7.

590 67 35
                                        

Happy reading!!

Khaotung tidak diberi waktu untuk patah hati.
Dia harus segera menyelesaikan masalah yang dibuatnya terlebih dahulu.
Pertama, ia membawa map coklat itu ke ruangan Fei dan memberikannya pada si ketua yang terlihat lebih dingin dari biasanya.
Mereka berdua tidak bisa saling mengadukan, karena sama sama memegang sisi buruk masing-masing, dimana keduanya akan sama sama dikeluarkan secara tidak hormat jika masalah ini mencuat ke orang-orang kantor.
Jadi, mau tidak mau Fei menerima tawaran uang rugi yang diajukan Khaotung. Sengaja diperbesar dengan harapan Khaotung tidak bisa membayarnya, tapi Khaotung justru menyanggupinya bahkan meminta waktu kurang dari seminggu pada Fei bahwa dia akan melunasinya.

"Kau mungkin akan benar-benar kalah dalam rapat terakhir, kau siap?"

"Tidak masalah, saya mungkin akan sakit hati tapi itu akan saya anggap sebagai hukuman untuk diri saya, Pak."

Setelah itu ia mengucapkan terimakasih pada Fei, dan meninggalkan ruangan Fei dengan sopan.
Khaotung lalu kembali ke mejanya untuk memeriksa pekerjaan yang semakin menumpuk itu, Khaotung harus menyelesaikannya sebelum rapat tiba.
Rapat untuk penentuan siapa arsitek yang akan dipilih itu akan terjadi dua hari lagi, dan Khaotung yang seharusnya menyiapkan diri untuk rapat justru disibukkan dengan berbagi pekerjaan yang sempat dia tunda kemarin.

Khaotung bahkan melewatkan makan siang, terlalu berambisi untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
Setidaknya, hari ini dia ingin pulang lebih awal untuk berbicara dengan First sekali lagi.
Semalam, keduanya sama sama dalam keadaan kurang tenang jadi mungkin malam ini bisa dibicarakan kembali.

"Senior, aku membawakanmu susu kotak ini, jika kau menolak untuk makan siang, setidaknya minum lah sesuatu."

Nana terlihat kembali dari kantin, kemudian dengan semangat memberikan kotak susu tersebut pada Khaotung yang terlihat masih betah mengetik dan memperbaiki beberapa desain bangunan di komputer dan iPad-nya.

"Terimakasih, Nana. "

Khaotung lalu memutuskan untuk beristirahat sebentar di kursinya, melakukan sedikit peregangan tubuh dengan kotak susu dimulutnya.
Sesekali Khaotung juga melihat ponselnya, dan tidak ada pesan apapun datang dari First, bahkan pesannya tidak dibaca sama sekali oleh First.
Baru kali ini First marah sebegitu besarnya, dan Khaotung tidak memiliki pengalaman untuk belajar.

-----

Khaotung pulang ke gedung Kondo saat malam, ia sudah berusaha untuk pulang tepat waktu tapi pekerjaan tetap saja membuatnya lembur.
Kamar First adalah tujuannya saat ini, dengan membawa beberapa keresek makan malam yang ia beli dijalan Khaotung langsung pergi ke pintu Kondo First. Namun, keningnya segera mengernyit saat menyadari pintu Kondo masih terkunci, Khaotung tidak tahu jika First hari ini lembur atau tidak, biasanya kan First yang memberitahu Khaotung langsung.

Jadi Khaotung menggunakan kunci cadangan untuk masuk ke dalam Kondo.
Pertama-tama, Khaotung menyimpan makanan yang dia bawa ke meja dapur, kemudian pergi ke kamar untuk mengambil handuknya.
Dia melakukan kegiatan yang sama di Kondo ini seolah-olah mereka tidak berpisah.

Beberapa jam berlalu, Khaotung terlihat terbangun di jam 2 pagi di sofa ruang tengah Kondo First.
Khaotung terlihat menoleh kesana dan kemari, lalu memutuskan untuk pergi ke kamar berpikir jika mungkin First langsung tidur ke kamarnya karena masih marah.
Tapi, sayangnya tidak ada siapapun disana jadi Khaotung segera membawa ponselnya yang dia simpan di sofa untuk menelpon First.

Panggilan pertama, tersambung tapi First tidak mengangkatnya.
Semakin khawatir, Khaotung kembali menelpon First kali ini First memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Khaotung lalu pergi ke dinding chat yang memperlihatkan puluhan chat Khaotung yang tidak dibalas First, tapi kali ini semuanya terlihat sudah dibaca.

Love In The Office [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang