Saint melangkah ragu kembali ke kamarnya, melihat saint yang begitu lambat berjalan membuat mean jengah.
"Saint ayo cepat..kau lelet sekali"
"Mean kau kembali lah dulu kekamarmu"
"Jika aku kembali dulu kau mungkin tak masuk kekamarmu"
"tapi.."
Tok tok
"Perth bukak pintunya.." teriak mean membuat saint kaget. Rasanya saint ingin kabur, bagaiamanapun dia belum siap.
"Perth lihat istrimu dia mau kabur" teriak mean membuat perth keluar dari kamar dengan wajah dinginnya.
Plak
"Istri istri" Timpal saint kesal jika mean menyebutnya istri.
"Kembalilah mean" ucap perth dingin.
"ok aku kembali dulu my boss... dan selesaikan sendiri urusanmu bye bye"
"Ai sat kau mean.." ucap saint kesal dengan tingkah mean.
Hanya menyisakan saint yang tidak berani memandang suaminya dan perth yang memandang datar istrinya.
"Apa kau tetap ada diluar jika, tidak aku tutup pintunya"
"Apa aku boleh keluar lagi?.." tanya saint ragu.
"Jika kau berani"
"Chekk itu sama saja kau melarangku.. dasar tanapon.." kesal saint dengan menghentakkan kakinya.
Didalam kamar saint bingung ia harus berbicara dari mana kepada perth, sedangkan perth begitu fokus pada laptopnya tanpa memandang saint.
"Perth?"
"Hmm"
"Jadi seperti ini...e....perth e..."
Perth menatap wajah suaminya itu karena sejak tadi saint belum berbicara.
Saint terdiam setelah perth menatapnya dan meringis.
"Hehhe tak jadi aku lupa" ujar saint mengangkat tubuhnya berlahan kabur dari hadapan suaminya.
"Saint duduk"
Saint terdiam kaku mendengar suara dingin tegas sang suami. Sungguh saint heran kenapa akhir-akhir ini ia begitu takut dengan wajah dingin perth.
"ya?"
"lanjutkan apa yang ingin kau katakan tadi!"
"Tak jadi perth aku lupa"
"Kau berbohong saint.."
"Cheks ok huff ....perth ...maafkan aku aku salah jangan marah jika kau marah aku akan.."
"Akan apa hmm?"
"Akan..."
"Akan.."
"Akan terserah ku apa yang ku lakukan"
"Istirahatlah dulu nanti sore kita akan kedokter"
"Auh kenapa? siapa yang sakit?"
"Dirimu"
"Aku. Aku begitu sehat aku tidak sakit.."
"Saint istirahatlah sekarang!"
"Chek iya... tuan tanapon jika kau terus terusan marah kau akan cepat tua.."
Mendengar ucapan suaminya perth menatap saint tajam dan menghela nafasnya.
Sore harinya
"Bagaimana keadaan bayi kami cher tidak apa-apa kan?"
"Semua baik, tidak perlu ada yang di khawatirkan perth. Lakukan sesuai arahanku terus saja.."
"Syukur aku khawatir terjadi apa-apa karena kemarin perutnya tergencet oleh seseorang"
"Tenang saja perth".
Saint memandang bosan melihat perth dan dokter berbicara. Saint sangat ingin keluar dari ruangan dokter kandungan sahabat perth.
"Perth aku keluar dulu ya..?" ucap saint lirih di samping telingan suaminya. Perth yang mendengar pertanyaan saint menatap dingin.
"Jika istrimu ingin keluar dulu tidak apa-apa perth dia terlihat begitu bosan"
"Hmmm jangan aneh-aneh" ucap perth.
" aku bukan anak kecil yang membuat keributan" jawab saint dengan kesal melangkah keluar dari ruangan.
Saint berjalan menelusuri rumah sakit mencari ruangan seseorang. Tak sengaja mata saint melihat seseorang didalam ruangan dengan banyak alat dari kaca besar yang menghiasi ruangan tersebut. Seorang wanita lemah yang sedang berbaring di brangkas dengan banyak alat ditubuhnya.
"Waktu sadar dia mengamuk, dan tiba -tiba ia melukai dirinya. Dia begitu terlihat marah terhadap dirinya bahkan dia betkata maaf kepadamu" ucap tiba - tiba seseorang berpaikaan jas putih dengan membawa Stetoskop yang dikalungkan dilehernya.
"Dia bukan Victoria tapi Alina"
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin bahkan aku pernah tak sengaja melihatnya melakukan hal sama saat yang kau lihat tapi mungkin yang kau lihat lebih parahnya"
"Mungkin"
"Nama asli wanita itu Alina wanita yang lemah lembut selalu memingtakan belajar dari pada foya-foya padahal dia anak dari orang kaya dia sudah lama berteman dengan orn, bahkan Alina yang memperkenalkan aku dengan Orn. Alina selalu membantuku mendekati Orn. Tapi sayang aku dan Orn tak tahu wanita yang begitu bahagia didepan kami mempunyai trauma yang besar sampai besarnya trauma itu membuatnya memunculkan sifat lain dari dalam dirinya"
"Jika apa yang kudengar dari mu tentangnya..aku berharap sifat lain itu muncul"
"Untuk itu aku meminta bantuanmu, dia wanita baik, tolong kau bantu dia supaya dia kembali menjadi Alina yng sesungguhnya untuk selamanya"
"Akan ku usahakan sobat tenanglah," jawab dokter tersebut yang juga sahabat saint selain mean.
Perth berjalan kemari menulusuri rumah sakit mencari saint yang entah kemana. Perth menelfon saint berkali kali dan tak ada jawaban.
"Saint...kau dimana..angkat telfonku..." ucap perth kesal, bercampur khawatir.
Saat ingin ke mobil, mata perth tak sengaja melihat suaminya yang begitu bandel itu sedang menikmati kue dengan nikmat. Melihat suaminya itu perth melangkah cepat kearah cafe disebrang rumah sakit.
"Saint Tanapon Begitu lezatnya kau menikmati deesert didepanmu sampai kau lupa mengabariku hmm.."
suara penuh penekanan itu menggama didalam cafe membuat semua orang menoleh kesumber suara. Saint yang begitu mengenal suara itu menjadi terdiam dan meneguk liurnya.
"Pulang sekarang..."
"Hehehe perth kau sudah selesai ya ..."
"Pulang sekarang saint tanapon"
"Iya nanti ini belum selesai"
"Berani kau membantah"
"Cheekkk iya iya jangan marah -marah gitu gak bisa ya dilihat banyak orang, banyar dulu sana aku gak bawa dompet" jawab saint kesal dengan suaminya. Melewati orang orang yang menatap mereka membuat saint menutup wajah karena malu.
Dimobil saint mengoceh tak jelas menirukan gaya bicara perth yang marah-marah dimobil. Perth menceramahi saint selama perjalanan membuat saint begitu kesal menuju kamarnya.
"Apa kau mendengarkanku saint tanapon"
"Hmm"
"Jangan bersembunyi didalam selimut tatap mataku jika kau Mendengarkanku"
" Iya tuan tanapon aku mendengarkanmu"
Malam harinya saint terbangun melihat jam. "Shia.. sudah malam tapi perutku lapar sekali". Saint melihat kearah samping tapi tak menemukan perth disamping. Ketika ingin membuka pintu, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Mau kemana hmm.."
"Aku lapar.."
"Kau bisa menelfon pihak hotel memesan makanan"
"Aku Ingim makanan yang tidak ada di hotel"
"Saint ini sudah malam"
"Perth apa kau tidak mencintaiku dan anak mu kami ingin yang diluar..."
"Hmmm pakai jaket yang tebal dan tunggu aku bersiap"
"Ok"
Selamat membaca.....
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Always By Your Side "Tanapon" (End)
Roman d'amourLangsung baca aja karena bigung deksripsinya! Ingat yang homopobic jangan salah lapak ini bukan cerita yang normal jadi jangan baca!
