05. Jejak Pertama Sebuah Cerita.
Rajendra melangkah dengan santai tapi suaranya cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh. Udara kelas masih pagi—agak dingin, agak berdebu—dan di tengah suasana itu Sadam duduk seperti biasa, tenggelam dalam dunia bukunya. Rajendra menuju ke arahnya, menaruh tas dengan bunyi thud sebelum menjatuhkan diri ke kursi sebelah.
Tanpa permisi, ia melongok ke arah buku Sadam, lalu seolah insting—menutup bukunya sebentar untuk melihat judulnya.
"Gua udah baca yang ini," katanya sok bangga.
Sadam perlahan menoleh, tatapannya seperti bilah pisau yang sedang mempertimbangkan apakah perlu menusuk, "Gua gak mau tau," katanya datar tapi tajam. "Dan gua bisa cari tau sendiri."
Rajendra mengangkat tangan, seolah mengibarkan bendera putih, lalu menenggelamkan wajahnya ke meja. Ia menatap Sadam dari samping—tidak benar-benar ingin berbicara lagi, tapi jelas gatal pengin mengganggu.
Tak lama kemudian Katsuo datang menaruh tasnya dengan lebih teratur, "Kantin gak?" tanya Katsuo.
Rajendra langsung mendongak seperti anak anjing yang diajak jalan-jalan. "Gua bosen, ayok dah," balasnya.
"Lo gak ikut Dam?" tanya Katsuo.
"Ada tsunami juga dia gak bakal gerak," kata Rajendra lalu merangkul Katsuo dan berjalan ke kantin dengan langkah yang sama.
Kantin sudah ramai, tapi mereka langsung menemukan Jordan dan Elang sedang makan dengan damai—kedamaian yang hanya bertahan sampai Rajendra datang.
"Gua gak diajak nih," katanya sambil duduk tepat di tengah, memaksa Jordan dan Elang untuk menggeser duduknya.
"Ih tai, di sono kosong!" ujar Jordan yang tetap menggeser bokongnya walaupun kesal agar Rajendra bisa duduk di tengah tengah. Sedangkan Katsuo langsung memesan makananya, dan duduk di depan mereka.
"Buset dah, demen amat lo mepet mepet sama gua Jen," lanjut Jordan.
Elang tiba-tiba berkata tanpa alasan jelas, “Hati-hati Dan.”
Dan benar—detik berikutnya Jordan kehilangan sendoknya. Rajendra menyendok makanan Jordan dan memakannya tanpa dosa. "Makanan gua itu!!" protes Jordan tidak terima.
Setelah menyendok milik Jordan, Rajendra beralih ke makanan milik Elang, "Gua coba dulu, takut ada racun," kata Rajendra.
Elang memberikan sendoknya, membiarkan Rajendra mencicipi makananya, "Nah masih hidup, berarti gak ada racun," ujar Elang mengambil kembali sendoknya.
Rajendra beranjak dari duduknya, "karena gak ada racun, gua pergi dulu," kata Rajendra.
"Lo gak makan Jen?" tanya Katsuo sebelum Rajendra melangkah.
"Gua udah sarapan." Rajendra melangkah berjalan menjauhi mereka.
"Bangsat, Jendra bangsat!" pekik Jordan.
Dengan sisa waktu sebelum bel masuk, Rajendra berjalan ke lapangan basket. Angin pagi menyapu rambutnya, dan suara pantulan bola menarik perhatiannya. Seorang gadis bermain sendirian, fokus, ritme dribble-nya rapih dan teratur.
Rajendra menangkap bola yang barusan dilemparnya, "Yo! mau satu lawan satu?" tanya Rajendra mendekatinya.
Gadis itu menatap Rajendra dengan intens, "lo yang kemarin nyariin gua kan," katanya yang masih menatap.
Rajendra mendribble bola, menimbang jarak lalu melempar—shooting bersih dan mulus. Ia menoleh lagi.
"Masih inget ternyata, Gua Rajendra," balasnya dengan mengulurkan tangan sebagai perkenalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Problematic Life [ REVISI! ]
Teen FictionSaat hidupnya masih dipenuhi deru mesin dan cahaya lampu kota, Rajendra tidak pernah membayangkan bahwa satu kabar dapat meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal. Kematian seseorang yang paling ia cintai mengguncangnya, namun sesuatu dari tragedi itu...
![Problematic Life [ REVISI! ]](https://img.wattpad.com/cover/360609421-64-k105365.jpg)