Sebuah bencana gempa bumi besar di Bandung memisahkan Leandra dan Revano-sahabat yang dipertemukan takdir sejak kecil. Bersama Kai dan Diandra, mereka menjalani persahabatan yang sederhana dan tulus, tanpa menyadari bahwa dunia kecil yang mereka ken...
Ternyata hujan baru saja turun, aku berjalan menyusuri paving block trotoar dengan daun kering yang berjatuhan diatasnya. Kalau orang bilang melamun artinya berarti pandangan kosong, aku rasa tidak seperti yang kulihat saat ini.
Aku masih bisa melihat jalanan tua yang dahulu menjadi saksi lahirnya Kota bersejarah ini, akupun melihat daun kering banyak sekali berjatuhan karena pohon-pohon disini sangat rimbun di sekeliling jalan. Tercium aroma rumput dan aspal basah yang memenuhi paru-paruku saat ini. Akupun mencium memori masa lalu yang membuahkan pertanyaan lanjutan kemudian
"Apakah aku adalah anak yang bahagia?"
Aku memang selalu salah. Aku terperangkap dalam lingkaran sikap reaktif tanpa kusadari. Setiap tindakan impulsif yang kulakukan menjadi undangan terbuka bagi orang lain untuk menumpahkan frustasi dan kegetiran hidup mereka padaku. Aku kehilangan kendali atas narasi hidupku sendiri, aku hilang arah..
Mengingat sudah 15 menit Revano tak kunjung datang, sudahlah. Aku harus mengolahnya sendiri. Kasihan bahunya, selalu kujadikan tempat menampung segala keluh kesah yang tak pernah usai. Sering kali aku merasa begitu egois, menyesakkan pundaknya dengan tangisku, sementara ia selalu diam, mendengarkan dengan sabar. Apa yang bisa aku berikan untuknya? Rasanya tidak ada.
Bahkan dalam buku diary-ku, aku seringkali menuliskan nama dan inisialnya beserta seluruh kebaikannya untukku. Apa yang ia lakukan untuk orang seperti aku. Tapi di balik semua itu, tidak ada satu pun kebaikan dariku yang layak untuk kutulis. Bukan karena aku tak ingin mencatatnya, tapi karena... memang tak ada. Tak satu pun..
Kadang aku ragu, apakah hanya aku yang merasakan perasaan seperti ini padanya? Menikmati ketergantungan bodoh yang semakin hari semakin besar rasanya. Aku semakin tenggelam dalam keterikatan yang tidak seimbang di mana aku hanya menjadi beban, sementara ia... ia tetap hadir, seolah segalanya baik-baik saja.
Aku terus menunduk, menendang-nendang kecil daun-daun kering yang berserakan di sepanjang jalan. Rasanya setiap suara yang dihasilkan oleh gesekan daun dengan paving block ini semakin mengingatkanku pada kekosongan yang menyesakkan dada. Hingga akhirnya, suara langkah lari dari belakangku memecah keheningan itu.
"Leaaaa, maaf aku telat!"
Revano menghampiriku, napasnya sedikit tersengal. "Kakakku lama banget tadi, dia pakai motor buat pergi. Aku nggak bisa ninggalin gitu aja."
"Ah.. Iya... Aku..." Kalimatku terputus dan tiba-tiba, tanpa aba-aba, Revano memelukku..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tubuhku seketika kaku, terperangkap dalam kehangatan yang begitu mendadak. Aku tersontak, jantungku berdegup kencang. Pelukan ini, sentuhan hangat yang selama ini tak pernah kubayangkan, begitu berkebalikan dengan kekosongan yang biasanya kurasakan di dalam, di sini, di dadaku..
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Detik-detik seolah melambat, dan dalam kehangatan itu, seluruh kebingunganku, kegundahanku.. Larut..
"Lea, semuanya bakal baik-baik aja, kamu yang sabar yah.."