POISON (8)

36 16 3
                                        

08. Kejujuran yang Menekan.

Di pinggir lapangan basket, tak jauh dari kantin, Rajendra dan Joanna berdiri berhadap-hadapan. Rea menyipitkan mata, berusaha menangkap percakapan mereka dari gerak bibir masing-masing. Jordan, dengan senyum licik, memperhatikan Rea yang fokus menatap Rajendra, lalu mengibaskan tangannya tepat di depan wajahnya.

"Aduh, tangan gue," keluh Jordan, sambil mencoba menghalau pandangan Rea

Rea menatapnya sinis, bibirnya melengkung membentuk senyum manis. "Dan, lo pernah dijambak cewek nggak?" tanyanya santai. Jordan mendesis, tubuhnya kaku, tak kuasa menahan refleks menurunkan tangannya.

Beck dan Katsuo tertawa kecil, melihat Jordan membeku di tempat. "Gitu aja sawan, Dan," celetuk Beck sambil terkekeh.

"Kak, lo gapapa?" Rea menatap Rajendra, matanya lembut tapi penuh perhatian.

"Sekarang gua gimana? gapapa kan?" balasnya.

Joanna menganggukkan kepalanya pelan, "Sorry, gua baru tau dari Mora kemarin," cicit Joanna dengan kepala menunduk.

Rajendra yang melihat dan mendengar itu, hanya tersenyum kecil dan mengelus pelan kepala Joanna, "Gapapa," balas Rajendra membuat Joanna mendongakkan kepala dan menatap pria di depannya.

Joanna merogoh kantongnya berusaha mengambil sesuatu di dalam sakunya, "Nih! Gua sisain satu," ucapnya memberikan 1 bungkus rambut nenek yang kemarin di beli oleh Rajendra.

"Makan yang manis manis bisa bikin mood balik," lanjutnya.

"Yah walaupun gak semua," gumamnya pelan namun terdengar oleh Rajendra.

Rajendra mengambilnya dan terkekeh kecil, "Satu doang mana cukup buat mood gua yang lagi rusak parah," katanya dengan nada kecewa.

Joanna menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung harus menanggapinya, "yaudah, nanti gua beliin," ceplosnya.

Ia tersenyum puas, "Belinya bareng gua?" tanyanya membuat Joanna menganggukkan kepalanya.

"Jona!"

Pekik seseorang membuat yang punya nama menoleh ke sumber suara, Rajendra mengangguk pelan melihat Amora yang tak jauh dari mereka melembaikan tangannya, "Gua duluan kak," pamit Joanna berjalan menjauh darinya.

"Makasih ya," kata Rajendra tersenyum melihat Joanna yang menoleh ke belakang.

Rajendra memasukan rambut nenek ke sakunya lalu berjalan kembali ke meja teman temannya disambut dengan ekspresi wajah Rea yang sangat ingin tahu membuat Rajendra menampol pelan wajahnya.

"Kepo, lo dikelas mana?" tanya Rajendra duduk di samping Sadam.

Rea cemberut karena rasa ingin tahunya tidak di kasih makan oleh Rajendra, "Cih," desis Rea kembali duduk dan merampas pelan es jeruk yang baru dibeli oleh Jordan.

"Ambil aja re ambil!" ucap Jordan dengan nada kesalnya karena terus menerus makannya di rampas oleh gadis di sampingnya.

Rea menyeruput es jeruk hingga tersisa setengah lalu mengembalikannya ke Jordan, yang membuat Jordan semakin menatap kesal Rea.

"Sabar! orang sabar makin ganteng," katanya sembari mengelus dadanya sendiri.

"Jawab pertanyaan gua," sahut Rajendra.

Rea menatap Rajendra, "Gua sekelas sama dia," balasnya menyikut pelan lengan Beck.

Rajendra mempercepat makannya saat mendengar bel masuk berbunyi, sedangkan yang lain sudah bersiap untuk pergi dari kantin lalu bersamaan menatapnya, "Duluan," kata Rajendra menatap mereka.

Problematic Life [ REVISI! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang