Kemudian hari.
Pagi ini Serena sudah duduk dengan tenang dimeja makan, sesi sarapan akan dimulai. Ada papanya, Hadden dan mama. Di piring Serena sudah tersaji telur mata sapi dan nasi putih. Sangat berbeda bukan dengan Eleanor Tacenda, tapi jangan salah kebiasaan Elea makan sereal untuk sarapan diturunkan ke Hadden.
"Aku hari ini pulang telat pa, ma." pamit Serena.
"Kenapa? ada sesuatu disekolah?" balas Andrew langsung dan memusatkan pandangannya ke putri satu satunya itu. Ah kalau makin dipandang, ia merasa sedih ternyata Serena sudah sebesar ini sekarang.
"Aku mau kerja kelompok." jawab Serena jujur.
"Sama siapa?"
"Sama temenku ada 1 orang." jawabnya lagi.
"Laki atau perempuan? dimana? kalau satu orang mending ajak Nova." suruh Andrew.
"Laki lakii, ihh nggak mau ajak Hadden. Aku udah gede paa, masa kerja kelompok masih diikutin." ucap Serena sedikit memohon. Ahh malu ah kalau ketemu Alan bareng Hadden. Yang ada dia nggak bisa godain Alan, malah kepalang emosi diikutin Hadden.
"Biasanya juga gitu kan? kamu setiap kelompokan ajak dia. Kenapa hari ini tidak mau?" tanya Andrew, bahkan Elea hanya diam kalau suaminya sudah bertindak. Ia tak mau membuat Serena semakin tertekan.
"Yaa karena cuma berdua, aku nggak mau ajak Hadden."
"Yaudah, kelompokan disini aja. Ajak kerumah." ucap Andrew santai.
"Ihhh aku udah janjian sama dia kerja kelompok diluar. Paaaa pleasee yaa?" mohon Serena sembari memegang lengan berurat milik papanya itu.
"Tidak. Kalau sama perempuan papa izinkan tapi kalau berdua dengan laki laki tidak boleh tanpa Nova. Papa kasih dua pilihan, ajak Nova atau bawa dia kesini." ucap Andrew tegas tak terganggu gugat.
"Papa jahat. Aku mau bilang ke kakek buyut!" seru Serena.
Pokoknya dia harus bisa keluar berdua dengan Alan, entah bagaimanapun caranya. Dengan tergesa Serena menghubungi nomor kakek buyutnya. Tak lama kemudian telfon itu terangkat.
"Kakekk buyuuut ini Nola." sapa Serena cepat dengan mata sudah berkaca. Andrew tetap kekeh dengan keputusannya walau melihat mata putri kesayangannya sudah berkaca.
"Iyaa, kakek masih bisa baca Nola. Ada apa?"
"Aku mau kerja kelompok, tapi tidak boleh sama papa. Kakek buyut izinkan kan?" ucap Serena cepat.
"Bentar dulu, kakek ngomong sama papamu dulu. Kenapa bisa dia larang kamu kerja kelompok padahal ini urusan sekolah. Apa alasanmu Andrew?" Adiwilaga harus mendengar dari kedua belah pihak. Dia merasa aneh kalau Andrew melarang Serena mengerjakan tugas kelompok.
"Siap. Nola mau kerja kelompok dengan 1 teman laki laki pak. Saya sudah menyarankan untuk membawa Nova ikut atau kerja kelompok dirumah." jawab Andrew lantang dan jelas.
"Ohhh, yasudah Nola mau pilih yang mana? yang Nova pergi atau kerja kelompok dirumah?"
"Aku maunya kerja kelompok sendiri hiks- ga mau ajak Nova kakek. Aaah aku gamau hiks." tumpah juga tangisnya. Walau dengan cepat ia usap dengan lengan sweaternya tapi air mata itu tetap berlomba turun melewati pipi putihnya.
"Kok nangis? kenapa harus pakai nangis?" tanya Adiwilaga yang membuat Serena berusaha untuk menahan tangisnya sampai dada sesak.
"Kenapa juga kamu mau kerja kelompok berdua dengan laki laki hm? ingin apa? murni kerja kelompok atau apa? kamu seperti menyembunyikan hal lain Nola." lanjut Adiwilaga. Paginya yang sunyi sudah dirusuhi cicit perempuan 1 1 nya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sense Of Rythm ✔
Romantik[COMPLETED] [IRAMA'S SERIES 2] Sense Of Rythm adalah sebuah rasa dari sebuah irama. Tak seperti sebelumnya, cinta yang baru saja timbul tanpa alasan. Saling mencari dan berusaha mendapatkan. Hingga menemukan sebuah 'rasa' dalam irama. Rumit, menyeba...
