Serena dan Alan sampai di halaman rumah keluarga Alan di jam 4 sore. Mereka sudah membawa banyak barang bawaan, untungnya ini Hadden udah sampe lebih dulu. Anak itu sudah spam Serena untuk segera datang. Dia katanya awkward kalau cuma sama ibunya Alan. Padahal rumah Alan itu udah ramai buat les.
"Lama banget, kemana?" todong Hadden kala mereka sudah masuk dan berhadapan.
"Mampir dulu belanja, sama ketempat temennya Alan bentar. Nggak kemana mana." jelas Serena jujur. Jujurkan? kan itu cowok tetep temannya Alan.
"Jujur nggak?" tanyanya lagi. Hadden itu khawatir jelas lah, ini pertama kalinya membiarkan Serena pergi hanya berdua dengan orang lain kecuali keluarganya. Selain karena dia takut kakaknya kenapa napa, ini dia juga bertanggung jawab ke seluruh Tacenda bahkan Harits.
"Jujur, beneran kan abis beli helm itu tadi di depan sekolah terus ke tempat nya temennya Alan dulu. Abis itu belanja, nggak boong astaga." Serena tuh juga kadang takut kalau Hadden lagi mode kaya gini. Anaknya udah tegas banget.
"Oke." Serena akhirnya bernafas lega walau nggak ada kebohongan sama sekali.
"Ayo, Hadden mau ganti baju dulu?" tawar Alan, dirinya memang langsung izin ganti baju. Jadi nggak tau percakapan kakak adek itu.
"Nggak usah kak, gue pake kaos juga tinggal lepas."
"Kamu mau ganti baju? aku ada baju basket yang belum kepake. Buat contoh seragam baru, mau kamu pake dulu?" Kali ini Alan menawarkan ke Serena. Nggak mungkin juga dia nawarin Serena bajunya, dia juga tau dan kayanya Hadden juga ga bakal izinin.
"Baju kamu atau punya siapaa tapinya?"
"Baju aku, tapi cuma contoh. Besok aku dapet lagi." jelas Alan. Di konveksi itu memang akan dapat 1 jersey untuk sipemesan sebagai jersey contoh. Apalagi Alan ini udah langganan dari SMP. Jadi ya hubungannya dengan si konveksi sudah sangat baik.
"Boleh?" bisik Serena ke Hadden yang membuat Alan tersenyum.
"Pakai aja kalau memang diizinkan." jawab Hadden.
"Mauuu." balas Serena.
"Aku ambilin dulu." Alan ke kamarnya dan mengambil 1 plastik baju. Baju itu benar benar masih segelan, dia menawarkan ganti baju soalnya ini baju warna putih. Dan resiko bernoda lebih besar, walau Serena atau Hadden itu bisa beli atau pake baju lain tapi Alan merasa menawarkan juga nggak masalah. Untuk sebuah kenyamanan.
"Kamu cek dulu coba, kegedean banget enggak." suruh Alan.
"Dihh, Hadden liat dong calon jerseynya dia."
"Gue udah liat karena kita suruh milih dari awal. Udah sana ganti baju, ribet banget." dorong Hadden. Alan hanya membatin, ternyata punya sodara nggak buruk juga. Ngeliat sedekat Hadden dan Serena ini beneran bikin mupeng.
"Eheheh, oke."
Hadden dan Alan akhirnya pergi ke belakang untuk mempersiapkan hal yang dibutuhkan. Menata meja dan kursi dengan jumlah 5. Hanya menyiapkan kompor portable dan pan grill.
"Aduh aduhh rajinnya. Bahannya semua udah mas?" ucap ibu Alan. Dirinya pamit dulu untuk mantau ini anak nya gimana. Yang les mah disuruh ngerjain aja dulu.
"Udah bu, yang ibu listkan udah dibeli semua. Harus apa sekarang?" tanya Alan. Dia mah juga nggak pernah ngurusi bahan gini. Dia bisanya juga langsung makan doang.
"Cuci semua sayurnya. Dagingnya tinggal masukin kesana, terus bumbunya ambil didapur. Udah ibu taro disatu tempat, nanti masukin semua aja. Terus rasain udah pas atau belum. Oh iya, kimchi nya jangan lupa ditaro dipiring kecil." pesan Ria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sense Of Rythm ✔
Romance[COMPLETED] [IRAMA'S SERIES 2] Sense Of Rythm adalah sebuah rasa dari sebuah irama. Tak seperti sebelumnya, cinta yang baru saja timbul tanpa alasan. Saling mencari dan berusaha mendapatkan. Hingga menemukan sebuah 'rasa' dalam irama. Rumit, menyeba...
