Part 7

51 1 0
                                    

*Juno's POV*

"Kemana?

"Padang rumput"

"oh. have fun deh"

"iya maaf ya Jun"

"No problem vi"

Percakapan kami terputus. Entah kenapa dada ku terasa sesak saat mendengarnya. Baru kali ini Vivian menolak ajakkan ku, dan memilih pergi bersama Ken.

Sudah sejak lama aku dan Vivi menjalin tali persahabatan. Sejak kami duduk di bangku menengah pertama.

Pertama kali aku mengetahuinya saat kami di nyatakan sekelas. Saat masa MOPD, sama sekali aku tidak bertemu dengannya. Saat sekelas, aku biasa saja saat melihatnya. Namun ada hal unik yang membuatku penasaran dengan gadis itu.

Senyuman yang manis, tingkah yang lucu, dia juga agak tomboy, dia juga bukan tipe cewek yang suka bergosip atau kecentilan. Vivi adalah orang yang sederhana. Aku suka saat dia bicara. Gaya nya yang suka ceplas ceplos, membuatku tertawa dalam hati.

Waktu SMP dia gemar sekali di kuncir seperti buntut kuda. Gak pernah aku melihatnya berganti gaya kunciran yang lain.

*Flashback*

Awalnya aku malu untuk mendekatinya. Tapi...

"Eh nama lo siapa sih?" Aku terlonjak kaget dan refleks mengangkat kepalaku. Dan ternyata Vivi yang ingin menagih uang kas mingguan. Dia emang menjabat sebagai bendahara di kelasku.

"Yeh malah diem. Lo mau bayar uang kas gak?" Tanyanya sedikit sewot.

"Eh.. iya gue mau bayar. nih" Ucapku sambil memberi uang kepadanya.

"Oiya nama lo siapa? Kan gue nanya barusan. Maklum lah masih baru jadi agak lupa sama nama nama murid kelas ini." Tanyanya ketus. Aku heran kenapa dia marah marah terus.

"Juno. Gak usah sewot gitu dong, biasa aja kali" Ucapku sewot juga.

"Lagian tadi kan di tanya malah diem" Kemudian dia mulai mencatat dan berpindah ke bangku lain untuk menagih.

Aku paling semangat kalau saat di tagih uang kas sama Vivian. Aku ingin mendekatinya, tapi aku tidak punya keberanian. Aku emang pengecut.

Saat istirahat aku melihat dia sendirian di kelas. Dengan keberanian yang sudah ku kumpulkan aku mulai mendekatinya dan duduk disampingnya.

Aku lihat dia serius sekali bermain game di ponselnya. Sampe sampe dia gak sadar kalau aku ada disampingnya. Aku mempunyai ide jahil.

Sedetik kemudian aku langsung menggebrak meja dan sukses membuat dia terkejut. Kemudian aku tertawa. Dia langsung menoleh dan memberi tatapan membunuh ke arahku.

"Lo ngapain sih gebrak meja gue" Ucapnya sewot setengah mampus.

"Lo mau cari gara gara sama gue hah!" Yaampun ternyata dia serem juga ya kalau lagi marah.

"Wets gak usah sewot gitu dong. Gue cuman mau ngajakin lo ke kantin" Ucapku santai sambil nyengir gak jelas.

Dia mengangkat alisnya satu dan menatapku bingung.

"Gue gak ada maksud apa apa ko. Cuman mau ngajak aja" Ucapku menyakinkan.

"Tapi traktir" Aku terdiam. Tapi menurutku gak ada masalah. Aku langsung mengangguk setuju dan kami ke kantin. Ada rasa deg deg kan campur gugup juga sih sebenernya pas jalan ke kantin bareng Vivian.

Only YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang