Happy reading!!
Khaotung bilang bahwa dia ingin diberi kesempatan untuk berbicara langsung dengan First, tanpa lewat kertas note maupun ponsel.
Jadi, First setuju untuk membiarkan Khaotung sekali lagi masuk ke dalam kondonya untuk berbicara.
Khaotung tidak berhenti menangis setelah ia memulai kalimatnya, yang tak menginginkan perpisahan tapi hari-hari perpisahan itu sudah terjadi di hari dimana Khaotung diketahui pergi ke hotel bersama Fei.
Suaranya tersendat berulang kali, wajahnya merah dan penuh oleh airmata, rambutnya berantakan karena Khaotung terus mengusapnya dengan perasaan yang campur aduk.
Suara itu terdengar menyakitkan, dimana dia sampai tersedu-sedu disela-sela bicaranya.
First pun hanya diam memperhatikan, Khaotung yang duduk dihadapannya mengeluarkan semua emosi yang ia simpan selama First memilih menghindar sejak malam itu.
Khaotung tidak ingin First menyalahpahami rasa cintanya, ia pergi pada Fei bukan karena rasa tertarik dan melihatnya sebagai pria. Khaotung tidak melakukan hal yang disebut perselingkuhan karena niatnya adalah tentang mengejar mimpinya.
"Tapi aku bisa pahami jika...jika kau begitu marah, selama ini aku tidak mau menunjukkanmu sebagai kekasihku tapi berani ke hotel untuk menemui Pak Fei. Aku mengerti."
"Jika kita tidak berpisah...." Khaotung kembali menutup wajahnya dengan lengan, menangis dengan suara sedikit keras.
"Jika kita tidak berpisah aku akan melakukan semua yang kau minta. Aku berencana untuk mencoba mengikuti keinginanmu untuk berpisah, tapi aku tidak bisa First."
First tetap diam dan Khaotung melanjutkan keluh kesahnya. Bahwa dia membersihkan semua barangnya disini sembari menangis, dia bahkan tidak mengeluarkan semua barangnya di Kondo, berpikir bahwa mereka akan kembali bersama jadi Khaotung bisa membawa tas dan kotak-kotak besar itu kembali ke Kondo First.
"Aku juga membenci diriku sendiri saat ini, kenapa aku melakukan hal yang sebenarnya membuatku kehilangan semuanya? Aku tidak berpikir bahwa aku bisa ke kantor Senin nanti, aku juga tidak bisa pergi padamu sekarang, aku juga mulai tidak percaya diri dengan desain yang aku buat. Tapi dari itu semua, hanya kau yang aku inginkan untuk kembali. Jika kau kembali, semuanya akan baik-baik saja. Benar?"
Karena sama sama tidak memiliki seseorang untuk bertukar pikiran, meminta nasehat atau semacamnya itu membuat First dan Khaotung tidak bisa menjadi lebih baik.
Keinginan Khaotung untuk menyembunyikan hubungan mereka membuat First kesulitan mencari teman bicara untuk berbicara soal mengenai ini, Nana pun tidak bisa ceritakan lebih detail tentang semuanya.
Keduanya sama sama terluka dan tidak memiliki orang lain untuk menguatkan, hanya mereka berdua yang harusnya saling menguatkan.
"Kau bisa tidur disini untuk sekarang, istirahatlah."
Khaotung tetap menangis saat First menariknya dari kursi dan dibawa ke kamarnya.
"Aku akan tidur di sofa, berhenti menangis dan tidur."
First kemudian menutup pintu kamarnya, dan berdiam diri disana cukup lama karena Khaotung masih terdengar menangis.
Tapi kemudian ia mulai pergi ke sofa kembali saat merasakan jika suara tangisan Khaotung mulai menjauh. Artinya si mantan sudah pergi ke kasur dan mencoba untuk beristirahat.
Sedangkan First? Ia hanya diam di sofa dengan pikiran berkecamuk.
Baru kemarin dan dia sudah goyah hanya dengan melihat Khaotung sebegitu rapuhnya tanpa dia?
First mungkin juga terluka saat ini, bahkan jauh lebih terluka. Tapi Khaotung terlihat lebih jauh menderita, karena selain kehilangan First ia juga kehilangan mimpinya. Khaotung menunjukkan betapa dia butuh seseorang yang menuntunnya, dibalik senyumnya yang dia tebar di kantor itu ada Khaotung yang kehilangan arah, berharap pada First untuk membantunya sedikit lebih waras.
.
.
.
.
Khaotung jatuh sakit esok paginya.
Di hari libur kerja kedua sebagai mantan kekasih, First justru disibukkan mengurus Khaotung yang memiliki demam tinggi dan muntah berulang kali.
Satu ember dengan isi lap disiapkan First disamping ranjang, supaya Khaotung bisa langsung muntah kesana tanpa harus pergi ke kamar mandi.
Subuh tadi pun Khaotung muntah di lantai kamar, tidak bisa menahannya hingga First yang membersihkan muntahan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In The Office [COMPLETED]
FanfictionSulitnya menjalin kasih dengan rekan kerja.
![Love In The Office [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/374331332-64-k637339.jpg)