Huhu udah lama banget ga nulis ini cerita T_T semoga masih ingett yaa. Tapi jangan khawatir, aku bakal tetap ngusahain alur ceritanya ga ngawur kok hehehe
HAPPY READING ALL 🤍
DASAR KALIAN SEMUA! MEREPOTKAN SAJA!
Nara, satu-satunya mahasiswa yang selamat dari insiden kemarin, namun tidak terselamatkan dari omelan Pak Darta. Tanpa terasa dosen paruh baya itu sudah membentak Nara lewat dari 10 menit.
"KALAU BEGINI SIAPA YANG JADINYA REPOT? BAPAK KAN? KAMPUS KAN? APA JADINYA KALAU SAMPAI ORANG LAIN TAHU?"
"YA TUHANNN... SEBENTAR LAGI POLISI AKAN DATANG. APA YANG BISA KITA JAWAB DENGAN SEMUA INI?"
Nara hanya menunduk selama proses kemarahan Pak Darta. Sesekali ia melamun untuk meratapi nasibnya kemarin.
"Nara!! Kamu dengar Bapak kan???"
"Iya dengar Pak," lirih Nara.
Pak Darta mengacak rambutnya frustasi. Tidak ada satupun solusi yang mencerna isi pikirannya. Pak Darta segera menghela nafas, setidaknya bisa meringankan beban di kepala.
"Dengan sangat terpaksa, kamu harus jadi tersangka utama saat polisi datang! Karena kita tidak punya bukti lagi untuk membantu kamu. Sekarang malah makin parah. Hadehh...."
Sungguh menjengkelkan, bahkan dosen ini tidak memiliki kontribusi apapun bagi Nara selama menyelidiki kasus. Nara dan yang lainnya hanya menjadi boneka atas perintahnya. Begitulah menurut Nara.
Wajah Nara terlihat sangat muak. Benar-benar berada di posisi ingin membunuh orang. Kebetulan badan Pak Darta sudah berbalik. Punggung dosen itu semakin menjauh, sedangkan Nara sudah siap dengan sebuah pisau yang memenuhi saku jeans-nya.
Craatttt!!
ARGGHHHH!!
Akhirnya Nara berani juga melakukan tindakan di luar nalar. Ada rasa kepuasan menyelimuti batinnya. Kini Pak Darta tumbang dalam kondisi dada tertusuk hingga berlumuran banyak darah. Sudut bibir gadis itu langsung lebar.
"Hahahaha!!" tawanya menggila.
Hahaha
Hahahaha
HAHAHAHAHA!!
Alhasil, Pak Darta masih tetap berjalan seperti biasa. Nara baru tersadar dari lamunan. Ternyata semua yang Nara inginkan hanyalah ilusi semata.
Nara kembali memeriksa tangannya yang menggenggam pisau tanpa darah, bersamaan dengan kepergian Pak Darta.
***
Tidak terbayang kondisi Elsya bisa separah ini. Tubuh Elsya pun dibaluri dengan dua helai daun pisang demi meminimalisir efek luka bakar. Deru nafas Elsya mulai lemah, seolah kehilangan semangat untuk bertahan.
Tek.... Tek.... Tek....
Elsya sudah tahu siapa yang datang menghampirinya. Meskipun terkesan sedikit canggung, namun Elsya cukup senang.
Sayangnya, banyak anggota tubuh Elsya sudah tidak berfungsi termasuk bibir. Elsya hanya bisa mempersembahkan secuil senyuman sebagai sambutan. Beruntung Nara langsung mengerti isyarat tersebut.
"Maafin gue ya."
"......"
"Gue bener-bener gak bisa diandelin. Andai saja gue datang lebih cepet."
"....."
Nara mengambil posisi berlutut, menatap Elsya secara mendalam. Hati Nara mulai terenyuh. Terbayang bagaimana rasa sakit itu harus Elsya tahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Theory 247 ✅
Mystery / Thriller[KASUS PEMBUNUHAN] Civitas akademika Universitas Antajaya dibuat gempar akibat sebuah kasus yang merenggut nyawa mahasiswa berprestasi. Nara yakin kalau pelaku sengaja ingin menjatuhkan nama baik kampus sebagai motif pembunuhan. Dari segi pelaku, ad...
