Part 3

66 2 0
                                    

Aku berjalan menelusuri koridor yang mulai sepi. Hanya beberapa murid yang masih berada dilapangan. Mungkin sedang mengikuti eskul. Aku tidak berminat untuk mengikuti salah satu dari itu.

Sebenarnya Juno bersamaku, tapi dia izin untuk pergi ke kamar mandi dan menyuruhku menunggu di taman belakang sekolah. Sesampainya aku langsung duduk dibangku yang tersedia disana. Angin menyapu rambutku yang tergerai begitu saja, membuatku mengikat rambutku seperti buntut kuda agar tidak tersapu angin. Tak lama itu sebuah tangan menepuk bahuku pelan. Kupikir itu Juno.

"Sendirian aja"

"Ken?" Ternyata itu Ken, aku teringat saat bel masuk tadi, kalau ia ingin pulang bareng bersamaku. Tapi aku belum bilang ke Juno.

"Tadi gue cariin lo di kelas udah gak ada aja" Ucapnya sambil duduk di sampingku.

Aku hanya tersenyum tipis, "iya tadi gue keluar duluan"

"Terus kenapa di sini?"

"Nunggu Juno" Jawabku singkat. Memang iya aku sedang menunggunya.

Ken hanya terdiam. Dia tidak berbicara lagi. Jujur saja aku gugup saat didekatnya.

"Gak bareng sama Ellena?" Tanyanya lagi.

"Gak... dia... dia biasa bareng sama yang lain" Aduh kenapa jadi gugup begini ya. Deg deg kan gimana gitu.

Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada Juno. Disisi lain untuk menghilangkan rasa gugupku. Selama itukah dia ke kamar mandi? Apa sangat penuh di sana? Itu hanya kamar mandi sekolah, tak banyak yang ke sana jika sudah jam pulang sekolah.

"Vi" Panggil Ken pelan.

Aku memasukkan kembali ponselku dan menoleh ke arahnya.
Dan disitu mata kami bertemu. Kami tenggelam dalam tatapan itu. Mata dark-brown yang ku suka menatapku hingga aku enggan berkedip. Tatapannya yang teduh membuatku nyaman dengan itu.

Pikiran konyol mulai tumbuh di otakku. Apa setelah bertatapan kami akan berciuman? Oh God!! apa ini akan terjadi kepadaku? Seperti di film-film romantis. Setelah lamanya bertatapan sang lelaki mendekatkan wajahnya ke sang wanita, lalu di situlah mereka akan menikmati nikmatnya surga dunia.

Kalau benar, ini adalah pengalaman first kiss ku dengannya, jujur saja aku belum pernah berciuman. Aku merasa jantungku berdebar dua kali lebih cepat, yaampun kalau saja Ken dapat mendengarnya. Apa tanggapan dia setelah ini. Percayalah, saat ini pasti pipiku sudah merah seperti tomat. Malu sekali jika Ken menyadarinya.

Entah berapa lama kami bertatapan, namun tatapan Ken itu hampir membuatku meleleh.

"Vivian?" Panggil Ken lagi sambil mengibas tangannya ke depan wajaku. Itu sontak menarikku ke alam nyata.

Yaampun berpikir apa tadi aku ini. Tidak mungkin cowok se ganteng Ken akan menciumku. Aku hanya gadis tomboy biasa. Tidak ada pesonanya di mata laki-laki.
Aku beralih dari pandangannya.

Jangan ngarep Vivian.

"Iya kenapa Ken? Tadi ngomong apa?" Ucapku gugup.

"Gue belum ngomong apa-apa. Lo tadi kenapa bengong?"

Wah ternyata belum ngomong apa-apa ya si Ken? Gara-gara tatapan dengannya aku jadi salting begini di depannya. Baru tatapan, bagaimana kalau dia memegang tanganku sambil menatapku seperti tadi? Haduh pasti aku bisa pingsan berdiri.

"Oh belum ya? Terus sekarang mau ngomong apa?" Ucapku seraya meremas rok sekolahku, ngilangin rasa gugup juga sih.

"Pipi lo kok merah? Kenapa?" Ucapnya sambil menunjukkan jarinya ke pipi ku.

Only YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang