IG. 14

118 14 8
                                        

Sesuai janjinya, Bayu mengajak Luna ke kantin. Ia berjanji akan mentraktir gadis itu. Tidak lupa, Revan dan Alga membuntuti mereka dari belakang.

Sesampainya di kantin, hampir semua mata langsung tertuju pada mereka.

Wajar saja, tiga pria tampan berjalan bersama Luna yang dikenal tak menonjol secara penampilan. Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya daya tarik Luna, hingga membuat ke tiga pemuda tampan itu mau berteman. 

"Kita juga ditraktir dong," ujar Alga sambil duduk berhadapan dengan Luna. Revan memilih duduk di sampingnya.

"Luna aja, abis dong uang jajan gue," keluh Bayu.

"Alah, itung-itungan banget sih lo," sahut Alga santai.

"Lo miskin, sampe minta ditraktir? Malu-maluin," timpal Revan tajam.

"Anjay, Revan!" seru Bayu sambil tertawa.

"Diem lo, gak ada yang ngajak batu ngomong," balas Alga, kesal.

Luna hanya tertawa menyaksikan kekonyolan mereka. Suasana yang canggung pun mencair karena candaan itu. 

"Aduh, gapapa deh gue temenan sama Luna, siapa tahu bisa masuk circle mereka."

"Beruntung banget Luna."

"Gabung circle mereka nggak harus good looking, kan?"

Berbagai bisikan terdengar dari sekitar mereka. Banyak yang membicarakan Luna dan ketiga cowok populer itu. Tapi, Luna dan teman-temannya memilih untuk tak peduli. Mereka lebih sibuk tertawa bersama—terutama Bayu dan Luna yang tampak paling riuh.

"Kita satu kelompok ya, Lun," kata Bayu, mengingatkan bahwa tadi di kelas guru meminta siswa membentuk kelompok untuk tugas prakarya.

"Boleh," jawab Luna dengan senyum kecil.

"Join," ujar Revan singkat. 

"Gue ikutan juga. Lumayan ada Revan... biar dia yang ngerjain," celetuk Alga dengan wajah songong khasnya.

"Boleh, tapi kita masih kurang satu orang," keluh Luna.

"Ajak aja si Manda—"

"Kalau aku ikut kelompok kalian, boleh?" tiba-tiba Sella muncul dan langsung duduk di sebelah Luna. Sikapnya membuat Luna sedikit canggung.

Suasana seketika hening. Bahkan anak-anak lain yang berada di kantin ikut menoleh penasaran ke arah mereka.

"Aku sih terserah mereka aja," ucap Luna hati-hati, melihat teman-temannya hanya diam tanpa tanggapan.

"Manda udah join," celetuk Alga santai.

"Udah full, Sel," tambah Bayu tanpa ekspresi.

Sella mengepalkan tangan di pangkuannya. Wajahnya memerah, campuran antara malu dan kesal. Ia merasa dipermalukan di depan banyak orang. 

"Seorang Sella kalah sama Luna?"

"Sella tuh kelihatan banget pick me kata gue mah."

"Astaga, kasihan Sella. Pasti malu banget."

"Cewek secantik Sella dianggurin?"

"Makin pede gue dengan wajah jelek begini."

Bisik-bisik itu terdengar dari berbagai penjuru kantin. Beberapa menahan tawa, sebagian lagi mengangkat alis, syok dengan kenyataan bahwa Sella yang dikenal cantik dan populer, baru saja ditolak masuk ke kelompok yang sama dengan Bayu, Revan, dan Alga.

Sementara itu, Luna tetap diam. Pandangannya menunduk, pura-pura sibuk memainkan sedotan minumannya. Ia tahu, hari itu namanya jadi pusat perhatian... lagi. 

"Maaf ya, Sel," ucap Luna dengan nada pelan, merasa tak enak hati.

"Gak apa-apa, Lun," balas Sella, mencoba tersenyum meski raut wajahnya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa kesalnya. 

Namun suasana yang sempat mencair kembali memanas saat Revan buka suara.

"Lagian lo aneh. Circle lo mana? Biasanya juga bareng mereka. Kenapa tiba-tiba nyelonong ke sini?" ucapnya ketus. 

Sementara itu, Alga, si tengil tak tahu waktu menahan tawanya. Tapi gagal.

"BHAHAHA!" Alga tertawa lepas, tanpa rasa bersalah.

Wajah Sella memerah, antara malu, marah, dan tak percaya. Matanya melirik Alga. 

"Sorry-sorry, gue bukan ngetawain lo... Si Bara anjing, ngirim meme barusan," ucap Alga buru-buru sambil menunjuk layar ponselnya, jelas mengarang alasan.

Ia lalu kembali fokus pada handphone-nya, pura-pura sibuk, berharap bisa mengalihkan suasana. 

Tak sanggup lagi menahan rasa malu, Sella langsung bangkit dan pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Langkahnya cepat, wajahnya menunduk, menyembunyikan rona merah yang penuh emosi.

"Revan," tegur Luna pelan, tatapannya menunjukkan rasa tak setuju.

"Revan bener, Lun, ngapain juga dia ke sini," timpal Bayu, mencoba menenangkan Luna dari rasa tak enak. 

"Tenang aja, Luna. Kalau ada yang gangguin lo, bilang aja ke gue," ujar Revan dengan nada lembut. 

Bahkan mereka yang menyaksikan kejadian itu tampak terkejut.

Revan yang dikenal tajam dan tak pernah sungkan menyindir siapa pun, justru berbicara begitu lembut saat menatap Luna.

Nada suaranya berubah, lebih tenang, lebih hangat. Seolah hanya Luna yang bisa membuat sisi itu muncul darinya.

Beberapa anak yang melihat langsung saling pandang.

"Serius itu Revan?" bisik seseorang.

"Gila sih, kalau sama Luna beda banget," sahut yang lain.

____ 

UPnya dikit dulu yaw

maaf, lama sayang2

Alga emang tengil wkwk


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

INSECURE GIRLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang