Part 9

1.3K 125 6
                                        

Sandra sampai di rumah ketika hari sudah petang. Di halaman rumahnya, tampak kedua anaknya tengah bermain dengan Bagas. Tetangganya sekaligus kakak dari Amira. Bagas seusia dengannya, jadi mereka nyambung jika butuh teman bertukar pikiran.

"Mommy!!" Justin dan Jessie berteriak bersamaan saat melihat kepulangannya. Sandra langsung mematikan motornya dan melepaskan helm yang ia kenakan. Ia segera berjongkok dan meraih tubuh si kembar ke dalam pelukannya. Sementara Bagas menyusul kedua anaknya dari belakang.

"Mommy, kenapa pulangnya telat?" Tanya Jessie dengan wajah cemberut. Gadis kecil itu dari tadi menanti kepulangannya. Dan karena ingin makan makanan Jepang tadi, Sandra jadi terlambat pulang.

"Maaf, tadi mommy ketemu teman lama mommy. Jadi kami ngobrol dan nggak kerasa udah petang."

"Padahal aku tadi nunggu mommy. Aku mau ngajak mommy beli donat. Tapi sekarang penjual donatnya pasti sudah tutup."

"Kenapa nggak minta tolong sama Grandma atau Grandpa?"

"Jessie takut kalau terlalu banyak minta makanan manis. Nanti di marahin Grandma. Katanya bikin gigi Jessie rusak."

"Kali ini mommy setuju sama Grandma. Makan manis bikin gigi kita rusak dan ompong. Jessie mau ompong?"

"Nggak mau mommy."

"Good. Kalian berdua masuk dulu. Ini sudah mau malam."

"Oke mommy!!"

"Da Om Bagaaaas!!"

Justin dan Jessie berlarian masuk ke dalam rumah sambil melambaikan tangannya pada Bagas. Pria itu berdiri di sebelah Sandra sambil membalas lambaian tangan kedua anak kembar itu.

"Kau pulang telat hari ini. Biasanya kau lebih dulu dariku?" Tanya Bagas saat keduanya saling berhadapan.

"Iya. Hari ini aku makan dulu sebelum pulang. Lapar soalnya. Oh ya Gas, terimakasih atas nasi kotaknya kemarin. Itu sangat enak dan kau tahu bukan, Jessie sangat suka makanan pemberian orang lain. Entah ada apa dengan anak itu."

Bagas dan Sandra tertawa bersamaan. Mereka berdua tahu Jessie memang sedikit menyebalkan. Berbeda dengan Justin yang penurut dan tidak pernah minta aneh-aneh. Selama beberapa bulan ini mengenal Sandra dan keluarganya, Bagas sangat nyaman bertetangga dengan mereka. Bahkan ia juga sangat akrab dengan kedua anak kembar Sandra.

"Kemarin aku dapat bonus dari tempat kerjaku karena restoran kami beberapa bulan ini sangat ramai. Maklumlah, ada beberapa tempat kos baru di sana. Jadi, pelanggan kami semakin bertambah."

"Hmmm. Aku turut senang. Mudah-mudahan selalu seperti itu."

"Ya. Aku juga berdoa seperti itu agar aku sering-sering memberikan nasi kotak pada kalian dan Jessie bisa makan dengan tenang."

Bagas dan Sandra tergelak bersamaan. Jessie memang seperti itu. Setiap bertemu, mereka lebih menjadikan Jessie sebagai bahan pembicaraan daripada Justin.

"Aku pulang dulu ya San, kamu juga pasti pengen cepat istirahat. Aku mau mandi lalu ke masjid setelahnya."

"Oke. Aku masuk dulu kalau gitu."

Sandra dan Bagas akhirnya masuk ke rumah masing-masing. Di depan pintu rumahnya, Bagas sempat memperhatikan Sandra saat masuk ke dalam rumah. Tidak bisa Bagas pungkiri, Sandra sangat cantik. Ia sudah terpesona saat pertama kali berkenalan dengan wanita itu.

Meskipun akhirnya tahu jika Sandra sudah mempunyai anak, hati Bagas tak langsung berubah. Ia bahkan sangat akrab dengan kedua anak Sandra. Meski masih ragu dengan perasaannya, tapi Bagas yakin jika ia bisa menjadi ayah yang baik untuk kedua anak Sandra seandainya kelak wanita itu menerimanya untuk menjadi pasangan hidup.

**

Marcello melangkah menuju rumah kedua orang tuanya setelah memarkirkan mobilnya di halaman. Malam ini neneknya mintanya untuk datang. Meskipun sudah tahu tujuan sang nenek, Marcello tidak menolak untuk datang.

Tiba di meja makan, seluruh keluarganya sudah berkumpul, kecuali kakak sulungnya yang berada di Amerika bersama istrinya. Neneknya duduk di ujung, sedangkan di sampingnya ada kedua orang tuanya. Sheila, adik bungsunya duduk di samping mamanya.

"Selamat malam semua. Maaf terlambat. Aku ada rapat penting tadi." Sapa Marcello saat tiba di ruang makan. Ia segera mencium pipi neneknya kemudian menyapa kedua orang tuanya dan mengelus rambut Sheila.

"Kau selalu sibuk. Bahkan mungkin cuma sebulan sekali berkunjung kemari. Mama sangat merindukan kalian semua. Edrik malah sekarang menetap di Amerika." Nana, mama Marcello tampak mengeluh. Kedua anak laki-lakinya kini sudah tinggal terpisah dan terkadang ia kesepian di rumah sendirian.

"Ma, aku kan bisa datang kapan saja mama suruh. Kalau Kak Edrik kan memang bekerja di Amerika dan istrinya juga ikut ke sana."

"Mama kenapa sih? Kan ada aku di sini. Biarin aja anak mama yang lain kerja. Biar uang papa dan mama buat Sheila aja."

Gadis yang kini duduk di bangku kuliah semester empat itu menyengir manja. Dan Nana langsung mencubit pipi anak perempuannya itu. Soni, papa Marcello hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Meskipun apa yang dikatakan istrinya itu benar, ia juga tidak ingin menekan kedua anak laki-lakinya karena sekarang keduanya sudah dewasa, bahkan Edrik sudah berumah tangga.

"Ello."

"Iya Nek."

"Nenek tadi undang kamu kemari selain karena rindu, nenek juga pengen bertanya sama kamu untuk yang kesekian kalinya. Kapan kamu menikahi Windi? Nenek sampai malu sama kedua orang tua Windi. Kamu kayak nggak ada niat gitu buat menikahi Putri mereka."

Wanita tua cerewet itu membuat Soni menghembuskan nafas berat. Ibunya dari dulu adalah wanita arogan. Bahkan dulu ia kesulitan menikah dengan Nana karena arogansi dari mamanya itu. Dirinya anak tunggal, jadi Mamanya sangat selektif. Dan kini rupanya anak-anaknya juga menjadi korban dari kediktatoran ibunya itu.

Sebenarnya Soni maupun istrinya tidak pernah memaksakan jodoh untuk anak-anak mereka. Tapi apa daya, ibunya itu terlalu pengatur dan ia sebagai ayah tidak berdaya untuk mencegah sikap arogan dari ibunya. Alhasil, Soni hanya bisa berdoa semoga pilihan anak-anaknya tepat.

"Nek, kan pas tunangan tiga tahun yang lalu aku udah bilang, kalau untuk beberapa tahun ini aku memang belum pengen nikah. Dan kayaknya dulu Windi juga menyanggupinya."

"Ello, ini udah tiga tahun. Mau nunggu sampai berapa tahun lagi. Pas tiga tahun yang lalu emang kamu masih terlalu muda. Tapi kan sekarang kamu sudah 25 tahun. Mau nunggu sampai kapan lagi?"

"Sampai aku siap Nek. Aku nggak mau memaksakan diri buat membina rumah tangga. Takutnya nanti malah jadi boomerang kalau di paksakan."

"Tapi Ello ____"

"Bu, udah. Jangan terlalu memaksakan kehendak pada Ello. Bagaimanapun juga pernikahan itu bukan urusan sepele. Ello benar, kalau terlalu dipaksa takutnya jadi boomerang."

Soni akhirnya menimbrung karena tidak tahan. Ibunya terlalu pemaksa dan ia takut itu menjadi sesuatu yang buruk nantinya. Ello terlihat tidak mencintai Windi, dan karena gadis itu pintar merayu ibunya, akhirnya Liona sedikit menekan Ello mengunakan jasa-jasa Windi selama ini yang selalu ada untuk putranya itu.

Sejujurnya Soni tidak terlalu setuju dengan pertualangan antara Marcello dan Windi. Tapi mau bagaimana lagi, ketika Marcello setuju, Soni tidak bisa berbuat banyak. Nana juga berpikiran sama. Namun terlalu takut untuk bicara karena ibu mertuanya itu sangat arogan.

"Tapi Son, ibu malu kalau orang tuanya Windi tanya. Kayak kita nggak bisa ngasih kepastian. Ini udah kejenjang pertunangan loh, bukan pacaran lagi."

"Nek, nanti biar aku bicara sama Windi. Urusan itu biar menjadi urusan kami berdua. Sekarang nenek tinggal memikirkan yayasan baru nenek sama kesehatan nenek. Urusan yang lain-lain, nenek nggak usah terlalu mikir karena takutnya malah ganggu kesehatan nenek."

"Tapi ____"

"Bu, udah. Kita makan sekarang. Kami semua sudah lapar."

Dan Liona hanya bisa menghembuskan nafas berat. Meskipun kurang puas dengan jawaban Marcello, ia urung memaksa cucunya itu karena takutnya Marcello malah tidak mau berkunjung kemari. Alhasil, ia harus menahan egonya sekali lagi dan lain kali ia harus lebih keras membujuk cucu keduanya itu agar ia tidak malu lagi di depan kedua orang tua Windi.

Memories From The Past ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang