Ten

108 6 0
                                        

Justin's POV

"Tidurlah," aku mengecup dahi adik perempuanku yang sedang berbaring di atas kasurnya. Setelah dia menutup matanya, aku pun berdiri dan berniat keluar dari kamarnya.

"Justin, mau kemana?" tanyanya.

"Aku mau pergi, sebentar saja." jawabku, aku mendekati adikku lagi lalu mengelus pelan kepalanya yang sudah ditumbuhi rambut yang panjang dan indah.

"Cepatlah kembali, aku tidak mau sendirian." aku mengangguk mendengar permintaannya, tak lama kemudian aku keluar dari kamar adikku.

Aku berjalan menjauhi kamar adikku, yang pintunya tertempel stiker bertuliskan 'Jessica'.

"Kau mau kemana lagi?" suara itu menghentikan langkahku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki tua membawa sebuah map di tangannya.

"Bukan urusanmu." kataku, lalu aku pergi keluar dari rumah.

"Dasar anak tidak tau diri! Berhenti kau! Hei! Ayahmu ini memanggilmu! Kau anggap apa aku ini hah!" suara teriakan lelaki tua itu aku abaikan dan tetap berjalan keluar rumah.

Aku masuk ke dalam mobilku lalu segera menghidupkan mesin mobil. Aku harap Jessica cepat besar agar bisa ikut meninggalkan rumah terkutuk ini.

***

Ketika aku sampai di tempat balapan, tempat itu sudah ramai. Aku memarkirkan mobilku lalu berjalan ke arah teman-temanku berada.

"Woah, kau datang? Bukankah kau hari ini tidak main?" Bara menepuk bahuku dan berdiri di sebelahku.

"Mendadak. Aku menggantikan Andre yang melawan Lorenz." kataku. Mataku tiba-tiba menangkan Bella dan Laura yang berdiri tak jauh dari kami. Aku menyeringai padanya tapi ia langsung mengalihkan pandangannya.

Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah dia bilang dia tidak sudi ke sini?

Bara mengangguk paham di sebelahku, "Tapi Lorenz bukan levelmu."

Aku langsung tersenyum mendengar ucapan Bara, dia memang sering memihakku, "Yeah. Mungkin ketika aku hampir di garis finish, dia baru meninggalkan garis start.

"Kalau begitu, lawan aku saja, Justin." El bersuara, dia menatapku dengan seringaian di wajahnya.

"Bara, apa kau mau menggantikan Justin?" tanya El pada Bara. Lelaki di sebelahku ini mengangguk. Aku tersenyum miring pada Elvin yang tampaknya meremehkanku. Lihat saja nanti.

"Bagaimana kalau kita menjadikan Bella taruhannya?" tanya El. Aku menggeleng, "Cari permainan yang lebih seru dari itu."

Ku dengar suara kekehan Elvin di sebelahku, "Baik. Kita dekati saja dia dan lihat siapa yang dia pilih."

"Hm, cukup menarik. Kapan pemilihannya?"

"Hm, akhir September. Bagaimana? Apa itu waktu yang cukup untukmu?"

Aku menatap Bella yang terlihat kesal dengan Laura yang terus mengoceh entah apa di sebelahnya. Lalu aku menyeringai pada Elvin, "Itu lebih dari cukup," jawabku.

"JUSTIN!" tiba-tiba muncul seorang perempuan gila entah dari mana. Ia meneriakkan namaku dan berlari ke arahku seolah-olah siap menerkamku. Sebelum aku sempat menjauh, dia sudah menahan tanganku dulu.

"Justin sayang, apa kau merindukanku?" dia Alyson. Yah, perempuan gila ini bernama Alyson. Aku berusaha melepaskan tanganku dari tahanannya tapi ia malah memeluk tubuhku.

"Pergilah," kataku. Alyson malah semakin mengeratkan pelukannya padaku. "Aku merindukanmu, my baby. Ayo kita bersenang-senang."

Elvin menertawaiku, membuatku kesal juga malu karena ulah Alyson. Perempuan ini adalah mantanku. Tidak yakin apakah kami pernah berpacaran, tapi dulu ia tidak seperti ini.

Ladies and RacingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang