jam satu malam, bukannya ketenangan yang didapat Ran tetapi malah pusing. di jam seperti itu enaknya tidur tetapi dia harus kebisingan dengan suara adiknya yang sedang tantrum.
untungnya besok adalah weekend.
yang Ran dengar, ibu dan ayahnya sudah mencoba menenangkan Rindou. tetapi adiknya masih saja menangis, Ran mendengus kesal dan mencoba menghampirinya.
" kenapa, sih? " ucap Ran saat datang ke sana. ayahnya menatapnya dan menghela nafas.
" adek sakit, gantian dong yang nenangin. ayah mau nonton bola "
Ran memutar ke-dua bola matanya kesal lalu masuk ke dalam kamar Rindou, di sana sudah ada ibunya yang sedang mengompres Rindou.
terlihat Rindou yang sudah memejamkan matanya, tetapi masih menangis walaupun tidak sekeras tadi.
" lho, itu tidur apa masih nangis bun? " tanya Ran dengan suara yang dibuat sepelan mungkin.
" udah cape nangis dia, nantinya juga ketiduran. lha abang ngapain kesini? "
" tadinya mau ikut nenangin, tapi kayanya telat hehe " Ran menyengir sedangkan ibunya mencibir pelan.
" abang, tolong kompresin adeknya bentar dong. bunda mau ke kamar mandi bentar " ucap bunda yang dibalas dengan acungan jempol oleh Ran.
Ran menatap Rindou yang masih terisak walau matanya sudah terpejam, ia menyentuh dahi Rindou untuk mengetahui suhu tubuhnya.
" panas banget, pantes rewel " gumamnya.
Ran dengan telaten mengompres dahi Rindou, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. tanpa sadar dia ikut ketiduran disamping adik tercintanya.
sang ibu yang baru kembali geleng-geleng kepala. " malah ketiduran juga " lalu mengambil handphone dan menjepret kakak adik tersebut untuk dikirim ke pacarnya Ran.
pukul lima pagi, Ran terbangun.
duh, ketiduran ternyata
dia noleh ke arah Rindou, lalu ngecek suhunya.
" masih panas.. " gumamnya.
Ran menatap adiknya dengan khawatir, lalu mengecup dahi dan pipi Rindou secara bergantian.
" cepet sembuh, adek " ucapnya sebelum kembali ke kamarnya sendiri untuk melanjutkan tidur.
Ran terbangun kembali pada jam 9, ia memutuskan untuk turun ke bawah dan sudah melihat Rindou yang sedang menonton kartun dengan bye-bye fever yang menempel di dahinya.
Ran tersenyum dan menghampiri adiknya, dia mengambil posisi tidur dengan menaruh kepalanya di paha Rindou sambil menonton kartun juga.
bukannya marah, Rindou masih fokus menonton kartun, sang ibu datang membawakan bubur bayi untuk si bungsu.
" abang ini malah tiduran di paha adeknya " ucap bunda.
Ran hanya terkekeh dan menatap Rindou dari bawah, adiknya itu masih terlihat menggemaskan. ia menyadari saat Rindou sudah besar nanti dia tidak bisa melakukan hal-hal seperti ini dengan adiknya itu. maka dari itu Ran menikmati waktu bersama dengan adik kecilnya sebelum tumbuh besar.
" adek Nyinyo jangan cepet gede ya? " ucap Ran secara tiba-tiba.
Rindou hanya mengangguk " kaki Nyinyo pegel, abang "
Ran menyengir sebelum merubah posisinya menjadi duduk, ia mengusap rambut Rindou dengan lembut.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐁𝐑𝐎 || 𝐇𝐚𝐢𝐭𝐚𝐧𝐢 𝐁𝐫𝐨𝐭𝐡𝐞𝐫
Random13 tahun Ran menjadi anak tunggal, di umur 14 tahun kini ia menjadi anak sulung karena kehadiran adiknya. Dan sekarang dicerita ini adalah tahun kelima seorang Ran mempunyai adik. Bagaimana kisahnya? You as Ran girlfriend.