BAB 31 - LANGIT KELABU

37 5 0
                                        

Jakarta, 2 Januari 2007

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta, 2 Januari 2007

Seketika tubuhku melepaskan adrenalin dan kortisolnya sebagai respon dari kecemasan yang kini melandaku, dan itu menyebabkan beberapa reaksi fisik seperti keringat dingin dan mual. Abu dari letusan Gunung Langkara itu menghujani kota-kota, seperti salju berwarna kelabu. Belum lagi aliran laharnya berdampak ke daerah terdekat dengan lokasi gunung. Pikiran tentang Revano, Kai, Diandra, dan Kinan menjelajah dalam kepalaku. Aku menatap jendela, mendapati langit bergumul dengan gumpalan awan kelabu pekat di atas sana, abu pun berjatuhan menutupi mobil dan jalanan.

Aku duduk kembali di sofa sambil memandangi berita yang masih berlanjut di televisi. Pewarta berita terus memberikan update situasi.

"Pesawat Boeing 747-236B yang dioperasikan oleh British Airways yang terbang dalam ketinggian 11.000 meter dan dalam perjalanan dari London menuju Auckland, kini tengah berhenti secara darurat di Bandara Kuala Lumpur setelah mengalami beberapa pemberhentian, dikarenakan abu vulkanik akibat erupsi gunung Langkara ini tidak terlihat di radar cuaca pesawat. Aktivitas penerbangan lumpuh total, bukan hanya di Indonesia, melainkan berpengaruh terhadap penerbangan luar negri dan rute Internasional lain yang menuju ke Eropa dan Asia timur."

Setelahnya di layar televisiku memperlihatkan sebuah rumah sakit dengan pemandangan para pasien korban letusan gunung Langkara menderita penyakit pernapasan akut,

Saat pikiran itu menyelinap, ponselku berdering. Itu Kai.

"Lea, aku khawatir banget. Udah lihat berita? Kamu gimana?"

Aku mendengar suara beratnya, diwarnai kepanikan.

"Kai, aku di rumah. Abunya parah banget numpuk di jalanan. Langit udah gelap, tapi aku aman, Kai. Cuma sesak sedikit efek debu, kamu gimana? Gak sampai kesana kan efeknya?"

"Aku gak papa. Aku baru nonton soal Langkara tadi. Ini pernah terjadi juga tahun 80an, tapi sepertinya yang sekarang bisa lebih lama. Aku di sini gak bisa tenang, Lea. Tolong jangan keluar rumah kalau gak terlalu urgent ya. Dan kalau debunya udah masuk rumah tolong pakai masker." suara Kai terdengar penuh kekhawatiran.

"Iya Kai, aku aman kok. Kamu baik-baik disana ya." jawabku lembut

"Iya, Lea, please take care" ujarnya seraya menutup telepon.

Bersamaan dengan panggilan berakhir, aku mendapatkan pesan dari Diandra.

[Lea, kamu di Jakarta aman, kan? Aku lihat berita, abu dari Langkara udah sampai sini juga, tapi masih tipis kalo disini.]

[Aman, cuma abunya makin tebal. Di sana gimana] jawabku

[Singapore aman sih. Tapi kejadian ini persis banget kayak cerita ayahku soal Langkara. Dia bilang abunya bisa bertahan lama di udara, dan RS di sini juga udah mulai penuh sama pasien sesak napas] jawab Diandra

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang