09. Reana Adelaide.
2 menit sebelum Rajendra mendapat telepon dari bokap nya.
Ponselnya terus bergetar sejak ia meninggalkan rumah bersama Rajendra, sesampainya di basecamp nya Rajendra, Rea membuka handphonenya dan sedikit terkejut setelah mengeceknya.
Sebisa mungkin Gadis itu menyembunyikan wajah terkejutnya, ia sedikit tersentak saat Katsuo menyodorkan sebuah Permen gagang rasa strawberry di hadapannya.
"Makan, dan jangan adu mulut sama Rajen," lanjutnya, Rea mengangkat bahunya acuh lalu mengambil permen tersebut.
Rea membuka bungkus permen itu dan mengemutnya, tak selang lama Ponsel Rajendra berbunyi dan terpampang nama 'Papa'. Melihat hal tersebut Rea hanya mempersiapkan ekspresi wajahnya.
"Halo pah?"
Rea terkejut melihat Ekspresi wajah temannya, "Rajen.." kata Rea menatap punggung Rajendra yang semakin menjauh, dengan gesit ia mengambil kunci motornya dan menyusuli Rajendra.
Sesampainya di tempat kejadian banyak orang yang berkerumun dan anehnya tidak ada satupun polisi di tempat kejadian itu, Gadis itu menyelinap masuk ke dalam kerumunan itu dan melihat Temannya menggenggam erat tangan milik ibunya.
Hatinya tak kalah hancur dari Rajendra karena Tante Daisy adalah orang yang berharga di hidupnya, ia sudah seperti mama kandungnya, pertama kali bertemu senyum Tante Daisy membuatnya sangat nyaman. Dan kini senyuman yang di hasilkan dari bibir indah wanita itu menjadi pucat pasi.
Rea menyelinap masuk kedalam kerumunan itu melihat Temannya menggenggam erat tangan milik ibunya, Rea menepuk pelan pundak Rajendra, "Biarin petugas mindahin dulu Jen, lo gak mau kan Tante jadi tontonan disini," ujar Rea.
Tanpa ragu, Rea berjongkok dan menunduk, menarik kepala Rajendra ke bahunya, mengelus punggungnya. Dalam pelukan itulah tangisnya pecah, butiran air mata yang selama ini tertahan akhirnya menetes, membasahi jaketnya, membiarkan rasa kehilangan yang terpendam keluar perlahan.
Rajendra menoleh dan menatap Rea "Re, nyokap gua," ucapnya.
Rea melepaskan pelan genggaman tangan Rajendra lalu mengode petugas untuk memindahkannya, Rea masih mengelus punggung Rajendra bahunya terasa basah.
Sejak kecil Rajendra sulit untuk menangis bahkan saat terluka sekali pun ia tak akan menangis, namun saat dirinya dalam pelukan seseorang Rajendra bisa mengeluarkan air matanya Rea pun tahu dan Mamanya selalu ada saat Rajendra ingin menangis.
"Udah tenang? ayo kerumah sakit," ujar Rea melepaskan pelukannya lalu melepaskan jaket miliknya dan memberikannya pada Rajendra.
Rea mengikuti Rajendra setelah memarkirkan motornya, tak lupa memberitahu Jordan untuk membawa motornya Rajendra. Dan mengabari seseorang untuk mencari informasi lebih lengkap tentang vidio yang dikirimkan padanya tadi.
Melihat Poison dkk yang sudah datang dan menemani Rajendra saat sedang di autopsi, Rea berjalan menjauh dari mereka dan disinilah dia, tangga darurat rumah sakit.
Ia menelepon seseorang dengan ekspresi wajah yang serius, setelah menelepon Rea kembali ke Rajendra dkk. Tak berselang lama Dokter yang bertanggung jawab tentang autopsi ini memanggil Rajendra wali dari mendiang Tante Daisy.
Emosinya semakin memuncak saat menyadari Om Pietro yang tidak datang dan menemani anaknya, "Dasar tua bangka," gumamnya dengan kesal.
"Sialan, gua gak nyangka," batinnya terus mengumpat karena vidio tersebut selalu terbayang bayang di benaknya.
***
Setelah pemakaman hari ini, Rea yang masih berdiri tak jauh dari Rajendra saat ini. Dan Rajendra yang tidak mengetahui bahwa Rea masih ada di pemakaman tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Problematic Life [ REVISI! ]
Teen FictionSaat hidupnya masih dipenuhi deru mesin dan cahaya lampu kota, Rajendra tidak pernah membayangkan bahwa satu kabar dapat meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal. Kematian seseorang yang paling ia cintai mengguncangnya, namun sesuatu dari tragedi itu...
![Problematic Life [ REVISI! ]](https://img.wattpad.com/cover/360609421-64-k105365.jpg)