Suara ketukan pelan pada pintu kamarnya membuat Mia melepaskan headset di telinganya. Rosa muncul dari balik pintu, tersenyum sembari menunjukan nampan yang ia bawa. Camilan dan susu stroberi favorit Mia ada disana.
"Boleh mami masuk?" tanya sang ibu hati-hati.
Mia mengangguk seraya tersenyum. Mami memang selalu meminta izin untuk masuk ke kamarnya semenjak Mia beranjak remaja. Anak-anak juga punya privasi, begitu alasannya.
Rosa meletakan piring dan gelas yang dibawanya di atas nakas. Wanita itu lantas mendudukkan dirinya di atas ranjang sang putri.
"Gimana kabar kamu?"
"Mami apaan sih. Kita kan ketemu tiap hari. Emang mami gak lihat aku baik-baik aja."
"Ada beberapa hal yang kadang gak bisa dilihat Mia."
Mami tidak salah. Ada beberapa hal yang kadang Mia tidak katakan. Bukan sengaja disembunyikan, hanya begitulah remaja. Toh semua orang berhak memiliki rahasia.
"Apa Adrian baik sama kamu?"
"Kak Ian selalu baik." Bahkan terlalu baik.
"Kamu... bahagia?"
Mia mengangguk. "Aku bahagia, lega karena semuanya udah selesai. Mami tahu, aku gak pingsan lagi saat ngeliat darah tapi tetep deg-degan sih."
Rosa tersenyum simpul. "Itu perubahan yang baik tapi... Adrian gak terlibat hal berbahaya lagi kan? Mami cuma khawatir sama kamu."
"Enggak kok, mi."
Mia juga tidak mau hal mengerikan terjadi lagi di antara dirinya dan Adrian. Mia tahu Adrian akan selalu melindunginya meski Mia pernah mengatakan akan melakukan hal yang sama pada laki-laki itu. Adrian tidak akan pernah menyetujui keinginannya yang satu itu.
"I'll handle the protection, you do the other parts." Begitu katanya.
"Gosip-gosip itu sudah mereda. Menghilang begitu saja seolah gak ada yang terjadi. Dia menepati janjinya."
"Iya," sahut Mia pelan seraya tersenyum tipis.
Ada sedikit gumpalan sesak yang Mia rasakan kala mengingat apa yang harus Adrian lakukan demi Mia tetap baik-baik saja. Ada banyak hal yang harus Adrian korbankan. Luka fisik yang ditanggungnya bukan main-main. Tuduhan yang diberikan pada laki-laki itu juga sudah mencemari nama baiknya. Adrian berhak mendapat keadilan tapi demi semua pihak senang atau mungkin lebih tepatnya demi kesenangan Mia, dalam artian hidup damai dan bahagia, Adrian menurunkan egonya. Adrian membuat kesepakatan dengan keluarga Halim dan keluarganya sendiri.
Bukan itu saja, Adrian juga bekerja sama dengan Tommy untuk menyelamatkan kantor papi. Pratama Wira Atmaja berinvestasi untuk Cipta Anugerah demi sebuah hutang nyawa. Ya, Adrian menagih hutang nyawa yang ia berikan pada Tommy dua tahun silam. Perusahaan milik om Dirga, teman papi punya kesempatan untuk bertahan dan melunasi hutang mereka di bank. Papi tidak jadi mengundurkan diri dan Mia tetap bisa kuliah bersama sahabat-sahabatnya. Coba tebak, beasiswa Mia juga kembali.
Benar-benar di luar dugaan tapi tetap lebih menggemparkan kesepakatan yang Adrian buat bersama keluarga Halim demi kebebasan putra mereka, Jeff. Keputusan yang ditentang Bobby dan Eric. Mereka bahkan sampai bertengkar dan bungkam satu sama lain berhari-hari sesudahnya.
"Mia..."
"Iya mi."
Tersentak dari lamunannya, fokus Mia kini kembali pada sang ibu yang menatapnya teduh. Senyum di wajah Rosa mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja setelah ini.
"Mami sayang kamu."
"Aku juga sayang mami."
"Apapun yang kamu lakukan, mami akan selalu dukung kamu. Mami pengen kamu bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomanceTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
