BAB 16 - ARITMIA JANTUNG

29 6 0
                                        

Bandung, Oktober 2002

[Lea, Diandra masuk rumah sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Lea, Diandra masuk rumah sakit. Rs Melinia ruang chrysant lt.5, aku udah disini]

Pesan teks masuk ke handphoneku dari Revano, setibanya aku dirumah, tanpa aku sempat mengganti bajuku. Sungguh singkat namun membuat rasa di hatiku kian campur aduk. Jantungku serasa berhenti beberapa saat, bukan hanya karena empati semata kepada Diandra. Tapi feelingku biasanya kuat, dan aku merasa hubunganku dan Revano akan kian jauh mulai dari detik ini, meskipun aku tidak bisa menjelaskan mengapa, apa, dan bagaimana.

[Oke, Rev. Aku kesana sekarang, mau kabarin Kai dulu] Jawabku,

[Kai udah aku kabarin, Lea, dia dari sekolah langsung kesitu, nanti kamu bareng dia kesini ya, tunggu dia sms] Ujarnya singkat.

Memang Revano adalah orang yang tidak bisa panjang lebar jika ia sedang fokus terhadap suatu hal. Matanya terlalu banyak memperhatikan hal yang detail, maka saat ia fokus terhadap sesuatu, ia berusaha keras untuk tidak terdistraksi, memang begitulah dia yang aku kenal.

Aku beberapa kali bersinggungan dengan sifatnya yang satu ini, namun aku akhirnya paham, dia tidak bisa multi-tasking seperti aku. Meskipun begitu, di kepalanya ia selalu memikirkan langkah-langkah ke depan seperti sekarang ini. Revano menyuruhku bersama Kai ke rumah sakit. Ia pasti meminta Kai menjemputku agar aku tidak sendirian kesana. Aku paham, namun terkadang ego bodohku menginginkan lebih.. Aku ingin Revano yang menjemputku, bukan orang lain. Bahkan seringkali di tengah kepanikannya, dia masih selalu memikirkanku.

[Lea, Diandra masuk RS, tadi Revano kabarin aku. Tunggu dirumah ya, aku jemput, kita bareng ke RS sekarang]

Itu Kai mengirimkan pesan sms ke handphoneku.

[Iya Kai, aku tunggu, makasih ya] Jawabku singkat.

Aku pun bergegas dan bersiap ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumahku itu. Aku membuka kulkas dan mengambil beberapa buah-buahan didalamnya, beberapa kotak susu dan dua buah masker wajah pemberian kakak sepupuku dari jepang, lalu ku masukkan ke dalam paper bag baru.

Memang Diandra menyebalkan, tapi terkadang dibalik sifat manja dan menjengkelkan itu, aku kasihan padanya. Semenjak ia lulus SMP, ia sudah berhenti berkegiatan yang melelahkan fisik termasuk berhenti cheerleader. Ia hanya sibuk les dan meningkatkan kemampuan akademiknya. Revano menceritakannya kepadaku dan Kai saat kami pergi bersama pada suatu hari.

Diandra memang menyukai Revano bertahun-tahun sejak mereka masuk SMP, tapi dia adalah sahabat yang baik baginya. Aku tidak tahu perasaan Revano sebenarnya bagaimana terhadapnya, namun, prasangka ku selama ini, Revano menyukainya dan itu membuat hatiku hancur dan merasa lemah.

Banyak yang terjadi selama dua tahun ini seperti aku yang kini tengah berada di bangku SMA bersama Kinan. Dia sahabatku selama tiga tahun belakangan sejak SMP. Kami akhirnya berhasil masuk ke SMA Pelita tanpa jalur prestasi dan masuk melewati ujian umum dan nilai sekolah. Perlu jungkir balik mengejarnya seperti disibukkan dengan les-les tambahan dan membuka buku kembali dirumah setelah pulang sekolah.

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang