Hidup keras di kota besar membuat gengsi Yovita ingin selalu punya segalanya. Masa bodoh jadi benalu dalam hubungan gelap yang ia jalin dengan pria yang jauh lebih matang usianya yang menting pria itu mapan dan bisa memenuhi gengsi keinginan yang ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wididih... rame banget nih yang baca Ani² wkwkwk
Udah siap dibikin tercengang sama kelakuan mba Vita lagi?
Yaudah yuk... gass...
30+ VOTE 30+ COMMENT
°°°
Yovita merengek ingin diantar ke salah satu pusat perbelanjaan paling bergengsi di ibukota, alhasil Sandi melipir memarkirkan mobil Mercedez-nya di gedung parkir sementara Yovita sudah turun duluan, menginjakkan kaki di dalam mall-nya supaya tidak terlalu ketara kalau mereka pergi berduaan saja.
Ini adalah kesempatan emas bagi Yovita. Dengan membawa ATM berjalan dengan saldo tak terbatasnya, Yovita rasa ia bebas mau membeli apa saja tanpa perlu mikir berapa uang yang harus ia sisakan dalam rekeningnya. Karena merasa kebebasan itu hadir untuknya, Yovita tanpa beban melangkah ke salah satu toko tas dengan merk cukup bergengsi.
Beep... beep...
Ponsel di dalam tasnya berdering. "Oh ini pasti si Om nih!" Soal gaya hidup dan privasi, Yovita memisahkannya menjadi dua hal yang berbeda. Ia punya dua ponsel untuk menjaga identitas dan reputasinya supaya tidak ada yang curiga kalau ia adalah 'ani-ani' yang menjadi benalu dalam kehidupan pria yang lebih tua dan kaya raya seperti Sandi.
"Halo Om?"
"Kamu di sebelah mana, Vit?"
"Ooh... aku di PIM 2, di toko tas yang waktu itu aku tunjukin ke Om."
"Aku mau beli yang waktu itu aku pengen ya!"
"Hmm... iya, saya susul kamu ke sana sekarang ya!"
Selalu Yovita gunakan jurus suara manja dan mendayunya saat merengek minta dibelikan barang mahal pada Sandi. Untungnya, tidak lama kemudian ATM berjalannya Yovita itu muncul di toko yang sama - berdalih melihat-lihat tas yang dipajang di sana sampai pelayan toko menghampiri untuk melayaninya.
"Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu mungkin?"
"Kebetulan kita lagi ada harga special untuk beberapa model pak."
"Ooh... anu, saya mau lihat-lihat dulu ya mbak." Tolak Sandi halus.
"Kalau boleh tahu, tasnya untuk siapa ya pak?"
Sandi mencuri-curi pandang dengan Yovita. Keduanya saling menatap memberi kode supaya transaksi berjalan tanpa curiga. "Bentar ya mba, saya mau ke sana dulu!" Ia sedang berusaha meloloskan diri dari pelayan yang mendekati. Sandi dekati Yovita dengan langkah mundur, lalu dari sakunya ia keluarkan kartu debit miliknya agar Yovita mengambilnya.
Nah kalau sudah begini, Yovita bisa segera melakukan transaksi pembayaran - menukar uang dengan tas yang sudah ia idamkan lama. Ini adalah cara untuk mengelabui agar tidak terlalu ketara kalau Yovita datang bersama 'gadun'-nya.