BAB 32 - KETIKA SEMESTA BERBICARA

27 6 0
                                        

Simbaraya, 13 Januari 2007

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Simbaraya, 13 Januari 2007

Kala itu, dari sebuah desa kecil di wilayah selatan Simbaraya, yang lokasinya cukup jauh dari Gunung Langkara di utara, aku bisa melihat sebuah kilatan cahaya berwarna kehijauan yang menyala membelah langit, diiringi suara gemuruh di udara seperti petir yang dahsyat dan berkelanjutan, seolah bumi turut menjadi bagian dari resonansi yang tidak bisa kami tolak.

Abu vulkanik mulai naik merayap membentuk awan pekat yang menutupi cakrawala.

Aku dan rekan-rekan relawan lainnya berlindung ketakutan dibawah tenda-tenda darurat. Sepanjang jalan, sirine dan suara ambulans terdengar samar di kejauhan, sementara mobil BPBD perlahan melintas, memberikan instruksi lewat pengeras suara agar warga tetap berada di jalur selatan.

Langit malam dipenuhi suara gemuruh yang tak henti-henti, seperti petir yang terus menggelegar. Kami akhirnya diinstruksikan untuk naik ke dalam truk pleton dan berpindah ke balai desa yang lokasinya tidak jauh dari tenda pengungsian. Batinku dalam hati menolak hal yang menurutku adalah sebuah kemewahan ditengah kekacauan yang sedang datang merenggut harapan dari para pengungsi itu. Aku ingin bersama mereka disana, namun aku pun tahu, tugas kami akan berat dan kami harus tetap bersama-sama.

Sesaat setelah tiba, atap balai desa di mana kami berlindung terdengar suara seperti dihujani pasir yang makin lama semakin keras bunyinya bersamaan dengan kerikil kecil. Itu bukanlah suara yang nyaman untuk didengar sepanjang malam. Ketua relawan mengimbau agar kami tidak mengucek mata jika terkena abu vulkanik karena dapat menyebabkan iritasi bahkan kebutaan.

Meskipun pengungsi sudah mendapatkan tenda untuk bermalam, masih ada orang-orang yang panik berlarian menuju selatan, mencoba mencari rasa aman bagi diri mereka. Seorang ibu, menggendong anak kecil tanpa alas kaki, berjalan cepat di atas kerikil kecil yang tajam di jalanan. Di antara mereka, terdengar jeritan ketakutan, sementara getaran bumi terus terasa meski halus, memperkuat suasana tegang di setiap sudut desa.

Aku teringat pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini tadi siang, aku seperti melihat bagian dunia yang lain dari dunia yang biasa aku tinggali. "Ini seperti bukan di bumi" gumamku dalam hati. Warung-warung di sepanjang jalan telah tutup, sepi tanpa aktivitas. Jalanan yang biasanya ramai kini berubah menjadi hamparan kota mati, semua tampak kelabu tertutup abu vulkanik. Hanya ada jejak-jejak abu yang melapisi aspal dan tanah, membuatnya licin oleh pasir-pasir halus itu.

Malam semakin terasa panjang. Masker yang kami gunakan mulai terasa lembab dan seolah tidak lagi efektif. Beberapa pengungsi yang sudah berada di dalam balai desa mulai batuk-batuk lagi dengan napas tersengal-sengal, sesekali aku mendengar tangisan anak-anak yang ketakutan, ditenangkan oleh para orang tua yang juga ketakutan. Di luar, angin sesekali menghembus membawa debu dan abu, membuat suasana semakin mencekam.

"Aku gak bisa napas, mbak…" suara lirih seorang ibu terdengar dari sudut aula. Mega, salah satu sahabatku; wanita cantik berambut hitam sebahu yang cerdas dari jurusan yang sama denganku, dengan sigap mendekatinya dengan tabung oksigen, mencoba menenangkan situasi. Tapi persediaan oksigen darurat pun semakin menipis.

SENARA JINGGA [ON-GOING] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang