Setelah menyelesaikan acara tatap menatap, Elora memperhatikan bagaiman caranya Elkairo bermain dengan lincah.
He's so acractive
Menyudahi acara tontonannya, Elora dan teman temannya kembali ke kelas karena bel sudah berteriak dengan keras.
"buka page 201, disana ada tiga puluh soal. Jadi masing masing dari kalian mendapatkan satu soal!"
Seluruh murid di kelas menghela nafas berat, meskipun mereka tergolong orang genius namun bukan berarti mereka tak malas, termasuk Elora.
Dengan berat hati, mereka menyelesaikan satu soal dalam sepuluh menit. Mora yang notabene nya memang pintar, ditambah Elora yang sering belajar, maka jika kepintaran keduanya di satukan sudah berada di atas level Genius.
"Pulang jam berapa si? Lama banget" Elora berbisik kepada Kasera.
"Hitungan detik juga bel bunyi" Benar saja, tak lama bel berbunyi dengan keras.
Seluruh siswa spontan berlari meninggalkan kelas.
Elora berjalan beriringan bersama Faye, Kasera, dan Pamili menuju gerbang sekolah.
Ting!
Handphone Elora bergetar, menandakan ada pesan yang masuk.
Papa.
Elora hari ini plng naik ojol saja. Sopir papa ada urusan jadi pinjam sopir mu.
Tidak penting, lagian dia sudah terbiasa mengunakan ojek online.
"Gurls! Gue duluan ya!" Faye berpamitan, dirinya menjadi orang pertama yang pulang diantara mereka ber empat.
Kepergian Faye disusul dengan Pamili, dan tekahir Kasera.
"El, lo gapapa gua tinggal sendiri? Sorry banget ya bunda minta buru buru" Kasera merasa bersalah.
"Santai aja, belom malem banget lagian"
Kasera pergi meninggalkan Elora sendirian di Halte depan gerbang. Sebenarnya Elora bisa pulang sedari tadi, namun Elora teringat bahwa anak gang kakaknya sedang berada di rumahnya.
Sebut saja, Delloras. Sebuah kelompok motor golongan SMA dan Anak Kuliah, namanya terkenal dimana-mana. Jarvis dan Davin termasuk kedalam anggota ini Delloras.
Vrom! Vroom!
Suara knalpot berisik terdengan keluar gerbang, Elora menoleh.
Lelaki berjaket kulit dengan logo Naga, Helm hitam menutupi wajahnya. Ah, tentu dengan Motor Sport berwarna senada.
Elora menyirit, apa ada yang salah dengan lelaki itu? Bukannya keren, namun berisik dengan suara knalpotnya.
"Mau diem disitus sampai kapan?" Suara berat masuk dengan lancar ke telinga Elora.
"Sampai Firaun hidup lagi" Elora menjawab ketus.
Tunggu, Elora merasa familiar dengan suara bariton tersebut.
"Mau bareng ga? Biasanya ada preman lewat sore-sore gini" Tawar lelaki tersebut.
"Lu lupa kalo gua udah ngalahin empat belas preman kemarin?"
Lelaki itu, Elkairo.
Sialnya, Elkairo lupa bahwa Elora bukan perempuan seperti Sofia The First.
"Buru elah, kesempatan ga datang dua kali" Dari pada Elora diam disini menunggu seluruh anggota Delloras pergi dari rumahnya, lebih baik Elora ikut Elkairo.
"Pegangan yang kuat"
Elora mencengkram tali ransel milik Elkairo yang bertengger di pundaknya.
Elkairo melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never and Ever
Jugendliteratur"BERANINYA KEROYOKAN! SINI MAJU LO PAK TUA, BY ONE LAH KITA!!" Tak pernah terfikirkan oleh Mora, bertemu dengan sang pemeran utama dalam keadaan yang kacau. Semuanya kacau. Bagaimana bisa plot dalam cerita tiba-tiba berubah saat ia terjebak masuk ke...
