1. Sebelum Gelap Menelan Nama Rajendra / POISON.
Kantin sekolah mendadak berubah seperti arena bawah tanah. Sorakan meledak dari segala arah, menggema melalui dinding-dinding yang sudah tua. Lampu flash dari kamera ponsel memotret adegan itu tanpa henti, membuat suasana semakin terang, panas, dan kacau.
Di tengah kerumunan, dua pria berdiri saling berhadapan. Nafas mereka memburu, tapi hanya satu di antara keduanya yang masih tegak tanpa goyah.
Lawan Rajendra sudah hampir tumbang. Darah mengalir dari pelipisnya, menetes ke lantai yang lengket oleh keringat dan debu. Wajahnya lebam, matanya setengah kabur. Sementara Rajendra? Seragamnya nyaris tak tersentuh. Hanya bercak darah di kepalan jarinya—bukti betapa telaknya pukulan-pukulannya.
Sorakan semakin keras, seolah seluruh sekolah menagih akhir.
Lalu seseorang masuk menembus kerumunan. Seorang pria berseragam SMA dengan topi sedikit miring, langkahnya mantap, auranya seperti seseorang yang tahu semua mata mengikuti kemunculannya. Ia berdiri tepat di antara dua petarung, mengangkat tangan Rajendra tinggi-tinggi.
"Pemenangnya… RAJENDRA!" teriaknya, dan seluruh kantin seketika bergetar oleh sorak sorai.
Rajendra sedikit menundukkan kepala, tersenyum miring. Sorot matanya tajam, dingin, tapi juga penuh kepuasan.
"Ini adil. Gua nggak maksa lo," ujarnya singkat, menunjuk lawannya yang kini hanya bisa menahan amarah dan rasa malu.
Lawan itu mendengus, rahangnya mengeras. Tanpa kata, ia berlari menjauh, mendorong kerumunan yang siap menertawainya kapan saja.
Jordan muncul dari belakang, melemparkan handuk ke dada Rajendra, "Buset, sekarat anak orang," katanya sambil geleng-geleng.
"Dia yang mulai," jawab Rajendra datar, mengusap keringat dari wajahnya. "Gua cuma beresin."
Kerumunan mulai bubar. Namun sebelum suasana sempat mereda, sebuah botol air terbang dengan kecepatan lumayan. Rajendra menangkapnya tanpa menoleh—refleksnya seperti atlet yang sudah dilatih bertahun-tahun.
Jakob bersiul kagum sambil menepuk lengan Rajendra, "Liat nih. Tenaga lo makin gila.”
Rajendra tertawa pendek, suara yang jarang terdengar. Satu per satu, anggota POISON muncul seolah adegan slow-motion: langkah mantap, tatapan tajam, aura yang membuat siswa lain otomatis memberi jalan.
Kita kenalan sama anak anak POISON dulu sini.
Rajendra San P — Senapan Mematikan.
Ketua POISON yang Lahir dengan wibawa yang tidak diciptakan—tapi ditakuti, tatapannya saja cukup buat orang berhenti ribut.
Bryan Miller — Peluru Poison.
Wakil Ketua yang punya otak paling dingin. Langkahnya tenang, pikirannya rapi. Orang pertama yang dipanggil kalau situasi hampir pecah. Kalau Bryan sudah turun tangan, berarti keadaan sudah gawat.
Elang Imanuel — Insting Murni.
Sifatnya yang alami Tidak bisa diam. Hidupnya mengikuti insting. Senyum sedikit, masalah banyak. Predator nomor satu urusan cewek.
Sadam Alverio — Penetral Liar.
Wajah bule, hati tenang. Andalan dalam menurunkan situasi Panas. Menolak jadi wakil ketua karena “ribet” tapi semua orang tahu dia salah satu yang paling disegani.
Jasper Stormwell — Peluru Poison.
Dulu merupakan musuh Rajendra. Sekarang partner yang paling nekat dan solid. sifatnya serampangan cocok banget buat mancing amarah lawan, dia orang kedua setelah Elang dalan hal menaklukkan wanita. Tidak takut apa pun, termasuk masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Problematic Life [ REVISI! ]
Fiksi RemajaSaat hidupnya masih dipenuhi deru mesin dan cahaya lampu kota, Rajendra tidak pernah membayangkan bahwa satu kabar dapat meruntuhkan seluruh dunia yang ia kenal. Kematian seseorang yang paling ia cintai mengguncangnya, namun sesuatu dari tragedi itu...
![Problematic Life [ REVISI! ]](https://img.wattpad.com/cover/360609421-64-k105365.jpg)