"Ku lelah..."
"Ku rasa cukup di sini, kau berubah tak peduli."
"Dulu indah, kini cinta pergi sudah..."
"Hohohohoooo."
"Ku menyerah, tak seperti dulu lagi.."
"Habis air mata ini,"
"Tapi maaf, bila ku ingin..."
"Pisah."
Udah Bang, udah. Tertolak sebelum memulai itu memang sakit. Tapi lebih sakitan lagi kalau udah deket, eh terus tiba-tiba asing:)
Jungkook menggenjreng gitar pada bait terakhir, sebelum lagunya berakhir. Laki-laki itu terlihat begitu mendalami lagu galau yang baru saja ia bawakan. Hal tersebut dapat dilihat dari wajah Jungkook yang muram, seolah kehilangan cahayanya.
Sehingga, sebagai sohib yang baik, Mingyu yang sejak tadi memperhatikan bahwa temannya itu banyak muram, akhirnya mendekati laki-laki itu. Mingyu menepuk pundak Jungkook terlebih dahulu, sebelum duduk di sebelahnya. Oh, tak lupa juga membawakan segelas es coklat yang sama dengan miliknya untuk pemuda itu.
"Berat banget kayaknya masalah. Cerita lah."
Mendengar itu, Jungkook menyingkirkan gitar yang tadi ia pegang, sebelum mengambil sodongan cup minuman yang diserahkan Mingyu. Ia lebih memilih untuk meneguk itu sesaat, baru menjawab pertanyaan yang disampaikan temannya.
"Enggak ada apa-apa, Ming. Masih tahap transisi aja di kampus dan kelas baru gue, jadi agak ada beban mental sedikit. Tapi cuma butuh pembiasaan aja sih. Lama-lama juga biasa sendiri."
"Nggak usah jadi beban juga, Juk. Lagian kan lo sekelas sama Jaehyun. Jadi, bukan ukuran semuanya asing banget lah pas lo di kelas."
"Iya sih," Jungkook setuju. Lalu secara tiba-tiba, ia mendadak penasaran dengan reaksi Mingyu tentang masalah yang sebenarnya saat ini ia pikirkan. Mana mungkin Jungkook yang orangnya easy going bisa kena beban mental perihal tempat baru doang? Oh, tentu itu hanyalah pengalihan semata. Padahal, sesuatu yang membebani pikirannya saat ini adalah hal yang berbeda.
"Ming, gue pengen tanya pendapat lo deh."
Mingyu menoleh dengan wajah penasaran. "Tentang apa?"
Menghela napas, dan sempat meneguk minumannya sekali lagi untuk pereda gugup, Jungkook pun memberanikan dirinya. "Gue punya temen, terus dia cerita kalau dia nggak sengaja suka sama pacar dari teman akrabnya. Kira-kira, menurut lo, itu gimana?"
Mingyu diam sebentar untuk mencerna pertanyaan yang Jungkook katakan. "Maksudnya, itu cewek sama temen deketnya temen lo udah pacaran?" Ia memvalidasi terlebih dahulu, dan dilihatnya Jungkook mengangguk.
"Ya kalau kata gue sih, perasaan suka sama seseorang kan nggak dapat diatur juga. Itu manusiawi banget. Tapi kalau semisal itu cewek udah punya pacar, apalagi sahabat deket lo sendiri, seharusnya disembunyiin aja sih perasaannya, sambil pelan-pelan belajar buat move on. Lagian, kalaupun nanti temen lo dapetin itu cewek, yang ada hubungan persahabatannya malah rusak sama temennya."
Diam-diam, Jungkook berusaha mencernanya, dan perasaannya semakin terkucilkan saat mendengar ucapan Mingyu, yang secara tidak langsung menyentil perasaan Jungkook, karena ia tak dapat menapik bahwa semua yang dikatakan temannya adalah kebenaran.
"Iya sih, Ming. Kayaknya emang harus move on ya?"
Mengangguk, Mingyu memberi tepukan beberapa kali di pundak sohibnya. "Lo kuatin temen lo itu ya. Rangkul dia, jangan tinggalin. Soalnya putus cinta apalagi cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit banget. Takut-takutnya nih, dia malah ngelakuin hal yang enggak-enggak. Banyak banget kasus orang putus cinta yang bunuh diri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cindereog
Novela JuvenilKetika Jisoo si cewek prik pacaran sama Jaehyun yang kalem dan cool abis. Tapi meski begitu, Jaehyun ini tipikal orang yang bucin banget. Nggak percaya? Baca sendiri
