Saat hidupnya masih dipenuhi deru mesin dan cahaya lampu kota, Rajendra tidak pernah membayangkan bahwa satu kabar dapat meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal.
Kematian seseorang yang paling ia cintai mengguncangnya, namun sesuatu dari tragedi itu...
Rajendra menyerahkan helm biru pada Joanna. Helm itu sederhana, penuh stiker kecil yang ditempel sembarangan namun tampak penuh kenangan. Joanna menatap warnanya sebentar, bibirnya terangkat tipis.
"So sweet juga lo orangnya," ujarnya sambil memasang helm.
"Punya nyokap gue itu," balas Rajendra santai, ikut memasang helm lalu menyalakan motornya.
"Lucu," gumam Joanna, lalu naik keatas motor dengan tangannya yang menggenggam pinggang Rajendra dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang rapuh tapi berharga.
Begitu merasakan pegangan itu, Rajendra menekan gas perlahan. Angin sore berhembus, dan dunia di sekitar mereka seperti melambat—suara kendaraan, aroma jalanan, dan cahaya lampu yang jatuh di rambut Joanna, semuanya terasa magis.
"Bisa mampir bentar gak?" ujar Joanna yang tiba tiba membuka mulutnya, membuat Rajendra memelankan motornya agar suara Joanna terdengar.
"Mau ngapain?" tanya Rajendra.
"Itu tadi, mau beli itu," kata Joanna, Rajendra pun menghentikan dan meminggirkan motornya, membuka kaca helmnya lalu menoleh ke arah Joanna.
"Beli apa?" tanya Rajendra menatapnya.
Joanna menunjuk kebelakang, "Itu dari kemarin gua pengen itu!" ucapnya dengan menatap balik Rajendra yang pandangannya mengikuti arah tunjuk Joanna.
"Tunggu sini, gua beliin," kata Rajendra turun dari motornya dan berlari mendekati sebuah gerobak kecil di pinggir jalan.
Joanna menatap punggung Rajendra yang semakin menjauh, pandangannya tak lepas dari arah dimana Rajendra berlari, tak lama Rajendra kembali dengan menenteng dua plastik kresek berwarna putih kecil.
"Gua beliin 4 biar lo makin manis," ucap Rajendra memberikan kedua kantong kreseknya.
Joanna menerimanya dan tersenyum mendengar ucapan Rajendra, "bisa aja, mau gak?" kata Joanna sembari membuka salah satu kreseknya dan mengambil 1 bungkus untuk di buka.
"buat lo aja," balas Rajendra kembali menaiki motornya.
Joanna mengangguk kecil sembari membuka 1 untuk dimakan sekarang, "Pegangan, jangan asik makan," lanjut Rajendra melirik ke arah spionnya dan melihat Joanna asik memakan Rambut nenek.
Mendengar hal itu, Joanna mengulurkan salah satu tangannya dan berpegangan di jaket milik Rajendra, sedangkan tangan satunya memegang Rambut nenek yang sudah dibuka bungkusnya.
Mereka melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, dan mengantarkan Joanna dengan selamat kerumahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rajendra mendecak keras, wajahnya cemberut karena tidurnya diganggu. Ia meraih ponselnya dengan kasar dan mengangkatnya. "Ah gila! Gua lagi tidur!"
Yang terdengar hanya cekikikan ceria dari seberang. Rajendra makin kesal dan langsung menutup telepon.