POISON (3)

5 2 0
                                        

03. Saat Masa Lalu Menyempitkan Dada.

Lurus panjang menjadi ajang saling salip. Raden hampir menyerempet Rajendra dua kali, memaksa Rajendra miring lebih dalam dari biasanya. Sekali salah hitung saja, tubuhnya akan mencium aspal berkecepatan tinggi.

Namun malam ini, Rajendra tidak gentar.
Ia tidak datang untuk bermain aman, Ia datang untuk menyelesaikan sesuatu.

Dada Rajendra tiba-tiba terasa panas, seperti ada percikan marah yang meledak tepat di belakang tulang rusuk. Kata-kata Raden sebelumnya menggema di kepalanya, "Ternyata lo takut kalah sama gue, Jen."

Tidak.
Bukan takut.
Hanya muak.

Tikungan kedua lebih tajam. Raden mencoba memotong dari luar, teknik yang nekat atau sengaja. Beberapa penonton mundur ke belakang pagar, khawatir salah satu dari mereka akan menabrak.

Rajendra melihat celah kecil. Instingnya mengambil alih. Ia menurunkan posisi tubuh, menekuk lutut, dan menikung dengan presisi sempurna, menyalip Raden dari dalam tikungan.

Trash

Ban belakang berdecit, suara gesekan ban dan aspal seperti jeritan logam, Raden terkejut. Ia tidak menyangka Rajendra berani mengambil sudut itu.

Jasper dari kejauhan berteriak, "GILA! Itu sudut kematian woi!"

Jordan spontan menjatuhkan cimol yang baru ia pegang. "DIA MAU MATI APA!?"

Tapi Rajendra? ia Justru semakin tenang.

Kecepatan mereka meningkat. Lampu-lampu motor memantul pada rintik debu di udara, menciptakan garis-garis cahaya yang berputar seperti meteor jatuh. Mereka memasuki area gelap, bagian sirkuit yang minim penerangan. Hanya suara mesin yang memimpin arah.

Tak ada lagi sorak-sorai.
Hanya napas.
Hanya amarah.
Hanya masa lalu.

Saat mereka keluar dari area gelap, Raden kembali berusaha menyalip, kali ini lebih agresif. Stangnya hampir menabrak stang Rajendra.

Rajendra merasakan sentakan kecil. Motor bergetar, sontak membuat Bryan langsung maju satu langkah, panik. "JEN! JANGAN MAKSA!" teriaknya walaupun itu percuma karena Rajendra tidak aka mendengarkannya.

Namun Rajendra justru menarik gas lebih dalam. Ada sesuatu di matanya malam itu, bukan sekadar ingin menang. Tapi ingin membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri.
Bahwa ia bukan lagi Rajendra yang dulu.
Bukan yang bisa dipermainkan.
Bukan yang bisa ditinggalkan.
Bukan yang bisa diinjak seenaknya.

Suara mesin mencapai puncaknya.
Getarannya merambat sampai tulang.
Dada Rajendra terasa sesak oleh adrenalin dan kebencian yang bertabrakan jadi satu. Di tikungan terakhir, tikungan paling mematikan—Raden dan Rajendra sejajar.

Sama cepatnya.
Sama nekatnya.
Sama gilanya.

Tapi satu dari mereka… harus kalah.

Dan bagi Rajendra? Malam ini, kalah bukan pilihan. Ia menukik lebih rendah, memiringkan motor begitu ekstrem hingga hampir menyentuh tanah. Raden mencoba mengikuti, tapi sudut Rajendra terlalu tajam—terlalu berani—terlalu putus asa.

Ketika keluar dari tikungan, motor Rajendra melesat lebih dulu, Ia melihat garis finish. Semua suara menghilang dan waktu seakan melambat.

Lima meter

Tiga meter

Satu meter

Dan saat motornya melewati garis itu—
seluruh beban yang ia bawa pecah menjadi satu tarikan napas panjang.

Problematic Life [ REVISI! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang