POISON (7)

33 16 2
                                        

07. Suara yang Tidak Seharusnya Hilang.

Seorang lelaki berkaki jenjang itu berdiri kaku di tengah pemakaman yang sunyi. Langkah besarnya yang biasanya tegas kini kehilangan arah, terhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah merah yang masih lembap. Tubuhnya yang tegap, rahang tegas yang selalu membuatnya tampak kuat di mata banyak orang, kini tak berarti apa pun. Semua ketegasan itu runtuh digerus tatapan kosong yang seperti tak lagi memiliki tempat untuk kembali.

Mata hazelnya, yang biasanya memantulkan semangat hidup dan keberanian, kini hanya menyimpan kehampaan. Tidak ada air mata—seolah tubuhnya terlalu hancur untuk mengizinkan satu pun jatuh. Hanya ada luka yang dalam, membisu, menggantung di udara dingin pagi itu.

"Mari kita pulang," Suara pria paruh baya memecah keheningan. Sejak awal ia berdiri di samping putranya, tangan kokohnya menggenggam pundak sang anak, seolah itu satu-satunya cara ia bisa menahan dunia agar tidak sepenuhnya runtuh di depan mereka.

Namun putranya tidak bergerak. Tubuhnya tetap terpaku, seakan kedua kakinya mengakar pada tanah basah itu. Tatapannya menempel pada gundukan tanah, lalu naik pelan ke arah nisan yang baru dipasang. Hening. Bahkan napasnya pun terasa tak berani keluar dengan bebas.

"Papa pulang duluan, Nak… jangan terlalu lama," lanjut pria itu, suaranya lembut tapi penuh retakan halus. Ia tahu, dalam situasi seperti ini, kata-kata apa pun hanya akan terdengar sia-sia. Namun tetap saja, ia ingin anaknya tahu bahwa ia tidak sendirian, meski rasa kehilangan itu terasa mustahil dibagi.

Anak itu masih diam. Tak menoleh. Tak menjawab. Hanya berdiri di tengah sunyi seperti patung yang kehilangan maknanya.

Semilir angin berembus, menggoyangkan pohon tua di pinggir makam. Dahan-dahan keringnya berjatuhan satu per satu seperti serpihan musim gugur yang datang terlalu cepat. Setiap jatuhnya daun terdengar seperti gema perpisahan. Hawa dingin dari angin itu menyelinap ke tulang—bukan hanya dingin karena cuaca, tetapi dingin yang terasa mencekam, dingin yang membawa pesan bahwa hari ini alam ikut merunduk dalam duka.

Langit mulai berubah warna, dari abu-abu lembut menjadi kelabu pekat. Seolah alam mengetahui bahwa hari ini ada satu jiwa yang kehilangan rumahnya. Bahkan matahari pun tidak tampak, seperti enggan bersinar agar tidak mengganggu kedukaan manusia di bawahnya.

Angin bertiup lagi, sedikit lebih kencang. Lalu butiran air pertama jatuh. Ringan, nyaris tak terdengar. Namun dalam kesunyian itu, tetesan itu memukul tanah seperti sesuatu yang menandakan dimulainya kesedihan yang lebih besar.

Hujan mulai turun. Pelan-pelan, lalu semakin deras.

Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti mengetuk pintu memorinya menghadirkan kembali suara, senyuman, tawa, dan hangatnya pelukan yang begitu ia kenal. Kenangan yang dulu membuatnya bahagia, kini menusuk seperti serpihan kaca yang menempel di jantung. Dan ketika hujan menjadi lebih deras, air mata pertamanya pun pecah—akhirnya keluar, melebur bersama jutaan tetesan dari langit. Tidak ada yang bisa lagi ia tahan.

Lututnya melemah. Ia jatuh berlutut di depan pusara itu, tanah dingin menempel pada celana dan telapak tangannya. Kedua tangannya mencengkeram lututnya, sekuat yang ia mampu, seperti seseorang yang berusaha tetap hidup meski sedang dihantam rasa kehilangan terbesar dalam hidupnya. Ia menunduk, menekan wajahnya serendah mungkin agar tidak ada yang melihat betapa rapuh dirinya sekarang.

Dadanya terasa seperti diremas dari dalam sebuah genggaman kuat yang mencabik, menghimpit, dan tidak memberi ruang untuk bernapas. Rasanya sesak, sangat sesak, hingga ia merasa jantungnya sendiri mungkin akan berhenti kapan saja. Inilah rasa kehilangan yang nyata… rasa kehilangan yang tidak punya obat atau penghiburan.

Problematic Life [ REVISI! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang