Rembowruby_
—don't copy paste anything from here —
—
Ayo jangan lupa komen!!
—
Tembus sampai 3000 kata 💋
—
Hello, rembowruby kembali... pelan-pelan dibaca, resapi tiap kalimatnya.
***
Setelah malam itu, Sadam tidak tinggal diam, terus saja ia berusaha mendekati Hiara. Meminta penjelasan akan berakhirnya hubungan mereka yang baru saja dimulai. Bahkan masih terlalu dini untuk disebut dimulai.
Namun Hiara terus menghindari Sadam. Tanpa memberikan sedikitpun kesempatan untuk pria itu. Ia akan pergi bekerja pagi sekali dan pulang saat tengah malam. Tidak memberikan sela kesempatan untuk menemuinya.
Tapi ada yang berbeda siang ini. Si biru, Asara menghubungi Hiara. Hingga mereka berada di sebuah cafe, duduk saling berhadapan. Wanita itu terlihat lebih kurus berkali-kali sejak terakhir Hiara temui, Saat di rumah sakit tempo hari. Mungkin hanya berjarak tiga mingguan.
Si biru, bibinya itu nampak sangat pucat dan kering meski Hiara yakin sudah diberi pelembab.
Akan tetapi Hiara tidak akan pernah iba dengan Asara. Seperti ia membenci biru, seperti ia membenci bunga, seperti ia membuang Sadam. Tidak sebanding dengan rasa benci Hiara pada Asara. Bencinya sudah mendaging.
Entah apa yang akan wanita ini katakan hingga berani menghubungi Hiara yang membencinya setengah mati itu. Jika Asara akan mengatakan bahwa ia harus menyerahkan Sadam untuknya, maka silahkan...Dengan kesadaran penuh Hiara berikan Sadam untuk Asara.
Ia bukan saingan Asara, mereka bukan lawan setara. Karena Hiara saat ini, sangat mudah untuk dijatuhkan. Meskipun wanita di hadapannya ini tampak lebih ringkih, namun seringkih apa ia di banding dengan jiwa Hiara.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Hiara. Wanita ini, yang telah rusak jiwanya, yang telah hancur pikiran dan akal sehatnya. Masih mencoba untuk tetap berdiri dikedua kakinya dengan mandiri. Bahkan sekedar mendengar omong kosong Asara.
"Halo hiara..."
Wanita itu masih menyapa dan bertindak seperti biasa. Lembut ala Asara. Suara yang ternyata masih begitu mempengaruhinya, padahal ia sudah menyerah akan Sadam.
Dirasa jemarinya sedikit gemetar, Hiara juga tiba-tiba kesulitan untuk sekedar menelan ludah.
"Bagaimana kabarmu?"
Ya, setidaknya Hiara masih bernafas. "Buruk," ingin sekali ia menjawab, buruk apalagi saat melihatmu. Hiara menghela nafas, berhubungan dengan Asara adalah petaka buruk. Entah kesialan apa yang akan menanti.
"Kemarin Sadam menemuiku"
"Lalu?" balas Hiara, ia menemuimu setelah aku memutuskan hubungan sesaat kami dan mungkin dia sudah sadar bahwa hanya kaulah satu-satunya.
"Aku sengaja menemuimu sekarang. Sengaja mencari tempat yang tidak jauh dari butikmu namun jauh dari kantor Sadam"
Tidak salah lagi Hiara membenci Asara.
"Agar tidak ada drama ia berlarian karena pertemuan kita ini" Benci sekali Hiara mendengar ungkapan itu. Padahal ialah sumber drama, perusak, ani-ani ayu yang sangat menye-menye.
"Kenapa, kau takut Sadam memilihku dan meninggalkanmu?" Tembakan kalimat itu, mungkin akan Asara tertawakan. Hanya karena Sadam mengejarnya sekarang ia melupakan bahwa Asara, selalu menjadi pemenang dari dulu.
"Itu sudah terjadi..Sadam akhirnya meninggalkanku" Ucap wanita pucat itu. Nafas Hiara tercekat, ia melihat seluruh geliat Asara, wanita itu sama sekali tidak menyentuh cake-cake dan es krim di meja. Tapi tangannya selalu membenarkan letak rambut palsunya dan Hiara terus menunggu kalimat selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Say [end]
ФэнтезиSemua orang tau bagaimana kaisar begitu mencintai vici. Perjalanan kisah mereka dimulai ketika umur 18 tahun. Dalam waktu yang lama- sepuluh tahun itu mereka lalui bersama, fakta cinta kaisar yang tidak pernah berkurang, masih tetap besar dan utuh u...
![Don't Say [end]](https://img.wattpad.com/cover/345833615-64-k488586.jpg)