aku memohon, kalian tidak mendengarkan,” ucap Vici dengan suara emosional. “Kalian memang selalu seperti ini. Bisakah tolong lepaskan aku? Ini sakit sekali.”

Isak tangis Vici pecah, kedua tangannya menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat, menggambarkan rasa sakit yang ia rasakan. Kaisar terpaku, panik sekali. Melihat Vici dalam keadaan seperti ini membuat hatinya sesak, penuh dengan rasa bersalah dan ketidakberdayaan. lagi-lagi iya menanyakan apa yang telah ia lewatkan.

Don't Say [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang