12. (Ending.)

1.2K 79 24
                                        

Happy reading!!

Hari ke empat, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju lokasi kedua.
Menurut First, perjalanan kali ini memakan waktu hingga hampir 3 jam lamanya, jadi Ferm menyarankan mereka untuk berhenti sejenak di jam makan siang, apalagi Khaotung baru saja sembuh dari sakitnya jadi lebih baik menjaga kesehatannya bersamaan.

Hari ini, Khaotung bangun lebih pagi dan bersiap-siap lebih awal juga. Jadi saat dia sudah siap, barulah First dibangunkannya untuk bersiap-siap.
First semalam tidur terlambat, entah apa yang dia bicarakan dengan beberapa temannya melalui video call yang jelas pada jam 1 pagi pun Khaotung melihat First masih asyik mengobrol di
Sofa.

Saat First baru saja keluar dari kamar mandi, ia tak menemukan Khaotung di kamar hotel, namun ia malah melihat satu pasang pakaiannya ada di atas kasur lengkap dengan dalamannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara dering ponselnya.
Khaotung baru saja mengirim pesan bahwa dia turun dulu ke bawah untuk membeli kopi instan di samping gedung hotel.

First tidak membalasnya, dia hanya tersenyum kecil sembari kembali melemparkan ponselnya ke atas kasur dan menatap pakaiannya yang disiapkan Khaotung dengan senyum senyum tidak jelas.

----

Khaotung kembali ke kamar hotel setelah First selesai berpakaian. Khaotung pun tersenyum melihat First memakai pakaian yang dia keluarkan dari tas miliknya.
Kemudian, dia memuji First sangat tampan karena memakai warna pakaian yang hampir mirip dengan miliknya.
Ah, First baru menyadari jika warna pakaiannya memiliki warna yang hampir sama seperti yang dikenakan Khaotung.
First sebenarnya sedang mencoba untuk menahan diri, tidak terlalu menunjukkan bahwa dia pun sama semangatnya setelah kembali memiliki status sepasang kekasih dengan Khaotung.
Masih ada perasaan jika Khaotung harus menyadari bahwa dia dulu itu sangat terluka, makanya sejak hari dimana dia mencium Khaotung, karakternya menjadi berubah kaku dan begitu pasif.

"Terimakasih," ujar First menerima minuman kopi yang disodorkan oleh Khaotung.

Kemudian dia kembali fokus pada laptopnya, melihat kembali beberapa file soal lokasi kedua untuk ditunjukkan pada tim di lokasi nanti.
Khaotung lalu duduk disebelah First, duduk begitu dekat hingga secara perlahan-lahan Khaotung mengalungkan tangannya ke lengan First, sembari menyesap kopi miliknya dia juga ikut fokus melihat isi laptop First.
Tidak tahu saja jika saat ini First menjadi jauh lebih gugup.

Dulu sebelum berpisah memang First  yang lebih sering menunjukkan cintanya meskipun mereka hanya berduaan di Kondo. Menghadapi Khaotung yang tiba-tiba menjadi lebih agresif seperti ini jelas First merasa asing namun juga senang dalam bersamaan.

"Untuk lahannya seperti lebih bagus dari lokasi pertama, tapi kupikir Ferm tidak akan menyukai area lokasinya. Iya, kan?" Khaotung menolehkan kepalanya pada First, jarak sedekat itu jelas First bisa merasakan nafas hangat Khaotung menerpa kupingnya.

"Benar, sepertinya begitu." First lalu membawa ponselnya dari atas meja, kemudian meminta izin pada Khaotung untuk pergi sebentar menelpon paman mandor.
.
.
.
.
Setelah semuanya siap, mereka lalu berkumpul di area parkir hotel.
Nana sudah langsung menyadari pakaian Firstkhao yang sama saat ia bertemu dengan keduanya selepas keluar dari kamar, di lanjut oleh yang lainnya.
Mereka sekarang secara terang-terangan menggoda keduanya kecuali Fei, ia masih penasaran tentang kisah First dan Khaotung. Bukan karena dia cemburu sih, tapi karena dia merasa ikut andil dalam putusnya hubungan mereka bila benar sebelumya mereka pernah menjalin hubungan.

Nana juga rupanya menyadari raut wajah Fei yang tak biasanya sedikit lebih serius.
Saat dalam perjalanan menuju lokasi kedua itu, Nana kemudian bertanya tentang apakah Fei mendapatkan berita buruk hari ini?

"Memang kenapa?" Tanya Fei sembari fokus menyetir, mengikuti mobil First yang bertindak sebagai petunjuk jalan.

"Kau terlihat dalam suasana kurang baik, Pak Fei."

Love In The Office [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang