Jangan ditanya kondisi Serena sekarang bagaimana setelah Alan keluar dan berdiri disamping mobil. Air matanya luber dan meleleh saat itu juga. Pertanyaanya adalah siapa yang nggak sedih waktu patah hati sedangkan mereka ini termasuk pasangan masih baru. Walaupun sejak awal hubungan itu susahnya minta ampun. Urut dari waktu Serena suka lebih dulu, berantem, baikan, jadian, banyak cewek mendekat, Serena ngamuk. Belum masalah restu dari keluarga besar Serena. Rumit dari awal.
"Mau kerumah nenek Nena." ucap Serena pelan dan tercekat.
"Baik Nona." balas Pandu tanpa banyak bertanya. Dia jadi saksi kunci apa yang menimpa Nona besarnya ini. Nanti kalau sewaktu waktu dia dibutuhkan jadi saksi, dengan yakin Pandu akan menjawab seperti apa runtutan kejadiannya.
25 menit kemudian tiba dikediaman Adrian dan Nena. Rumah 1 lantai sangat luas dengan sentuhan kayu kayu ukiran adalah kediaman masa tua pasangan ini setelah kedua anaknya Barga dan Noah lepas tanggung jawab.
"Nona?" panggil Pandu waktu mereka sudah sampai dihalaman rumah.
"Hikss..." Dengan segala kecakapan Pandu, dia turun dan mengetok pintu rumah itu tetap dengan manner terjaga walaupun panik. Nonanya menangis keras sembari menunduk dalam. Bahkan sampai terisak menyedihkan.
Tok..
Tok...
"Pandu? ada apa Ndu?" tanya perempuan lanjut usia tersebut walau masih terlihat sangat sehat.
"Nona datang bu, tapi ada kejadian yang mungkin hanya nona sendiri yang bisa jelaskan. Sekarang didalam mobil." jelas Pandu yang membuat Nena meletakkan gelas putihnya.
"AYAHHH.. NOLA DATANG." serunya sembari berjalan pelan. Dia masih berpikir Nola hanya manja dan minta dijemput. Bahkan biasanya anak itu akan ngide minta berhenti diluar pagar dan minta dijemput buggy car.
"Nona menangis bu, maaf." ucapan itu baru membuat Nena panik dan berjalan lebih cepat kemudian membuka pintu dan bertemulah dengan Serena yang menatapnya dengan mata bengkak, rambut berantakan dan wajah banjir airmata.
"Ya allah. Kenapa sayang? cup cup nangis dulu nggak papa. Nenek tunggu." reflek orang itu kalau lihat orang nangis pasti nanya kenapa dulu. Walau setelahnya harus segera sadar untuk tidak memaksa orang menangis bercerita.
"Hikss... Hikks.."
"Sakit sekali kah hatinyaa? nggak papa nanti kita cari yang bikin hati kesayangan nenek sakit ya? lepaskan semuanya biar lega." bisiknya menenangkan, mereka duduk berpelukan dari dalam mobil yang pintunya terbuka.
"Ada apa ini Pandu? kenapa Nola menangis?" tanya seseorang yang tentu menjadi garda depan keluarga Eleanor. Adrian Tacenda.
"Siap. Maaf bapak-"
"Bilang. Jelaskan kesaya, nggak perlu kamu pikirin Nola dulu. Saya butuh penjelasan sekarang." ucap Adrian tegas. Melihat putri satu satunya menangis dengan sangat tersiksa juga membuatnya sedih. Belum lagi nanti kalau papa mamanya dikabari.
"Siap. Nona dan Mas Alan sepertinya putus pak."
"Hanya karena ituuu?!" seru Adrian kaget.
"Yah, orang patah hati itu sakit hatinya. Bukan hanya, tapi memang semua yang namanya putus cinta pasti akan sangat menyakitkan. Jangan kaya gitu." tegur Nena langsung setelah mendengar respon suaminya yang seakan akan menyepelekan sakit hati putus cinta. Ternyata Serena menangis seperti ini karena putus cinta, bahkan Nena sempat lupa kalau sekarang Serena sudah memiliki pacar.
"Iya maaf, putus dimana? bukannya Nola sudah kembali sejak semalam? mereka ketemu dimana?"
"Siap. Kami memjemput Mas Alan yang selesai field trip bapak. Mereka maaf sedikit berdebat didalam mobil hingga kejadian itu." jelas Pandu. Nahkan dugaanya benar, dia itu harus bisa menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sense Of Rythm ✔
Romance[COMPLETED] [IRAMA'S SERIES 2] Sense Of Rythm adalah sebuah rasa dari sebuah irama. Tak seperti sebelumnya, cinta yang baru saja timbul tanpa alasan. Saling mencari dan berusaha mendapatkan. Hingga menemukan sebuah 'rasa' dalam irama. Rumit, menyeba...
