Hauhan baru ingat kejadian yang menyebabkan kenapa dirinya bisa ada bersama Lizi. Sebagian sudah ia lupa, pada siang itu jelas Hauhan ingat bahwa dirinya masih berada dirumah Liyang Wu.
Membantu memberes bereskan rumah bersama sang Istri. Namun beberapa saat kemudian Hauhan merasakan sesak teramat sangat hingga membuatnya tak bisa bernafas.
Hanya sampai itu ia tidak ingat apa apa sebab jelas sekali dirinya jatuh 2 hari yang lalu.
Hauhan menyesap secangkir kopi yang ia buat sendiri dan duduk dibalkon kamar lizi. Menikmati indahnya malam dengan angin dingin menyapa tubuhnya.
Hauhan curiga jika Lizi adalah orang yang akan membebaskan dirinya dari segelnya sebab selama 2 hari energi Qi nya terisi terus menerus saat berada disamping Lizi.
Ia merasa lebih kuat dan juga sehat.
...
Pagi ini Hauhan merasa kasihan pada Lizi. Hanya perkara Lizi bangun kesiangan dan tidak sempat membuat sarapan Lizi dihina habis habisan.
Hauhan hanya menatap Lizi iba beberapa kata kata kasar keluar dari mulut ayahnya Xueyi. Xueyi hendak meninju Lizi namun dengan cekatan Hauhan menangkap tangan Xueyi yang diudara.
lizi hanya memakai baju tidurnya kerah bajunya ditarik oleh sang ayah. Ini salahnya juga karena begadang untuk belajar. Lizi bangun kesiangan sampai tidak sempat membuatkan sarapan.
Lizi menatap tangan ayahnya yang menggantung diudara. Dengan wajah yang keheranan.
...
aku melihat kejadian aneh pagi ini, saat ayahku hendak memukul si baj*ngan kecil itu pergerakannya seperti ada yang menahan.
aku membantu menarik mundur tangan ayah yang menggantung diudara, ayahku menatapku heran. Ia melihat kepalan tangannya dan melihat Lizi yang terduduk dilantai.
Bukankah ini aneh? Aku hendak menarik kerah kaus Lizi namun beberapa detik setelah aku menarik kausnya tubuhku merasa terhantam kekuatan besar sampai terpental mundur.
Sama seperti kejadian tempo lalu dimana aku merasa diriku dicekik hingga kesulitan bernapas.
aku menatap ayahku yang menatapku juga, kita merasakan perasaan yang sama.
merasa ada yang menjanggal aku menarik ayahku pergi dari ruang tamu.
...
lizi sampai disekolah ia tak henti hentinya memikirkan kejadian tadi pagi merasa bersyukur.
lizi tersenyum senang, hari ini ia akan belajar dengan fokus sebab ia akan mengikuti Olimpiade matematika mewakili sekolahnya.
Sejak kejadian itu, setiap hari Hauhan akan menemani Lizi, apapun yang Lizi lakukan tak luput dari perhatiannya.
Pagi pagi buta Hauhan dengan inisiatifnya sendiri membuatkan sarapan pagi, Hauhan menemani Lizi belajar matematika semalaman. Ia dapat menebak jika Lizi akan bangun kesiangan.
Dan benar saja, Lizi belum bangun padahal ini sudah pukul 5 subuh. Hauhan memilih untuk menuju dapur. Menggantikan tugas Lizi dengan senang hati.
Ia menggunakan apron memasak, memotong bumbu dan melakukan aktifitas.
Selama berganti tuan, ia tidak akan sudi melakukan hal diluar tugasnya namun kali ini berbeda. Hauhan iba pada Lizi tak seharusnya anak seperti Lizi harus mengerjakan hal yang tidak semestinya. Jadi Hauhan yang memang juga hobi memasak membantu lizi.
Lizi dengan tergesa gesa turun dari lantai dua tepat pukul 06.00. Iya yakin hari ini akan mendapat amukan, sebab ia terlambat membuat sarapan.
Hendak menuju dapur ia dikagetkan dengan mangkuk dan piring yang tertata rapi diatas meja.
Lizi dengan ragu ragu mendekati meja makan dan kaget dengan masakan yang sudah berada disana, dengan asap yang mengepul.
Hal itu membuat Lizi takut, sebab pagi pagi saat ia terlambat untuk membuat sarapan. Beberapa menu makanan baru sudah ada dimeja.
Sangat tidak mungkin jika ayahnya atau Xiujie yang memasak. Takut masakan itu berbahaya Lizi mencicipinya. Rasanya benar benar Lezat, Lizi tersenyum. Kali ini ia lagi lagi selamat.
di sekolah Hauhan hanya menatap jendela luar kelas Lizi. Mendengar Lizi asik berbicara dengan dua sahabatnya. Entah membicarakan apa Hauhan tidak tertarik
Karena jam kosong membuat siswa dan siswi sangat ribut. Hari ke3 Hauhan bersama lizi tidak lah menarik jadi Hauhan memilih untuk berjalan jalan keluar kelas toh Lizi aman aman saja sampai sekarang.
"Hah apa iya?" Tanya reuming tidak percaya akan cerita yang diceritakan Lizi. Yah lizi menceritakan kejadian dimana ia diseret oleh Kehuai ke atap untuk dibully.
Namun dengan ajaib Lizi bisa melawan mereka semua.
"Kalung nya seperti apa?" Yaode penasaranpun ingin melihat bagaimana wujud dari liontin tersebut.
Lizi mengeluarkan kalung yang ia pakai dari balik bajunya. Itu tertutup kerah Hem baju seragam yang ia kenakan.
Yaode yang paham betul fashion tak mengira kalung tersebut sangat indah. Reuming mengambil dan menyentuh kalung Lizi.
"Ini seperti kalung biasa yang ada ditoko" Reuming berkata jujur toh memang banyak kalung seperti itu ditoko toko perhisan.
Beberapa kali ia lihat, saat menemani ibunya berbelanja.
Yaode wen mengambil kalung tersebut kemudian mengecek keaslian kalung tersebut.
"Ini emas putih asli dengan batu berlian kecil kecil yang asli. Harga nya sangat mahal lizi kau bisa membeli sebuah apartmen dengan kalung ini. Tapi aku tidak tau batu biru ditengah ini batu apa." Yaode menjelaskan setelah meneliti dengan seksama.
Jangan salah Keluarga Yaode juga berbisnis dibidang emas dan berlian. Tentu ia bisa membedakan mana yang asli dan yang tidak.
Itu membuat Reuming menggeleng. " ditoko kemarin cuman 200 ribu"
Tak
Sebuah jitakan melayang dikepala Reuming.
"Itu imitasi bodoh, ini asli. Apa kau meragukan perkataanku, kau lupa aku anak siapa!." Omel Yaode seenaknya menjatuhkan harga diri dirinya.
Yaode yang pada dasarnya cerewet langsung memotret liontin tersebut dan mengirimkan foto pada ayahnya.
Beberapa saat kemudian ia mendapat telpon dari sang ayah.
Vido call
"Hallo ayah, lihatlah ini asli kan." Dengan menggebu Yaode menunjukkan kalung tersebut pada ayahnya yang sangat ahli dibidang perhiasan. Cukup dengan pantulan cahaya yang dihasilkan dapat membuat.
Pria paruh baya didalam telpon. "Lebih baik kamu suruh Lizi datang ke toko kita. Untuk mengecek keasliannya. Ayah tidak bisa memastikan jika Video call." Jawabnya membuat Yaode kecewa.
Sementara Lizi mengangguk maklum, sebab ia tau ayah Yaode tidak akan sembarang berbicara sebelum mengetahui barang yang berasangkutan secara langsung.
Dulu saat bundanya masih ada ia kerap bersama Xiujie pergi ke toko perhiasan Yaode. Untuk mengetes keaslian berlian yang ibunya beli dari sahabatnya.
Ia mencek dengan sangat teliti dan hati hati, sebab tidak mau merusak reputasi tokonya yang sudah ia bangun bertahun tahun.
Yaode mematikan telpon setelah mengucapkan salam, wajah cemberut Yaode memancarkan kekecewan. Lizi mengusap punggung Yaode.
"Tidak apa apa, aku percaya ini asli. Kau kan anaknya dan kau ahli dalam perhiasan aku sudah percaya." Perkataan itu membuat nya sendikit senang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reinkarnasi Ratu Siluman
Fantasi"Aku sudah menantimu selama 5000 tahun, dan kau bereinkarnasi jadi seperti ini?." Penantian Ratu keabadian membuatnya terkurung didalam sebuah liontin perak dengan baru biru sebagai buahnya. Ia tak bisa hidup bebas bahkan hampir sekarat didalamnya. ...