12. another dream

560 37 0
                                        

Satu kata yang ingin Elora ucapkan di depan anggota Delloras, Tai.

"Gabisa mikir atau gimana sih? Gimana Elora asli ga marah. Cewek pungut tiba-tiba datang terus ngambil perhatian yang dia punya"

Elora menjatuhkan tasnya di samping nakas tempat tidurnya, Elora menjatuhkan dirinya ke atas kasur.

"Elora asli sekarang gimana ya? Ga bosen gitu, gua sih bosen hidup disini"

Matanya semakin memberat, Elora tertidur dengan seragam yang lengkap berada di tubuhnya.
--

"hei, hei kamu!"

Elora menyipitkan matanya, silau.

Perlahan Elora terbangun dan mendudukan dirinya, dimana ini? Hamparan rumput yang di kelilingi oleh bunga, serta terlihat danau di ujunnya. Membuat Elora mengedipkan matanya berkali-kali.

"Indah bukan?"

"ANJING!"

Elora terperanjat kaget, dirinya memaksa untuk melihat ke arah belakangnya.

"Kamu kaget?"

"Lo pikir gua ketawa?" Elora balik bertanya seraya menunjukan ekspresi datar.

"Hehe, maafin aku ya" Suara lembutnya menyapu kotoran di telinga Elora.

"Wajah lo-" Ucapan Elora terhenti, saking kagetnya Elora dengan situasi saat ini.

Seseorang tersebut berjalan mendekati Elora.

"Iya, mirip sama muka kamu kan?" Elora mengangguk.

"Aku Elora" Tangannya terulur menyambut Elora.

Elora membalas uluran tangannya.

"Gua Amora"

"Jadi, sekarang kita ada dimana?"

Elora melepaskan uluran tangan mereka lebih dulu.

"Perbatasan antara bumi dan dunia roh mungkin?" Jawab Elora

"Jadi gua udah mati?" Tanya Amora yang mengundang tawa Elora.

"Belum mati, bahasa halusnya anggap aja lagi mimpi" Amora mengangguk mendengar jawaban Elora.

"Kenapa gua ada disini?"

Elora terdiam, butuh waktu untuknya menjawab pertanyaan Amora.

"Ini udah waktunya aku pergi mor. Maaf banget aku udah ninggalin banyak banget tugas berat untuk kamu, ini udah waktunya kamu kembali setelah petualangan yang panjang.

Jangan pernah nanya ya kenapa aku ga balik lagi ke raga yang sekarang kamu tempatin. Aku harus udah kembali ke dunia yang seharusnya aku berada.

Aku gabisa kalo terus hidup di dunia itu, terlalu sulit karena memang itu bukan tempat dan duniaku. Aku sama sekali ga ada peran disana.

Mungkin ini kedengerannya konyol, tapi lebih konyol kalo aku ga ngasih tau ini ke kamu Mor.

Kamu harus hati hati sama orang orang yang ada di sekitar kamu, termasuk abang abang dan sahabat mu. Tapi aku bisa pastiin sahabat kamu bersih meskipun ga seluruhnya. Pake otak kamu disini, banyak permainan dalam permainan dan ada banyak teka teki disini.

Soal abang abang kamu, mereka ga sepenuhnya benci sama kamu meskipun keliatannya ga gitu. Mereka cuma kebawa bawa orang lain aja, emang dasarnya agak bodoh.

Akan ada masa dimana kamu ngerti apa yang aku maksud.

Waktu aku udah ga banyak lagi Mor, mereka udah nunggu aku. Apapun yang kamu lakuin, inget kalo aku selalu ngedukung kamu.

Elora Jéannete Miller"

Seketika cahaya yang terang benderang menusuk ke dalam mata Amora, Elora asli yang di depannya mulai menghilang tertarik masuk ke dalam cahaya tersebut.
--

Elora (jiwa Amora) seketika terbangun. Kondisinya tidak lagi sama seperti awal ia tertidur, dahinya penuh keringat, kepalan tangannya yang terasa dingin.

"Tadi itu, mimpi?"

"Tapi kalo beneran asli gimana? Masalahnya gue ga ngerti sama sekali anjir. Semua kata katanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri"

Elora melangkah pelan meninggalkan kasur yang ia pakai untuk tidur. Perlahan ia keluar dari kamarnya dan pergi turun ke ruang makan.

Langkah Elora terhenti, tatkala menyadari bahwa dirinya merasa ada yang aneh dengan tatapan keluarganya.

"Kenapa ngeliatinnya kayak gitu?" Elora memberanikan diri untuk bertanya.

'drama apa lagi kali ini jancuk'

--- to be continue ---

tenang aja, i will continue this story. gimanapun caranya aku bakal lanjutin cerita ini

Never and EverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang