5

108K 4.4K 135
                                        

Semalaman Sarah tidak bisa tertidur. Air matanya seakan tidak bisa berhenti menetes padahal matanya kini sudah sembab karena terlalu lama menangis.

Sarah keluar dari kamar saat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh. Mendengar suara berising dari arah dapur membuat Sarah lantas mendekat.

Di lihatnya sang ibu yang tengah membuat teh hangat. "Ibu..."

Farah berbalik, "Ibu tunggu di ruang tengah." Tak berbeda dengan Sarah, mata Farah pun kini terlihat sembab.

Sarah menghela nafasnya, lalu berjalan mengikuti ibunya yang kini telah mendudukkan tubuhnya di sofa yang semalam menjadi saksi pembicaraan mereka.

"Ceritakan sama Ibu semuanya." Ujar Farah yang sudah bisa mengendalikan diri dari semalam. Dia tentu saja sangat kecewa dengan kepulangan Sarah yang tiba-tiba lalu kemudian membawa berita yang mengejutkan. Namun dia tidak bisa egois dengan membiarkan Sarah sendiri dalam keadaan seperti ini. Dia juga harus mendengarkan penjelasan dari anaknya.

"Sarah..." Sarah kembali meneteskan air matanya saat mengingat malam terkutuk itu. "S-sarah nggak sengaja melakukannya, Bu."

"M-malam itu..." Mengalirlah cerita Sarah sedari awal dia berkunjung ke apartemen Viona lalu bertemu dengan laki-laki mabuk yang kemudian terjadinya kejadian yang merenggut kehormatannya.

Nada suara Sarah bergetar saat menceritakannya. Setiap mengingat malam itu, yang ada di kepalanya hanya bagaimana cara dia mengulang waktu agar semua kejadian ini tidak pernah terjadi. Bahkan Sarah berharap kalau apa yang terjadi hanyalah mimpi yang akan menghilang saat dia terbangun.

Mendengar cerita dari Sarah mampu menyalurkan rasa sedihnya ke dalam hati Farah. Perempuan paruh baya itu mengelus-elus punggung anaknya yang masih bergetar dengan kepala yang tertunduk.

"Kenapa kamu mau saja saat dia membawa kamu?" Tanya Farah serak. Dia pun ikut menangis melihat Sarah yang menangis tersedu-sedu.

"S-sarah kira laki-laki itu hanya meminta bantuan untuk mencarikan obat atau yang lainnya. Karena Sarah pikir dia sedang pusing, Bu. Sarah nggak pernah berpikir kalau akan kejadian seperti ini."

"L-lalu bagaimana kedepannya kalau kamu hamil tanpa suami?"

Sarah mendongakkan kepalanya menatap mata ibunya yang berlinang air mata. Dia tidak tega melihat ibunya bersedih. "L-laki-laki itu bilang dia mau bertanggungjawab, Bu."

"Kamu ketemu dia lagi setelah kejadian malam itu?" Tanya Farah terkejut. Dia kira setelah melakukan tindakan pelecehan, laki-laki itu kabur dan menghilang.

Sarah mengangguk, "Laki-laki itu adik ipar dari bos Sarah, Bu."

"Apa?" Farah lagi-lagi terkejut mengetahui fakta yang tidak dia duga sebelumnya.

"Ya." Sarah kembali mengangguk. "Keluarga laki-laki itu juga sudah tau, Bu."

"Awalnya mereka mau ikut Sarah pulang. Keluarga mereka mau bertemu Ibu, mereka mau meminta maaf atas kelakuan anaknya."

"Tapi Sarah nggak berani kasih ijin sebelum Sarah sendiri cerita ini sama Ibu." Sarah kembali menundukkan kepalanya. Rasa bersalah semakin menyelimutinya.

"Ibu memang sangat kecewa sama kamu. Tapi Ibu nggak mungkin membiarkan kamu sendiri menghadapi semua ini." Ucapan Farah membuat Sarah mendongakkan kepalanya kembali. Matanya semakin berkaca-kaca mendengar penuturan ibunya.

"Ibu mengijinkan mereka datang. Selain mereka yang mau bicara sama Ibu, Ibu juga mau bicara sama mereka."

"Saat ini, mau tidak mau laki-laki itu harus tanggungjawab atas perbuatannya. Ibu nggak mau kamu dipandang rendah oleh orang-orang karena hamil di luar pernikahan." Lanjut Farah lagi, "Tapi, jangan salahkan Ibu seandainya Ibu ingin marah kepada laki-laki yang sudah menodai anak Ibu."

Wedding Accident [END-KARYAKARSA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang