√ 22

105 12 7
                                        

Sayangnya, cahaya bunga matahari mulai meredup. Isak tangis memenuhi seisi ruangan saat keluarga Elsya kembali berkumpul besok siang. Kelulusan itu tidak lah cukup jika tanpa biaya yang memadai. Benar.... ternyata Elsya gagal lolos seleksi beasiswa.

Sementara itu, kedua orangtua Elsya masih terdiam dalam pikiran yang rumit. Sang ayah seperti berusaha keras ingin mencari jalan keluar untuk menahan hatinya yang semakin gundah. Bagi seorang ayah, kebahagiaan anaknya adalah nomor satu. Rasanya tidak tega menatap Elsya frustasi seperti itu.

"Kita ga punya jalan lain Sya. Satu-satunya cara yaitu tunda dulu kuliahmu, cari pekerjaan buat nabung kedepannya," saran Ibu.

"Kenapa malah jadi kerja sih? Elsya kan belum siap Ma," isak Elsya.

"Kamu harus terima realita. Ga semua permintaanmu bisa terpenuhi, bahkan sebenarnya kami pun gak mampu biayain kuliah kamu. Papa cuma sektretaris camat, penghasilannya ga seberapa. Mama juga jual beras kalau ada yang mesen."

"Ma, lebih baik kita pikir dulu," tegur Papa.

"Mama udah menyarankan itu buat anak kita Paa."

"Tapi sayang banget kan? Elsya udah berjuang dalam prestasi tapi harus kerja kasar."

"Nak, kami mengerti apa maumu. Tapi kuliah tidak sama dengan SMA. Kamu bisa mencoba tahun depan, bukan berarti kamu ketinggalan dengan anak-anak yang lain."

"Elsya pengen Ma. Cuma sekarang aja semangat Elsya buat kuliah, Elsya takut keinginan ini terkubur..."

Derai air mata menderas, Elsya terisak semakin kencang.

"Kamu kenapa jadi orang yang menolak kenyataan si nak?" tanya Ibunya.

"Karena Elsya bingung harus mencari kerja dimana Ma."

"Kan Papa bisa bantu kamu nak buat cari kerja ke temen Papa," sahut Ayahnya.

"Gak Pa, Elsya masih takut kerja."

Ia langsung pergi, padahal obrolan belum selesai. Kini yang paling tertekan adalah Sang ayah. Selain kebutuhan keluarga dan tagihan pajak yang banyak, beliau juga harus memikirkan biaya kuliah anaknya.

Dan sedemikian rupa. Para orangtua terus membicarakan hal tersebut untuk menemukan jalan keluar yang terbaik.

***

Diam-diam Sang ayah memanggil tukang untuk mencabut AC di rumah. Senyuman pria paruh baya itu terukir dengan indah, karena menerima kabar pembeli melalui telpon.

Berhubungan biaya ukt kuliah Elsya sekitar 10 juta, setidaknya masih bisa dipertimbangkan lagi 1 juta. Beliau hanya bisa menjual AC dengan harga 9 juta.

Elsya mulai turun dari tangga, menemui Sang ayah yang kebetulan selesai menelpon pembeli. Mereka saling menatap dengan sayu, namun senyuman Sang ayah masih terukir tipis. Sepertinya beliau sangat kelelahan.

"Pa..."

"Hm iya?"

"Elsya pengen kerja aja."

"Kenapa tiba-tiba? Papa udah berhasil jual AC nak, nanti untuk sisanya Papa minta sama Paman kamu. Barangkali untuk kepentingan ini, Paman kamu bisa langsung bantu."

"Mungkin udah takdir Pa. Elsya emang harus menahan diri dulu."

"Sya... nanti Papa pasti akan bicarakan langsung ke pamanmu biar biaya kuliah mu terpenuhi," tutur beliau lembut.

Theory 247  ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang