The Last resort. -Chapter 4-

20 0 0
                                        

"Ada apa? Kenapa kalian berteriak?" Shun berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Wajahnya tampak pucat ketika melihat tubuh Taka yang tak lagi bernyawa tergantung di tengah kamar, dengan kursi di bawahnya.

"Keparat! Kemana saja kau!" Seiji mendorongnya dengan histeris, "Seharusnya kau menjaganya!"

"Ma ... maaf!" seru Shun, "Aku ... aku hanya ke kamar mandi sebentar. Aku tak mengira ia akan melakukannya ..."

"Tidak." Terdengar suara di belakang mereka. Miki menoleh.

Masa-kun? Sejak kapan ia ada di sini?

"Bukankah tadi katanya kakinya sakit? Ia saja tak bisa berjalan dan harus dibantu agar sampai ke sini." Masa-kun menatap darah yang mengering di paha Taka yang kini terayun berputar secara perlahan.

"Astaga." Miki menutup mulutnya dengan shock begitu menyadari apa yang telah terjadi. Yuka hanya bisa melongo, sedangkan Haruna mulai menangis.

Taka tak mungkin naik ke sana.

Ia dibunuh.

***

"Kita harus memanggil polisi sekarang!" seru Seiji.

"Namun telepon tak bisa digunakan! Saya sudah mengatakannya pada kalian!" kata Misaki bersikeras. Ia mengikuti mereka berenam yang tergopoh-gopoh berjalan menuju ke pintu depan, dimana telepon berada.

"Siapa yang tega membunuh Taka?" Haruna terisak.

"Yang jelas bukan kita berempat." kata Seiji dengan marah, "Sejak tadi kita selalu bersama di dalam kamar. Ini hanya menyisakan satu tersangka, kau!"

Semua menatap pria yang ditunjuk oleh Seiji. Shun.

"Ta ... tapi Shun tak punya alasan membunuh Taka!" Yuka berusaha membelanya, "Ia kan teman kita!"

"Teman?" Seiji tertawa sinis, "Apa kau tahu mengapa ia selalu ikut di geng kita, Yuka? Karena Taka memanfaatkannya. Ya, Taka hanya memanfaatkannya supaya mendapat nilai bagus! Dipikir lah pakai logika, tak mungkin orang kaya dan sepopuler Taka mau berteman dengan kutu buku culun seperti dia! Mungkin saja akhirnya si tolol ini menyadarinya dan membalas dendam!"

Wajah Shun tampak merah padam. Tanpa berkata apapun, ia berbalik pergi meninggalkan mereka.

"Hei, pembunuh! Tunggu!" Seiji hendak mengejarnya, namun keburu dihentikan Masa-kun, "Kau keterlaluan! Kau sama sekali tak punya bukti untuk menuduhnya!"

"Oh, dan kau, Mister Nice Guy? Dimana kau saat pembunuhan terjadi? Setahuku kau lenyap begitu saja, mungkin saja kau pelakunya!" tuduh Seiji.

"Kalian semua hentikan!" jerit Haruna. Tangisannya makin keras. "Kita ... kita harus keluar dari desa ini. Desa ini sudah dikutuk! Kejadian buruk selalu terjadi pada kita semenjak kita berada di pantai itu. Miki hampir tenggelam, mobil kita tabrakan, dan sekarang ..."

"Haruna, tenanglah." Miki memeluk gadis itu, mencoba menenangkannya.

"Nyonya! Nyonya!" tiba Misaki menjerit ketika ia melihat ke luar.

Semua ikut melihat ke luar melalui pintu kaca dan melihat seorang wanita bergaun kimono putih berjalan di luar halaman resort. Ia melangkah menuju ke sebuah pintu, tepat di bawah lantai dua penginapan itu.

Ia kemudian membuka pintu itu dan mulai melangkah naik ke tangga.

"Nyonya Makiko!" Misaki mencoba membuka kunci pintu, namun Masa-kun melarangnya.

"Jangan! Itu terlalu berbahaya!"

"Namun Nyonya ada di luar ..."

Tiba-tiba telepon mereka berdering.

Horror ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang