Happy reading!!
Khaotung baru saja keluar dari kamar saat mendengar suara berisik di dapur. First sedang sibuk membuat makan malam, ia pulang lebih dulu daripada Khaotung, jadi saat Khaotung baru saja datang First sudah lebih dulu sibuk di dapur.
Tanpa suara, Khaotung duduk di meja makan sembari memperhatikan punggung lebar sang kekasih yang nampak sangat fokus hingga tidak menyadari kedatangannya.
"Kapan kau disana?" Tanya First pada akhirnya, dia baru menyadari keberadaan Khaotung saat dia berbalik untuk membawa mangkuk uang sayur yang dibuatnya.
"Sudah lama," jawab Khaotung.
"Kau mau pakai cabai atau tidak sayurnya?"
"Sedikit saja, perutku sedikit tidak baik-baik saja."
First lalu pergi ke meja makan dengan dua mangkuk sayur di tangannya.
"Kenapa? Apa yang kau makan di kantor?"
Khaotung tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, menu kantin di kantor tidak ada yang aneh tapi Nana membawa cemilan pedas dan Khaotung tidak berhenti memakannya.
"Sepertinya kita tidak punya obat sakit perut, aku akan turun sebentar setelah makan."
Khaotung menganggukkan kepalanya kemudian mulai mengambil sendok untuk mencicipi sayur kuah bening buatan kekasihnya.
Tetapi kemudian, mata Khaotung tertuju pada luka luka di tangan First, ia pun segera meraih tangan First untuk dilihatnya lebih dekat.
"Aku hampir tertimpa bebatuan, tapi untungnya hanya ini yang terluka." First menjelaskan luka-lukanya tersebut sebelum Khaotung bertanya.
"Bukankah luka ini karena duri-duri dari pohon disekitar lahan?" Tanya Khaotung, memastikan kembali luka First sebelumnya yang masih terlihat belum sembuh.
"Benar, kulitku sedang tidak baik-baik saja sekarang."
Khaotung terlihat sedih, walaupun First bilang dia menyukai pekerjaannya diluar kantor, tapi Khaotung tidak terlalu suka bagaimana First berubah karenanya.
Dia jadi lebih sering terluka, masuk angin lebih mudah dan kulitnya menjadi lebih gelap.
"Kenapa? Kau khawatir?" Tanya First.
"Kau tidak mau bekerja di kantor saja?" Tanya Khaotung.
"Boleh, tapi kita harus go publik lebih dulu."
Khaotung menghela napas dan First hanya tertawa saja. First kemudian menenangkan Khaotung jika dia akan menjaga diri lebih baik lagi, jadi dia tak perlu khawatir jika nanti First pulang dengan luka baru.
Khaotung pun menganggukkan kepalanya, dan meminta First untuk berjanji akan menjaga dirinya lebih baik lagi.
"Ah, Nana memberitahuku jika Kau mengatakan padanya bahwa kau memiliki kekasih."
"Dia berpikir jika kau kekasihku?" Tanya First.
Khaotung menggelengkan kepalanya. "Entahlah, Mungkin seperti itu? Tapi aku sudah menjawab jika aku tidak punya kekasih."
"Kau mengatakan itu pada Nana?" Tanya First.
"Em, apa kau keberatan?"
First hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. "Jika menurutmu itu yang terbaik, aku tidak keberatan."
Khaotung pun tersenyum lebar mendengarnya, ia berterimakasih sekali pada First karena mau mengerti situasinya.
"Aku mencintaimu, First."
"Aku juga," jawab First.
.
.
.
.
First terlihat memasuki gedung kantor saat ini, membawa beberapa dokumen yang dimasukan ke dalam tas jinjingnya, dia terlihat rapi saat menunggu Lift yang akan membawanya ke lantai 3. Dimana Khaotung dan Fei bekerja disana, First sengaja tidak memberitahu Khaotung soal kedatangannya, ingin memberi kejutan kecil saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In The Office [COMPLETED]
FanfictionSulitnya menjalin kasih dengan rekan kerja.
![Love In The Office [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/374331332-64-k637339.jpg)