BAB 41 - KEHADIRAN VIRUS DI DESA [15+]

23 3 6
                                        

Pagi itu, langit membentang dengan warna-warna lembut—pink keunguan yang memudar seiring mentari pagi menguak di balik cakrawala dengan cahaya kuning keemasannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu, langit membentang dengan warna-warna lembut—pink keunguan yang memudar seiring mentari pagi menguak di balik cakrawala dengan cahaya kuning keemasannya. Kabut tipis menyelimuti lembah, berpendar lembut di antara pepohonan, memberikan kesan magis pada alam yang perlahan terbangun dari tidurnya. Udara pagi ini terasa segar, seperti oksigen yang baru saja dipanen dari daun-daun hijau sekeliling kami. Aku menghirup dalam-dalam, membiarkan setiap partikel udara menyusup ke setiap sel di paru-paruku.

Di kejauhan, bayang-bayang turbin pembangkit listrik milik warga desa terlihat berputar lambat, mengandalkan kekuatan alam untuk menyalakan kehidupan di desanya dengan listrik. Ada kebanggaan tersendiri melihat bagaimana desa ini mandiri, mengandalkan kekuatan air untuk menopang kebutuhan energi mereka.

Aku masih di sini, berdampingan dengan Revano, berbagi oksigen dari udara yang sama setelah tahun-tahun berlalu begitu saja tanpa keberadaannya. Kami berbicara sangat banyak, menjelaskan kejadian demi kejadian yang terjadi mengukir setiap lembar cerita dalam kehidupan kami—Mengenai Arunika dan Aradhana, kejadian di Langkara, kabar Kai dan Diandra selama enam tahun ini dan perihal keluarga kami masing-masing.

Namun, aku bingung. Bagaimana aku bisa menjelaskan kedekatanku dengan Kai kepada Revano? Sementara itu, hubungan di antara aku dan Revano sendiri selalu terasa ambigu. Tidak pernah ada kata-kata yang diucapkan secara eksplisit, tidak ada kepastian yang terucap, meskipun kami sama-sama tahu perasaan kami satu sama lain sejak dulu. Kami tumbuh dewasa bersama, perasaan kami berkembang tanpa pernah benar-benar diakui atau dibicarakan. Segalanya terasa menggantung, sebuah pemahaman tanpa adanya pernyataan. Lalu sekarang, bagaimana aku bisa menjelaskan kedekatan dengan orang lain, ketika hubungan kami saja masih terasa seperti teka-teki yang belum terpecahkan? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?

"Rev, kalo kamu kerja di The Time, berarti kamu di Jakarta dong? Terus kamu tinggal dimana?" tanyaku padanya

"Kalo rumah, aku masih di Bogor sih, Lea. Aku kan banyak pergi-pergi, tapi kalau gak ada kunjungan kemana-mana ya, aku tinggal sama temen kantorku di Jakarta, daerah Kelapa Gading." sahutnya menjelaskan

"Ahh.. kamu mau gak tinggal juga di apartemenku sama Kai? Diandra juga nanti pindah kesana. Kai udah duluan, kamu bisa sama dia, atau ambil apartemen sendiri. Belankangan ini, situasinya parah dan mengkhawatirkan, Rev. Aku gak mau kepisah lagi sama kamu. Ngebayangin masa-masa itu dateng lagi kayaknya aku gak bisa." pintaku sedikit memelas

"Boleh aja sih. Kayaknya habis kunjungan ini aku full di kantor deh" jawabnya

"Oh iya, aku juga belom cerita sama kamu, Rev. Aku... Hmm... Beberapa tahun kamu gak ada, aku... deket sama Kai... Meskipun kita komunikasi jarak jauh pas dia di Berkeley, kita tetep deket... aku..." belum selesai aku menjawab, Revano memotong kalimatku

"Wah! Sialan si brengs*k itu tetep jaga janjinya ternyata! Good!" ujarnya tertawa kecil namun ada kegetiran di wajahnya.

"Kamu.. emangnya kamu gak belajar pacaran gitu, Lea? Sama siapa kek! Engga, emang? Kirain udah punya berapa mantan gitu..." lanjutnya menggodaku sambil tertawa

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang