Drett..dreet...
Suara handphone berkali kali tak membuat saint terpaksa bangun dengan tubuh terasa pegal semua.
"Apa?"
"Saint astaga baru saja kau naik pangkat sudah semena semena saja"
"Intinya?" Tanya singkat Saint karena tak ingin mendengar ocehan Mean yang membuat telinganya panas.
"Chekkss hari kau ada meeting penting saint. Bersama salah satu perusahaan besar Eropa.."
"Astaga aku lupa Mean aku segera kesana". Saint segera bangun, saint mendesis sakit karena rasa sakit ngilu diarea selangkang ulah suaminya. Saint tertatih tatih jalan kekamar mandi dan menahan rasa sakit.
Sampai Kantor saint menetralkan wajah kesakitannya, supaya tak ada yang curiga. Didepan ruangan mean sudah bersekap tangannya didada menatap tajam saint.
"Untung saja pihak perusahaan eropa mengabarkan untuk jamnya diundur jika tidak mati kita"
"Sudah kau siapkan?"
"Sudah semua tinggal menyambut tamu besar"
Saint masuk dirungan pertemuan dan mendaratkan bokongnya dikursi.
"Apa kau tak dibangunkan Perth?"
"Tidak, karena biasanya aku dahulu yang bangun"
Perth memang tak pernah membangunkannya setelah bercinta, perth akan membiarkan saint tidur beristirahat sampai saint puas. Kebiasaan itulah yang membuat saint tak marah ketika perth lebih dulu bangun meninggalkan saint sendiri dan berangkat bekerja tanpa berbicara pada saint.
Selang beberapa menit tamu penting saint datang dan segera membahas kerja sama mereka. Bukan hanya betbicara soal kerja sama mereka tapi mereka jugan sedikit mengobrol membuat susana pertemuan tak semenegangkan keryawan pikirkan.
"Senang memulai kerja sama dengan anda tuan saint, sungguh ide mu sangat cermelang, semoga Proyek kita berhasil tuan saint"
"Sama - sama tuan Varlen san aku berharap ide ku tidak mengecewakan anda".
"Hahha ok tuan saint kami pergi karena kita harus mengejar pesawat kami"
"Iya tuan Varlen hati hati"
"Sampai jumpa di eropa"
"Sampai jumpa lagi tuan varlen tunggu kedatanganku"
Diruangan besar saint, saint dan mean segera mendaratkan bokong mereka pada sofa dengan merengangkan tubuh mereka.
"Ah pertemuan tadi sangat lama membuat tubuhku pegal saja" ujar Mean.
"Oh ya yang keeropa nanti siapa?"
"Kita lah siapa lagi"
"Kalau liburan mau, kalau soal pekerjaan entah kenapa tak minat"
"Kau kalau tak minat bekerja kirimkan aku surat pengunduran dirimu saja gampang kan"
"Ganpang gampang. Memang gampang tapi nanti susah cari kerja dengan pangkat tinggi, aku ogah sekali".
"Makanya jangan ngeluh saja" ujar saint melangkah kekursi kebesarannya mengecek file berkas lain.
1 bulan tak terasa saint sudah memulai proyek ini saint dan mean sibuk sampai sampai mereka sering meninggalkan makanan dengan tepat waktu, perth yang melihat kebiasaan sang istri akhir akhir membuatnya khawatir dengan kesehatan saint. Karena hal itu perth selalu menelfon setiap waktu makan, perth akan mengirim makanan sehat kepada sang istri. Waktu makan malam tiba perth mengeryitkan alisnya melihat wajah sang suami yang terlihat sedikit pucat.
"Sayang apa kau tak apa-apa?"
"Tidak perth memang ada apa?" tanya saint bingung dengan pertanyaan sang suami.
"Wajahmu pucat sayang, apa kau serius kau baik baik saja?"
"Pucat?. Tapi tubuh baik baik saja perth sungguh bahkan aku tak merasakan sakit apapun, aku sungguh baik baik saja perth"
"Jika sedikit kau merasakan sakit katakan kepadaku ya sayang"
"Eumm" ujar Saint, perth mengelus tangan saint dengan menatap mata sang suami penuh cinta.
"Khemm,kheem, tolong jangan umbar kemesrahan didepan kami, harap mengerti" ujar Bai yang cengah melihat kebucinan kakaknya. Clara san Ae hanya bisa terseyum melihat Bai yang protes dengan merapoutkan bibirnya.
Pagi hari ketika ingin bangun dari ranjang entah kenapa rasa pusing menerjang kepala saint, tapi saint tak memerdulikan hal tersebut dan tetap melakukan kebiasaannya setiap bangun pagi sebelum perth bangun. Entah kenapa semakin Siang hari saint merasakan kelelahan dan rasa pusing yang semakin menjadi jadi membuatnya tak mampu berjalan kembali. Saint memijat keningnya yang terasa berdeyut.
"Ada denganmu saint, kau sakit?"
"Hmm kepalaku pusing sekali"
"Sudah meminum obat?"
"Belum abilkan"
"Nih" ujar Mean dengan menyerahkan obat pusing kepada sang sahabat. Saint segera meminum obat pemberian mean tapi ketika menalan obat itu..
Hoekk
Saint segera kekamar mandi dan memutahkan obat itu kembali bukannya hanya obat yang keluar tapi semua isi perut saint juga keluar membuat saint lemas dan duduk dilantai karena tak kuat menopang tubuhnya lagi. Mean yang melihat saint segera membantu saint berdiri dan berjalan menuju kamar pribadi.
"Apa perluku panggil dokter perusahaan?"
"Terserah" jawab singkat saint lemas.
Dokter perusahaan datang segera memeriksa saint, ketika pengecekan dokter mengeryitkan dahinya karena memikirkan sesuatu yang membuat saint dan mean bertanya tanya.
"Maaf tuan saint lebih baik kau datang kerumah sakit secara langsung."
"Memang ada dokter apakah parah?" tanya mean.
"Tidak tapi sepertinya dugaan ku salah jadi lebih baik lanjut periksa kerumah sakit"
"Katakan dok memang aku sakit apa?"
"Tapi tuan saint"
"Katakan dokter?"
"dari hasil pemeriksaanku dengan tanda tanda yang ada ucapkan aku menduka jika anda sedang mengandung"
"Mengandung?"
Saint terdiam dengan mengelus perutnya. Lalu menatap dokter dengan tajam.
"Jangan bocorkan apapun soal keadaanku ini doktee ingat itu, kau tahu jika kau mombocorkannya kau tahu akibatnya nanti"
"Ba-ba-baik tuan saya pemirsi"
Setelah dokter pergi mean mendekati sahabatnya dengan menghela nafasnya.
"Apa yang kau lakukan setelah ini, ini kabar yang bahagia bagi perth" ujar mean tahu isi pikiran saint yang masih belum menerima kenyataannya.
"Aku tak tahu" jawab saint dengan memalingkan wajahnya menghadap jendela.
"Aku berharap kau tak melakukan hal bodoh yang akan membuat perth marah besar kepadamu saint"
Mean pergi meninggalkan saint setelah mengucapkan peringatan kepada sahabatnya, mean ingin saint menerima keadaannya dan menerima anak yang dikandung.
Mean tahu segala tentang sahabat yang tak ingin mempunyai rahim, bahkan mean yang memperkenal dokter yang dapat mengoprasi saint, mean bahkan sangat bahagia ketika dokter mengabarkan padanya jika saint tak jadi operasi, karena jika saint melakukannya hal tersebut dapat membuat saint merasakan efek sampingnya dan mean tidak mau sahabatnya yang mean anggap adiknya menderita karena hal tersebut mean selalu menolak keras dengan keputusan saint.
Akhirnya saint hamil juga gimana alur yang kalian tunggu ini senang atau gimana?.....
Selamat membaca..... terimakasih sudah setia menunggu Author Apluod bab lagi....🖤❤🖤❤🖤❤🖤❤🖤❤ see you next chapter....
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Always By Your Side "Tanapon" (End)
Roman d'amourLangsung baca aja karena bigung deksripsinya! Ingat yang homopobic jangan salah lapak ini bukan cerita yang normal jadi jangan baca!
