√ 27 (END)

270 13 0
                                        

Are you ready guys?

Lets go!!

Happy reading all.

.

.

.

Sebuah momen yang seharusnya berharga, kini menjadi hancur akibat kesalahan Askar. Deru nafas lelaki itu kian menyempit, bersamaan keringat dingin tanpa henti. Askar mulai lemah, tiba-tiba ambruk di tengah jalan.

"Askar!!"

Para tim medis tidak lagi merasakan denyutan jantung dada Askar. Mereka pun saling mengirimkan sinyal darurat.

"Lakukan CPR!!"

Tangan kanan diletakkan pada bagian sternum, sedangkan tangan kiri menumpuk punggung tangan kanan. Mereka menekan dada Askar berulang kali, selama 2 detik dengan tingkat kedalaman 5 cm.

Nasib buruk di hidup ini tidak sebanding dengan api di neraka, namun orang jahat sudah terjamin akan mendapatkan keduanya.

Askar menyesal...

Suara tangisan kedua orangtua Askar semakin tipis, perlahan hanya terdengar dengung yang menyeruak.


°°°°

"Abang terpaksa bakal dibawa ke singapura buat operasi kak, dia aja masih kritis," suara Berline di seberang panggilan telpon.

Hening....

Aliran darah seolah berhenti. Rongga dada sangat hampa, bahkan untuk sekedar berkedip pun tidak sempat. Sungguh sangat menguras energi.

"Halo kak?"

"Iya, gue masih disini."

"Maaf ya kak, kabar ini pasti terlalu mendadak bagi kak Nara."

"Kalau kalian udah kesana... jangan lupa kabarin gue ya! Gue pasti... bakal siap bantu apapun yang Kenav butuhkan."

"Aku gatau kak. Apakah abang bisa bertahan atau engga?" Berline terisak singkat. "Yang pasti sekarang abang aku sangat kritis, banyak alat yang terpasang di tubuh abang, aku aja sampai gak tega kak, aku kehilangan harapan."

Nara spontan menutup panggilan akibat emosi. Kebetulan Lars muncul dari belakang. Ia berjalan menghampiri Nara secara baik-baik, bukan seperti niat sebelumnya.

"Oh ternyata lo ada disini. Tadi gue habis dari operator lagi ngejar tayangan."

Rasanya menghela nafas pun masih perih, membuat Nara malas menanggapi Lars.

"Lo lagi ada masalah ya Ra? Cerita dulu kek sama temen lo biar tenangan," sarkas Lars

"Hm" ketus Nara yang memilih diam sebagai penyembuh emosional.

"Kalau mau temenan ma gue juga boleh." Deretan gigi Lars mulai terlihat, sangat cocok jika dijadikan iklan pepsodent.

"Ogah! Mulut lo lemes."

"Bjirr nusuk amet ngomongnya. Ketemu dulu gih sama Kenav kalo gitu!"

"Ga bisa, udah keburu." Image Nara semakin runtuh perkara membahas Kenav. Pelupuk mata gadis itu semakin layu dan basah.

"Keburu apa? Masuk kelas?" Sayangnya Lars masih minim empati. Bukan turut bersedih, Lars justru mengernyitkan alis seperti manusia tidak peka.

"Meninggal anjay! Susah amet bikin otak lo nyampe!" bentak Nara.

Theory 247  ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang