{ 19 }

162 11 0
                                        

Heyoo reader... maaf yaa aku udah telat banget upload cerita huhuhu T_T seperti biasa karena tugas kuliah yang padat.

But aku janji bakal namatin ini secepatnya koi karena aku udah merencanakan alur dari sebelum-sebelumya.

Gausah panjang lagi. Kita langsung cusss yaa gess yaa... HAPPY READING! SEMOGA KALIAN SUKA.

.

.

.

Elsya berjalan mondar-mandir hampir ke segala sisi. Ia tanpa henti mengigit jari sampai terkelupas, tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa cemas yang tersulut di hatinya.

Pikiran terus memaksa Elsya membayangkan ketakutan yang berasal dari manusia berjubah itu. Gelap, ditambah teriakan histeris dari Askar, membuat Elsya ingin terbebas secepatnya.

Namun ada hal yang lebih mengagetkan lagi, karena Elsya sendiri telah menyaksikan Kenav sedang membuka jubahnya. Waktu itu Kenav berdiri di depan pagar dengan posisi mencurigakan.

Kak Kenav, kenapa kakak nyembunyiin ini semua? batin Elsya cemas.

---- oo ----

"DEMI TUHANN!!"

Semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan insiden yang cukup mengenaskan. Lars dan Askar ditemukan dalam posisi tengkurap. Cairan merah kental mengotori separuh lantai, ditambah beberapa serpihan kaca.

Pak Satpam memeriksa mereka dengan selop tangan di bawah pengawasan Pak Darta dan semua mahasiswa yang tersisa.

"Cuma tubuh Askar doang yang  hangat," ungkap Pak Satpam.

"Kenapa masih belum ada tindakan apapun dari kampus?! Kalian sengaja berencana mau bunuh kita semua?" bentak Kenav.

"Bapak udah berusaha menghubungi sopir bus tapi masih susah sinyal." Berulang kali Pak Darta mengangkat dan menurunkan handphone, memastikan nomor tujuan terhubung.

"Bentar lagi kita pasti pulang kok," timpal Pak Satpam.

"Terus bagaimana dengan mayat Lars? Apa kalian tega membiarkan Lars membusuk gitu aja?" Tangan Kenav gemetar.

"CUKUP Kenav!! Omonganmu udah keterlaluan! Saya mana mungkin mau membiarkan ponakan saya seburuk itu?!" protes Pak Darta.

Di waktu yang bersamaan, Pak Darta langsung menghentikan aktivitas menelpon, karena sebuah pisau sudah menodong lehernya. Tak lain berasal dari tangan Nara.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!!" Pak Darta berpindah menghindari Nara.

Bahkan orang-orang di sekitar sudah heboh duluan. Elsya berteriak paling kencang dibandingkan semuanya.

Nara menghela nafas pelan. Ia melonggarkan todongan hingga menurunkan pisaunya.

"Sorry Pak, saya cuma menguji itu makhluk." Mata Nara menyoroti tubuh Askar. "Barangkali dia tiba-tiba bangun habis dengerin suara keras."

Caranya agak mengerikan juga, batin Elsya.

"Terus apa yang mau lo lakuin sama Askar kalo bangun?"

Saking muaknya, Nara sampai malas menjawab. Lagi-lagi Nara hanya mengontrol laju udara di hidung. Nara terlihat mulai fokus terhadap kronologi kejadian. Menyelidiki satu persatu komponen dengan teliti.

Ada kaca pecah yang gue rasa bukan serangan dari dalam. Ini seolah menunjukan kode dari Lars.

Pak Satpam yang paham maksud dari tatapan Nara, langsung angkat bicara. "Aneh banget kacanya pecah tapi pentungan Askar kehempas jauh. Iya kan?"

Theory 247  ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang