4. family or enemy

663 27 1
                                        


Elora membuka pintu rumahnya. Hal yang perlu Elora syukuri adalah seluruh keluarganya sudah tertidur lelap, terbukti lampu di penjuru rumah yang sudah padam.

Selesai acara mengobati Lelaki yang bernama Elkairo itu, Elora langsung pamit pulang karena sudah tengah malam.
Karena Elkairo tidak membawa kendaraan, jadi dia tidak bisa menawarkan tumpangan.

Alhasil Elora pulang sendiri.

"kentut emang! Ga peka banget, masa cewek disuruh jalan sendirian jam segini?!"

Elora pergi ke kamarnya, melepaskan jaket serta menyimpan barang barang yang ia beli, lalu segera menyusul ke alam mimpi.

--

Tok! Tok! Tok!

"Non, Non Elora! Bangun non"

Ketukan dan suara dari Bi Nina membuat Elora mengakhiri mimpi indahnya, hari ini hari Minggu. Elora tadinya ingin bermalas malasan namun keluarganya memiliki tradisi untuk sarapan bersama setiap hari.

Dengan langkah yang berat, Elora berjalan ke ruang makan setelah mencuci mukanya.

"Jam segini baru bangun, lo pikir diri lo princess sampe makan aja harus di bangunin"

Wah, sepertinya beliau tidak berkaca! Sungai berwarna putih itu meninggalkan jejak di pipi Davin.

"Elap dulu iler lu, baru bisa ngomong gitu" Elora mendudukan bokongnya di kursi paling ujung.

Wajahnya berubah menjadi merah mendengar celetukan dari adik bungsunya tersebut.

"Elora, kamu itu gaboleh kayak gitu sama abang kamu sendiri. Harus sayang Elora" Tiba tiba iblis berucap, padahal dirinya tidak diajak.

"Aduh, siap mbahku" Elora malas menanggapi.

"Sudah cukup, habisi makanan kalian tanpa banyak bicara!" Perintah yang keluar dari mulut Sang Kepala Keluarga-katanya.

Semuanya menikmati sarapan tanpa ada yang membuka topik pembicaraan, meskipun suasananya sedikit mencekam.

Selesai sarapan mereka kembali ke aktivitas masing masing,

Argan yang berkutat dengan laptop bersama dengan Jessica yang tengah mengadakan rapat di Ruangan Kerja pribadi mereka.

"Kehidupan orang kaya emang begini kali ya, untung gua orang kaya"

Entah bisikan dari mana, tiba-tiba Jarvis duduk disebelah Elora yang sedang menonton film Udin dan Idin di Ruang Keluarga.

Elora menatap sinis Jarvis, dirinya bertanya untuk apa Jarvis disini padahal kan mereka musuh.

"Ruang Keluarga milik bersama, bukan milik lo doang" Jarvis seakan paham tatapan Elora.

Merasa di acuhkan, Jarvis melirik ke arah Elora. Dia melihat adik bungsunya yang perlahan sudah mulai dewasa.

"Kamu kembali"

Vroom! Vroom!

Tiba tiba terdengar suara motor sport dari arah luar.

"KAK MARVEL!"

Sialan, saat ini juga Elora benar benar ingin menggunting pita suara Alika. Suaranya melengking dengan sangat tidak merdu untuk di dengar.

Elora melirik ke arah pintu, dilihatnya Alika yang sedang memeluk Marvel. Keduanya tampak sangat bahagia.

"bahagia lah pasti, monyet bekantan sama lutung disatuin"

Marvel yang sedang memeluk Alika mengalihkan pandangannya. Disana, Elora fokus menonton tanpa memperdulikan kehadirannya.

"Beda banget?"

Davin turun dari tangga, menyaksikan kehadiran teman dekatnya.

"Perasaan kemaren lusa baru kesini, sekarang udah kesini lagi" Davin menyambut Marvel dengan tos ala mereka.

"Mungkin kak Marvel kangen sama aku kali hihi" Yang ditanya siapa, yang jawab siapa.

Bahkan suara ketawanya pun tidak anggun, malah seperti hantu yang tertawa.

Jarvis melirik ke arah Marvel, dia merasa aneh karena adiknya Elora tidak menghampiri Marvel.

Kemana kebiasaan Elora?

"El, ga nyamperin Marvel?" Pandangan Jarvis mengarah ke Elora.

"Ngapain nyamperin monyet bekantan, kayak ga ada manusia lain aja" Elora tetap fokus pada tontonannya.

Dalam fikirannya, Elora dibuat pusing. Elora tidak membaca keseluruhan inti dari novel tersebut, yang ia tau dirinya akan masuk Rumah Sakit Jiwa.

Elora tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Tumben banget ya Elora enggak ngancem aku kalo deket sama Kak Marvel" Jijik, Alika berkata dengan suara yang sedikit di besarkan agar Elora mendengar.

Namun sayang, Elora tidak mengerti bahasa Monyet.

"Gausah di hirauin, si Elora lagi caper" Davin mengusap kepala Alika.

Marvel mengunci pandangannya ke arah Elora, gadis itu berubah. Namun, bukan kah perubahannya hal yang selalu ia nanti nanti?

Elora terlalu sering mengganggu kedeketan Marvel dan Alika, namun diamnya Elora saat ini membuat seribu pertanyaan di otak kecil Marvel.

"nambah pahala gua, diem aja udah di omongin. Apalagi nanti"

Jarvis hanya diam disisi Elora tanpa mau berpindah dari posisinya.

Jarvis memang tidak bersahabat dengan Elora, namun dia hanya bersikap dingin dan tidak merespon.

Lain halnya dengan Davin, dia lebih sering melontarkan kata kata tidak pantas kepada Elora.

"Kak Jarvis kok diem aja sih" Alika bergelayut di sebelah Jarvis, menandakan dirinya sedang mencari perhatian.

Memang pada dasarnya sejak awal Jarvis tidak menerima kehadiran Alika, dia hanya diam saja.

Elora menatap Alika sinis,

"dipikir dia pemeran utama terus genrenya harem kali ya, genre haram baru bener"

Elora terus membatin dalam hati menyindir Alika.

"Elora kamu jangan iri ya sama aku, aku cuma meluk Kak Marvel sama Kak Jarvis doang kok hari ini" Alika berusaha membuat hati Elora panas.

Sudah di katakan, Elora yang dulu bukanlah yang sekarang.

"Peluk juga noh si Davin, biar satu rumah ketempelan makhluk halus" Sindir Elora.

Elora langsung pergi meninggalkan mereka semua, namun sebelum itu. Pandangan Elora dan Marvel bertemu.

Elora langsung mengacukan jari tengah di depan muka Marvel.

"Muka pas pasan sok sokan deketin dua cewek, untung satu ceweknya lagi lebih murah dari kutang gua" Sindir Elora tepat di hadapan Marvel sebelum dirinya pergi ke dalam kamarnya.

Elora membanting pintunya sebal.

"ALIKA TAI KEBOO!"

"GUA KIRA MARVEL GANTENG TERNYATA EMANG GANTENG"

Kata 'muka pas pasan' yang Elora lontarkan tidak benar adanya, namun Elora yang kelewat kesal langsung mengatakan apa yang ada dalam benaknya.
--

'welcome back to ur universe"

Never and EverCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang