10. Kejujuran yang Menekan.
Setelah Rajendra menutup telepon, Rea terdiam sejenak, ragu ingin mengungkapkan sesuatu. Rajendra menangkap tatapannya dan menoleh, "Kenapa?" tanyanya, suara ringan tapi penuh perhatian.
Rea bangkit dari tempat duduknya, melangkah pelan lalu mendekat. Punggungnya menyandar pada tembok pembatas gedung, matanya menatap pria yang lebih tinggi di hadapannya. "Tante Daisy, dia bukan meninggal karena kecelakaan," ungkapnya dengan suara serak tapi tegas.
Rajendra menatapnya, seolah mencoba mencerna setiap kata. Rea menarik napas dalam-dalam, menambahkan, "Bokap lo, dia berusaha sabotase hasil autopsi tante, tapi kalah cepat sama anak-anak."
"Gua juga tau siapa pelakunya," lanjutnya, menunduk sebentar sebelum menatap kembali mata Rajendra.
"Maaf, gua baru bisa bilang sekarang," bisiknya, seolah beban yang disimpannya begitu lama akhirnya terlepas.
Ungkapan demi ungkapan itu membuat Rajendra terhuyung, akhirnya terduduk lemas di lantai rooftop. Ia menggertakkan giginya saat mendengar akhir kata Rea, "Om salah satunya," lanjutnya.
Rajendra mendongak, menatap tajam gadis di depannya. Napasnya tersengal-sengal, dada naik turun dengan cepat, sementara bibir bawahnya tergigit sampai berdarah.
Rea panik melihatnya, lalu berjongkok di depannya. Kedua tangannya terulur, seolah ingin menepuk pipi Rajendra dengan lembut—namun ditepis dengan kasar.
"Kenapa lo nggak bilang dari awal?" suaranya parau, hampir pecah.
Rajendra menutupi wajahnya di sela kakinya. "Gua hampir gila, Mama satu-satunya orang yang berharga buat gua, Re. Kenapa lo baru ngasih tau sekarang?" Suaranya meninggi, emosinya hampir meledak.
Ia mendongak, memegangi kepalanya dengan kedua tangan, menatap Rea yang kini berdiri di depannya. "Gua juga baru dapat info, kalo bokap ada sangkut pautnya sama kematian Mama," ucapnya dengan nada serak.
"Karena lo bakal bertindak impulsif, dan gua nggak mau kehilangan orang yang penting buat gua lagi, Jen," Ungkap Rea menundukkan wajahnya, suaranya lirih tapi tegas.
"Lo itu penting! Lo udah gua anggap kayak abang gua sendiri. Gua nggak mau ngerasain kehilangan untuk kesekian kalinya, jadi stop!" pekiknya sesenggukan, air matanya mulai mengalir deras.
Rea berjongkok di hadapan Rajendra dan lirih berkata, "Stop bertindak impulsif untuk kedepannya!"
Melihat Rea menangis, Rajendra terkejut, Tanpa pikir panjang, ia menarik Rea memeluknya erat. Aroma familiar dan hangat itu mengingatkannya pada janji Rea saat mereka masih sepuluh tahun—tida
"Hiks, huaaa Mamaaa sakitt .." pekik Rea dengan satu lengannya menutupi kedua matanya.
Jendra yang mendengarkan pekikan dan tangisan Rea langsung berlari dengan cepat menghampirinya gadis yang lebih pendek darinya. Tangannya bergerak mengelus kepala Rea dengan lembut,"Cup cup cup, nih tanahnya udah aku injek biar dia kesakitan juga," ujar Rajen dengan menghentakkan kakinya kuat.
Rea menjauhkan lengannya melihat Jendra yang menghentakkan kakinya di tanah yang membuatnya terjatuh, "Tapi kaki aku masih sakit hiks," ucapnya menunduk memperlihatkan lututnya yang tergores.
Jendra berjongkok di depan lutut Rea dan meniup pelan lutut gadis itu, "Udah aku kasih mantra ajaib biar gak sakit lagi," katanya dengan tersenyum.
"Rea kata Mama kalo mau cepet besar itu gak boleh nangis tau," lanjutnya mendongak.
"Beneran?" tanya Rea menyedot masuk ingusnya yang akan keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Problematic Life [ REVISI! ]
Teen FictionSaat hidupnya masih dipenuhi deru mesin dan cahaya lampu kota, Rajendra tidak pernah membayangkan bahwa satu kabar dapat meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal. Kematian seseorang yang paling ia cintai mengguncangnya, namun sesuatu dari tragedi itu...
![Problematic Life [ REVISI! ]](https://img.wattpad.com/cover/360609421-64-k105365.jpg)