Keluar sekolah dengan menunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai membiru. Alan berjalan menuju motornya untuk pulang, mobil Serena sudah tidak ada diparkiran. Dapat dipastikan Serena sudah pulang. Bahkan dipakaikan helm aja beberapa sisi muka dan kepalanya sakit. Dapat dipastikan sebelum tidur nanti malam badannya bakal pegel. Kalau kyorugi nggak bakalan seberantakan ini, karena ini tinju jadinya ya begitu. Sedangkan sarung tinjunya yang sarung tinju MMA. Bukan yang pure seempuk sarung tinju biasanya.
Alan mendapat luka sobek jelas di ujung bibir karena sempat kena gigi. Serena aman karena dia persiapan dengan pelindung gigi yang entah ia dapat dimana. Ujung matanya membiru dan robek kecil. Justru malah bengkak.
Sampai rumah, dua motor lain sudah ada digarasi kecil itu. Ibu dan ayahnya dirumah. Alamat dapat pertanyaan.
"Assalamualaikum." salam Alan.
"Waalaikumsalam." jawab Ria kemudian menyambut anaknya dengan membuka pintu samping sembari menunggu Alan melepas sepatunya.
"Mandi dulu atau mau makan mas?" Alan dibahasakan Mas karena hanya satu. Untuk panggilan ibunya ke ayah itu tentu membahasakan Alan.
"Mandi dulu bu gerah." ujar Alan dengan tudung hoodie yang menutup. Menyalami ibunya dan bergegas untuk mandi dan sedikit berkaca bagaimana mukanya setelah mandi.
"Oke, ibu tunggu. Sekalian nanti ngemil di teras ya." ujar Ria.
"Iyaa."
Alan langsung melepaskan semua perlengkapannya. Langsung mencari baju kotornya hari ini dan memasukkan ke mesin cuci dan ditinggal mandi. Dan benar saja, saat berkaca mukanya lebam dan memerah.
Mau tak mau ia juga harus ketemu ibu dan ayahnya jadi ya pilihannya hanya ada hadapi.
"Muka kamu kenapa? Kamu berantem Mas?!" seru Ria panik ketika melihat Alan keluar kamar dengan keadaan segar tapi lebam lebam. Adji yang mendengar kepanikan istrinya langsung berjalan cepat dan benar saja Alan disana dengan semuka lebam.
"Kamu dipukulin siapa?" tanya Adji tegas. Ini bukan berantem, Alan terlihat seperti dipukuli. Adji yakin Alan bisa kalau untuk berantem atau mempertahankan diri. Kalau sampai separah ini ada dua kemungkinan, pertama musuhnya banyak dan kedua dia tidak melawan.
"Habis main tinju sama temen." jawab Alan jujur dan setengah berbohong.
"Main?"
"Kamu ikut geng mas?" tanya Ria khawatir. Ia takut Alan terjerumus pergaulan seperti itu. Walau anaknya tak pernah keluar tapi Ria takut Alan melakukannya diam diam.
"Enggak bu, aku beneran main tinju, yang tinju pake sarung tangan MMA." jelas Alan.
"Ya ngapain kamu tinju sama temen kamu?"
Alan diam, iya alasannya sepele. Kalau dia mengakui, ayahnya yang akan emosi saat itu juga.
"Diajak."
"Kamu mau karena?"
"Karena aku juga mau Yah." jawabannya ambigu.
"Jelasin. Alasannya apa sampai harus adu tinju seperti itu? kamu ayah ajari taekwondo bukan untuk berantem tidak jelas seperti itu." marah Adji. Kalaupun Alan berantem dengan teknik taekwondo seharusnya tak separah ini.
"Mas, kamu berantem karena apa? ayah sama ibu harus tau, nanti kalau sampai tiba tiba tuntutan datang kami sudah tau ceritanya." ucap Ria lembut. Ia khawatir yang berurusan dengan Alan itu anak anak orang kaya yang kebal hukum dan berakhir Alan yang 'hilang'.
"Kamu ada masalah disekolah? kamu ada masalah karena apa ? ngomong Alan." tegas Adji.
"Maaf yah, bu." ucap Alan pada akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sense Of Rythm ✔
Romance[COMPLETED] [IRAMA'S SERIES 2] Sense Of Rythm adalah sebuah rasa dari sebuah irama. Tak seperti sebelumnya, cinta yang baru saja timbul tanpa alasan. Saling mencari dan berusaha mendapatkan. Hingga menemukan sebuah 'rasa' dalam irama. Rumit, menyeba...
