Alan malam ini langsung menghubungi Serena karena pacarnya itu pergi tanpa pamit. Bahkan tidak ada guru yang mengatakan hasil dari pertemuan mereka. Hanya mengatakan kalau semuanya berakhir baik untuk keduanya. Tak perlu ada yang dikhawatirkan untuk satu hal itu. Chelsea bahkan juga langsung pergi bersama keluarganya
Seii🤍 calling..
"Halo?"
"Kamu baik baik saja? badannya ada yang sakit?" tanya Alan langsung to the point bagaimanapun badan Serena pasti akan sakit.
"Baik, ternyata kepalaku benjol ehehe." ucapnya dari seberang yang membuat Alan menggeleng tak habis pikir.
"Sakit sekali? sudah di cek dokter? ada yang terkena tidak saraf atau apanya?" tanya Alan beruntun.
"Nggak sih efek kebentur doang, aku nggak ngerasa pusing sementara, nggak mual atau sejenisnya. Kepalaku keras kali ya kaya batu makanya nggak ada tanda tanda?" masih aja mencoba mengalihkan Serena ini.
"Maaf."
"Kok maaf, bukan salah kamu. Tadi itu aku cuma nggak mau diganggu dulu. Kepalaku berisik, butuh waktu buat mikir. Dan sekarang aku sudah membaik, kamu nggak perlu khawatir." jelasnya.
"Aku jelas dan harus khawatir, sampai kamu harus dibawa pulang langsung berarti memang ada yang salah Seii." ucap Alan. Ya nggak mungkin kalau baik baik saja Serena harus sampai pulang duluan. Kenapa dia juga nggak sekedar say good bye dulu sama dia atau ke bestienya. Aneh.
"Aku nggak kenapa napa, nah lihat angkat videocall nya." Alan mengangkat video call itu, benar saja Serena masih normal tidak ada raut kesakitan pucat atau apapun itu. Bahkan gadis itu sekarang masih di mobil bersanding dengan mamanya dan dibelakang ada papa dan omnya. Semua di shoot.
"Langsung pulang ke Jakarta?"
"Huum, papa ada agenda langsung besok jadi tidur dimobil." Ucap Serena sembari membenarkan posisi rambutnya. Naluri cewek, kalau video call pasti begitu kalau jilbab an juga pasti ngoca ngaca terus.
"Oke. Sweatermu masih di aku."
"Besok aja lah kalau kamu udah pulang kita ketemu dirumah aku atau kamu." jawabnya.
"Kenapa nggak disekolah? kalau mau diluar juga nggak papa juga sebenarnya." jawab Alan. Reflek aja dia nanya kenapa tidak disekolah bukan karena tidak mau bertemu ya.
"Oh iya, aku pindah sekolah. Aku udah nggak di Naiad jadi kita LDR emmm." ucap Serena diakhiri wajah murung.
"Kok?" satu kata banyak makna ini, semua pertanyaan Alan terangkum dalam satu kata mini.
"Nggak sehat lama lama disana, aku ngerasa nggak bisa. Bukan karena aku lemah terus jadi down, tapi aku lebih ke aku merasa banyak lawan. Ga mau gabung maling atau cewek cewek gatel." jelasnya. Alan kira Serena tidak menyadari kalau sisi dirinya yang bagian itu cukup membuat Alan khawatir.
Alan itu juga jadi kepikiran, kenapa setelah Serena bersama dirinya itu langsung banyak kejadian yang melibatkan gadis itu. Padahal sebelum mereka bertemu di kelas 11 Serena ini dikenal sebagai anak petinggi dan orang penting. Bukan anak yang memanfaatkan ketenarannya, bahkan cenderung bersikap biasa saja. Alan menjadi saksi selama kelas 10 nama Serena tak pernah terdengar dalam kondisi buruk. Tapi setelah bersamanya?
"Kalau sudah tenang aku mau ketemu, mau ada yang aku omongin." ucap Alan langsung. Jujur saja dia jadi merasa ada yang mengganjal kalau ngobrol dengan Serena tapi ada keluarganya. Dia hanya butuh ngobrol berdua, hanya ada Alan dan Serena.
"Ada apaa? nggak bisa diomongin sekarang kah? jadi penasaran kalau masih nunggu besok." protesnya.
"Gapapa besok aja, nyaman ngobrol langsung. Kabari aku kalau sudah nemu tempat mau dimananya." ingat Alan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sense Of Rythm ✔
Romance[COMPLETED] [IRAMA'S SERIES 2] Sense Of Rythm adalah sebuah rasa dari sebuah irama. Tak seperti sebelumnya, cinta yang baru saja timbul tanpa alasan. Saling mencari dan berusaha mendapatkan. Hingga menemukan sebuah 'rasa' dalam irama. Rumit, menyeba...
