3.

672 69 27
                                        

Happy reading!!

Meeting kembali diadakan untuk pembangunan gedung apartement, bekerja sama dengan banyak pihak membuat Khaotung semakin bersemangat.
Khaotung ditunjuk untuk mendesain gedung, dengan beberapa karyawan juga dia bersaing untuk desain yang bisa di gunakan.
Meeting kali ini adalah menjelaskan desain bangunan masing-masing, Khaotung maju untuk menjelaskannya kali ini.

First dan Fei juga ada di dalam meeting tersebut, senyum keduanya merekah saat Khaotung dengan sempurna melakukan tugasnya, dia bahkan bisa menjawab semua pertanyaan para petinggi.

Fei kemudian secara tidak sengaja menolehkan kepalanya pada First, melihatnya tersenyum begitu bangga pada Khaotung membuat Fei sedikit heran, rupanya bukan Fei saja yang menyadari itu, Nana yang duduk paling belakang saja bisa melihat jika First begitu fokus pada Khaotung.
.
.
.
.

Suara denting gelas yang beradu itu menjadi awal mula acara makan makan malam antara First, Nana, dan Khaotung.
Setelah pulang dari kantor, mereka memutuskan untuk makan malam bersama di restoran tak jauh dari gedung perusahaan.

"Aku pikir desain Senior Khaotung akan terpilih."

"Tapi milik yang lain juga terlihat sangat bagus, aku sedikit kehilangan percaya diriku," balas Khaotung.

"Jangan seperti itu, selama ini kau selalu melakukan yang terbaik dan terbukti sangat memuaskan, kali ini pun pasti bisa," balas Nana lagi.

"Iya, kan Senior First?" Kali ini, Nana menolehkan kepalanya pada First, yang terlihat sibuk minum alkohol sembari memperhatikan keduanya.

"Dia tidak pernah mengecewakan."

Khaotung tersenyum mendengar pujian First, kemudian menganggukan kepalanya.

"Jika kalian percaya padaku, aku akan kembali percaya diri lagi."

Nana lalu berbicara soal pekerjaannya, berbicara dengan beberapa klien hari ini sangat melelahkan. Mereka meminta desain bangunan namun juga ingin mengubah beberapa dari mereka, Khaotung lalu menjelaskan jika ia saat awal bekerja juga seperti itu.
Tugasnya adalah merubah desain bangunan senior lain untuk klien bila seniornya sudah malas merubah desain yang dibuat. Kebanyakan memang seperti itu, daripada mengubah desain gambar lebih baik membuat yang baru.

"Itu akan membantumu belajar," sahut First.

"Dia belajar banyak dari sana, dan lihat lah sekarang. Dia akan menjadi pencipta gedung apartement Bangkok,"  sambung First.

"Apa Senior First juga seperti itu?"

First menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku menghabiskan waktu sangat lama di posisimu, karena aku tidak terlalu pandai menggambar. Jadi daripada bersaing dengan Khaotung, aku justru bersaing dengan Senior Luke untuk menjadi pekerja di lapangan."

"Tidak, sebenarnya dia juga sepertiku atau mungkin seperti Pak Fei. Tapi dia lebih senang berkeliling mencari lahan kosong, menyenangkan katanya."

Nana terlihat tertawa mendengar Khaotung berbicara soal First seolah dia yang paling tahu, pun First soal Khaotung.

"Benarkah?" Khaotung bertanya dengan sedikit gugup. "Mungkin karena kita berteman cukup lama?"

"Ini seperti kalian adalah pasangan," jelas Nana. Lalu tertawa lagi sambil meminta maaf, dia hanya bercanda.

Khaotung juga ikut tertawa, sedikit canggung sembari sesekali melirik First yang sama sekali tidak terganggu.

"Hei, kenapa tidak mengajakku kesini?"

First, Khaotung, dan Nana lalu menolehkan kepalanya pada Fei yang terlihat baru saja datang. Kantor sedang sibuk saat ini, Nana, Khaotung, dan First saja pulang dari kantornya cukup malam, sedangkan Fei jauh lebih malam lagi.

Love In The Office [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang